|
Kabarnya, sepanjang sejarah perlistrikan di Indonesia, peristiwa semacam ini adalah yang pertama kali terjadi. Di bawah koordinasi M Deddy Julianto, yang saya sebut sebagai "Panglima Jawa", dan panitia lokal di bawah pengawasan Prof Dr Novirman Djamarun, Kopertis Sumatera Barat, Jambi, Riau, dibantu oleh Drs Khairuddin Kanaan dari Pemda Kabupaten Sawahlunto Sijunjung, maka digelarlah upacara syukuran itu pada 29 Januari 2006.
Tamu yang hadir tidak tanggung-tanggung: dari Jakarta, Bandung, Padang, Muaro, Solok, Sijunjung, Lintau, dan tentu saja dari Kecamatan Sumpur Kudus dengan camatnya. Nagari Silantai yang terletak sekitar dua km di utara Nagari Sumpur Kudus sebagai lokasi upacara seperti berada dalam suasana mimpi yang tak terbayangkan sebelumnya. Apalagi semula diperkirakan Menhub M Hatta Rajasa akan hadir, tetapi karena mendadak dipanggil Presiden, dia mengirim wakil dua orang staf ahli dan staf khusus, keduanya alumni ITB dengan memberikan bantuan untuk Panti Asuhan, TK, dan Cabang Muhammadiyah Sumpur Kudus.
Tamu dari Jakarta, antara lain, dua Dirjen Departemen Pendidikan Nasional: manajemen Pendidikan Dasar/Menengah dan Luar Sekolah, Rektor Universitas Negeri Jakarta, Karo Keuangan Departemen Pendidikan Nasional, staf khusus menteri Pendidikan Nasional, dua dari Departemen Perhubungan, seperti tersebut di atas, dirut Indofarma dan staf, direktur IGM (Indofarma Global Medica), mantan dirut BNI, Karo Kesra Wakil Presiden, dua orang dari Maarif Institute, puluhan dari PLN di bawah komandan Dr Ir Herman Darnel Ibrahim, salah seorang direktur PLN Pusat. Tidak ketinggalan Ir Sofyan Amin, mantan general manager PLN Sumbar, sebelum digantikan oleh Ir Sudirman MM.
Tamu-tamu yang datang tidak sekadar menghadiri syukuran, tetapi telah mengguyurkan bantuan untuk berbagai lembaga pendidikan, panti, masjid, surau, keterampilan, dan beberapa anak-anak miskin. Nilai keseluruhan bantuan, saya hitung-hitung lebih dari satu miliar rupiah, suatu angka yang terlalu amat besar bagi desa yang tersuruk itu.
Malam hari sebelum bertolak ke Silantai, Bupati Darius Apan telah menjamu dan menyediakan penginapan bagi seluruh tamu yang datang. Seperti perhelatan besar saja, bukan? Tentu bintang dalam upacara syukuran itu adalah Bung Darnel Ibrahim yang pada malam sebelumnya telah memberikan "kuliah" memukau dan juga mencemaskan tentang perlistrikan Indonesia yang, jika tidak waspada, akan menghadapi masalah yang sangat serius pada masa depan yang dekat. Sebab itu, pemerintah harus memantau betul dan mengambil langkah dan kebijakan yang tepat dalam soal listrik ini, yang pasti punya nilai politik tinggi karena melibatkan dana puluhan triliun rupiah.
Menurut Darnel, sesudah oksigen, seolah-olah listrik telah menempati posisi kedua dalam kehidupan manusia. Dari seluruh penggunaan tenaga listrik di muka bumi, Amerika adalah yang terbanyak memakainya, yaitu 27 persen, padahal penduduknya hanya 270 juta. Sisanya yang 73 persen adalah untuk bangsa-bangsa lain yang bilangannya sekitar 200 itu.
Berapa jumlah kendaraan yang "menyerbu" Sumpur Kudus hari itu? Karena berada di barisan depan, saya tidak tahu berapa jumlah iringan mobil yang mengangkut tamu ke lokasi. Kabarnya di atas 50 kendaraan. Sepintas lalu, jika orang tidak membaca informasi tentang sumbangan di atas, mungkin akan bertanya: apa-apaan ini? Tetapi setelah mencermatinya, baru akan berucap: dalam rangka membantu kawasan IDT (Inpres Desa Tertinggal) dengan memanfaatkan syukuran setahun listrik masuk desa.
Ada berita dari Silantai yang menyentuh batin kita sewaktu menyambut tamu. Bunyi talempong dan salung disertai ungkapan-ungkapan puitis khas Minang yang mengharukan digelar, tetapi hanya suara pelaku yang terdengar. Mereka disembunyikan di belakang kerumunan manusia yang berjubel. Mengapa? Novirman mengatakan karena tidak punya pakaian seragam. Malu jika dilihat tamu penting dari Jakarta. Padahal, harga pakaian mereka itu hanyalah sekitar Rp 150 ribu sampai Rp 200 ribu per orang. Sayang mereka terlambat memberi tahu sehingga tidak sempat dibelikan ke kota. Bukankah ini sebuah panorama yang membuat kita iba? Tanpa kesediaan mereka secara pribadi dalam melestarikan khazanah klasik itu, seni khas daerah itu pasti, lambat atau cepat, akan punah dimakan musim.
Bupati dalam sambutannya pada upacaya yang dipusatkan di masjid Silantai yang masih terbengkalai itu mengulangi lagi ucapannya bahwa dia tidak sanggup memasukkan listrik ke Sumpur Kudus tanpa Jakarta turun tangan. Karena perhatian Jakarta inilah PLN Sumbar bergerak cepat untuk memberi cahaya ke nagari-nagari itu sejak setahun terakhir. Dan perlu dicatat keterangan pimpinan PLN ranting Sijunjung bahwa tidak ada tunggakan masyarakat di sana dalam pembayaran rekening listrik setiap bulan. Jadi, angka 100 persen lunas adalah salah satu bentuk rasa syukur itu, bukan?
|