Publikasi A. Syafii Maarif

Resonansi
Prespektif Gatra
Jan 24 2006
Khalilzad dan Chomsky PDF Print E-mail
Tuesday, 24 January 2006

Zalmay Khalilzad, punya darah Arab, adalah duta besar Amerika Serikat di Baghdad yang fasih berbahasa Arab sejak beberapa waktu yang lalu. Noam Chomsky, siapa yang tidak kenal dengannya sebagai aktivis antiperang sejak 1060-an. Linguis ternama yang kemudian menjadi salah seorang pakar teori politik yang sangat berpengaruh pada abad ke-20. Entah berapa buku yang telah dihasilkannya. Analisisnya tajam untuk melawan setiap kemapanan, jika kemapanan itu bikin kacau dunia dan lalu lintas peradaban. 

Profesor emeritus MIT yang berusia 77 tahun ini masih tetap garang, terakhir membidik kebijakan Presiden Bush yang imperialistik. Salah satu karyanya berjudul Hegemony or Survival: America's Quest for Global Dominance. Crows Nest NSW, Australia: Allen & Unwin, 2003. Jika dia mengkritik Amerika, yang ditujunya bukanlah kaum elite dan publik, tetapi Amerika sebagai state power (kekuasaan negara) (lih hlm 4). Pada era Bush state power ini didominasi oleh kekuatan neokonservatif yang menjadikan Bush sebagai simbol utamanya. Di bawah Bush, Amerika dikucilkan, ditakuti, dan dibenci dunia.

Ada dua sumber utama yang saya gunakan untuk keperluan Resonansi kali ini. Satu, artikel Khalilzad dengan judul "Fitting the Pieces Together" dalam The Wall Street Journal, edisi Asia, 10 Jan. 2006, hlm 13. Kedua, wawancara wartawan Michael Hastings dari Newsweek dengan judul "A Tale of Two Quagmires" (edisi 9 Jan 2006, hlm 52), dengan Noam Chomsky. Tampak sekali perbedaan pandangan yang tajam antara kedua orang Amerika ini dalam membaca kebijakan Amerika di bawah Bush, khususnya terhadap Irak.

Sebagai seorang analis politik yang sudah kenyang melawan segala kebobrokan dan ketidakadilan di muka bumi, semangat Chomsky yang sudah renta itu tidak menyusut. Sebaliknya Khalilzad, sekalipun punya simpati terhadap persoalan Arab yang tak kunjung usai, dia adalah seorang pejabat Amerika yang mewakili Gedung Putih yang sekarang sedang memayungi manuver global kaum neokonservatif yang primitif untuk menguasai dunia, sekalipun pasti gagal (ikuti Resonansi sebelum ini).

Menurut Chomsky, motif Bush menjarah Irak sangat jelas, yaitu untuk menguasai sumber minyak negara itu. Klaim untuk membebaskan Irak dari tirani Saddam hanyalah dalih untuk menutup keserakahan terhadap minyak. Berikut ini sindiran tajam yang digunakan Chomsky: orang disuruh percaya bahwa Amerika telah membebaskan Irak, bahkan sekiranya produk pokoknya "adalah letis (tumbuhan yang daunnya dipakai untuk salada) dan acar dan sumber enerji utama dunia terletak di Afrika Tengah."

Jadi, sekiranya Irak tidak punya sumber energi strategis, Amerika pasti tidak akan memandang sebelah mata pada Irak. Lalu ketika ditanya tentang Bush, Chomsky mengatakan bahwa Bush hanyalah simbol, tetapi orang-orang yang ada di sekitarnya adalah "the most dangerous administration in American history".

Lain halnya dengan Khalilzad. Dubes ini sama sekali tidak mengusik hak moral Amerika untuk menyerbu Irak. Dia hanyalah menggambarkan kemajuan demi kemajuan yang telah dicapai setelah Saddam tumbang. Dilihatnya suatu proses demokrasi yang mempersatukan dan abadi, sebagai langkah pertama sedang dimulai di Irak. Semua komunitas, katanya, telah setuju bahwa pemerintahan yang dibentuk haruslah mencerminkan persatuan nasional. Syi'ah, Kurdi, dan Suni Arab mestilah terwakili dalam pemerintahan persatuan itu.

Langkah kedua, memantapkan keamanan, sebab empat dari 18 provinsi di Irak masih rawan dan rentan dari serangan pemberontak. Maka, langkah yang ditempuh adalah bagaimana mengamankan empat provinsi yang masih melawan itu melalui cara-cara politik dan operasi militer.

Langkah ketiga adalah membangun ekonomi dan infrastruktur. Setelah mengalami kemunduran di sana-sini, kata Khalilzad, kini tengah berlangsung upaya-upaya rekonstruksi, dan ekonomi mulai tumbuh. Menurut dubes ini, sekarang tujuh dari 10 rakyat mengatakan bahwa kehidupan mereka semakin membaik dan lebih dua pertiga penduduk Irak berharap bahwa segala sesuatu akan semakin membaik pada tahun-tahun yang akan datang. Amerika Serikat akan melanjutkan dukungannya untuk pembangunan kembali Irak dan akan mendorong negara-negara tetangga untuk terus membantu Irak secara ekonomi dengan cara memaafkan utangnya dan menanam investasi dalam rangka memulihkan kondisi negara itu.

Apa yang dikemukakan Khalilzad terdengar sedap-sedap saja. Amerika seenaknya meminta negara-negara Arab lain memaafkan pinjamannya kepada Irak dan mau berinvestasi di sana setelah negeri itu diluluhlantakkan oleh pasukan gabungan pimpinan Amerika. Inilah format cara berpikir negara adikuasa yang amoral.

feed0 Comments

Write comment
 
 
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger
 

security image
Write the displayed characters


busy
Last Updated ( Tuesday, 22 April 2008 )
 
Next >

Joboshare PSP Video Converter
Speed Up MAC
Autodesk Inventor 2012
Joboshare iPhone Rip
Adobe Creative Suite 5.5 Web Premium MAC
Red Giant Primatte Keyer Pro MAC
Sothink SWF Decompiler
Lynda Illustrator CS5 Essential Training
Lynda Illustrator CS5 New Features
Microsoft Access 2010
Ashampoo Cover Studio 2
Adobe Flash CS4 Professional
Autodesk Quantity Takeoff 2012
Lynda Flex 3 Beyond the Basics
Acronis Disk Director Server 10