Publikasi A. Syafii Maarif

Resonansi
Prespektif Gatra
Apr 18 2006
Profesor Dr Mohammad Saleh Mangundiningrat (1892-1962) PDF Print E-mail
Tuesday, 18 April 2006

Diplomat-cendekiawan Nugroho Wisnumurti pada 7 April 2006 menulis surat kepada saya yang antara lain berbunyi, ''Kami Keluarga Besar Dr Saleh Mangundiningrat sangat bergembira bahwa Bapak berkenan untuk menjadi pembedah buku biografi Dr Saleh Mangundiningrat pada acara peluncuran buku Potret Cendekiawan Jawa yang akan berlangsung pada hari Sabtu tanggal 22 April 2006 di Balai Soedjatmoko, Solo. Acara akan dimulai pada pukul 18.30. Kartu undangan kami lampirkan bersama ini.'' ''Untuk Bapak dan Ibu kami telah menyediakan akomodasi di Hotel Novotel pada tanggal 22 April tersebut. Kami juga akan mengganti biaya perjalanan Bapak bersama Ibu Yogyakarta-Surakarta-Yogyakarta.'' 

Sengaja saya kutip bagian isi surat Pak Nugroho bukan untuk apa-apa, tetapi semata-mata untuk menunjukkan betapa santun dan sopannya seorang cendekiawan Jawa modern, anak bungsu Dr Saleh Mangundiningrat, kelahiran 1940, salah seorang diplomat ulung Indonesia. Saudara-saudara yang lain adalah Mr Siti Wahyunah Sjahrir, Soedjatmoko, Prof Miriam Budiardjo (lahir 1923). Wahyunah dan Soedjatmoko kelahiran Sawahlunto, masing-masing tahun 1920 dan 1922 dari ibu bernama Isnadikin, pada saat Saleh bertugas sebagai dokter pemerintah di kota arang itu. Empat beradik ini semuanya jadi orang penting di Indonesia, berkat didikan bebas yang diberikan pasangan Saleh-Isnadikin. Isnadikin wafat pada 7 Juni 1952 setelah mobilnya mengalami tabrakan dengan truk beras di Desa Peterongan. Nugroho yang saat itu berusia 12 tahun yang turut dalam mobil bersama ayahnya dan keluarga yang lain selamat, sekalipun mengalami luka. Saleh wafat 10 tahun kemudian pada 20 Oktober 1962 pada saat masih menjabat presiden Universitas Tjokroaminoto, Solo, tempat saya belajar sampai tingkat sarjana muda.

Saleh adalah di antara sedikit anak bangsa pada masa penjajahan yang bernasib baik, bahkan sangat baik. Setelah meraih gelar dokter (Indisch Arts) dari Stovia (School tot Opleiding Inlandsche Arts, Sekolah Dokter Pribumi) pada 1916, pada tahun 1929 meraih gelar doktor dalam Ilmu Kedokteran di Universitas Amsterdam dengan disertasi "Over Echinococcus" di bawah penyelia Prof Dr Noordenbosch. Siapa mengira pada masa itu, seorang Saleh kelahiran Balerejo, sebuah desa yang terletak antara Kota Madiun dan Ponorogo, akan berhasil meraih prestasi akademik tertinggi di Eropa, pada saat lebih 90 persen rakyat Indonesia masih hidup dalam ''rahmat'' buta huruf. Saleh, yang tak mau melibatkan dirinya dalam gerakan politik, baik di Negeri Belanda maupun di Tanah Air, telah mengabdikan ilmunya untuk kepentingan rakyat banyak, semula di Sawahlunto, seterusnya di Kediri, Surabaya, Manado, dan terakhir di Solo, sampai wafat.

Soedjatmoko ketika berusia 14 tahun pada suatu hari dipanggil sang ayah untuk dibekali filsafat hidup. Inilah tuturan Soedjatmoko: ''Ko, kamu sebentar lagi akan menjadi dewasa, tapi saya ingin beri tahukan sesuatu kepada kamu tentang filsafat hidup saya, yaitu 'Saya tidak mau terikat kepada benda'. Jangan kamu harapkan kalau saya meninggal bakal ada warisan (harta benda) bagi kamu. Saya mencoba memberi kepadamu pendidikan sebaik-baiknya. Sesudah itu, terserah kepada kamu dan kepada Tuhan.'' (Lih. M Nursam, Prof Dr dr Moh Saleh Mangundiningrat: Potret Cendekiawan Jawa. Jakarta: Gramedia, 2006, hlm 61). Teramat dalam nasihat ini, dan boleh jadi akan terdengar teramat asing dan mungkin menyakitkan bagi telinga mereka yang berpedoman kepada filsafat mumpungisme: mengumpulkan harta sebanyak-banyak, bila perlu dengan merampok harta negara, demi tujuh keturunan.

Saleh sewaktu wafat memang tidak punya warisan, termasuk tidak punya rumah, tetapi semua anaknya telah diberi pendidikan sebaik-baiknya, dan jadi manusia berguna bagi bangsa. Soedjatmoko di hari tuanya dikenal manusia religius. Wartawan senior Rosihan Anwar pernah mengatakan kepada saya bahwa Soedjatmoko pernah belajar shalat kepadanya. Dua manusia sebaya ini memang bersahabat sangat dekat, dan sampai batas-batas tertentu adalah ''orang-orang'' Sjahrir. Saleh jika saja mau jadi kaya raya, dengan gelar doktor yang dimilikinya pada saat populasi dokter masih sangat langka, akan dengan mudah mendapatkannya. Tetapi, sebuah filsafat hidup telah melarangnya untuk hidup dalam serbabenda.

Akhirnya, pengarang biografi ini, M Nursam, anak Bugis, sejarawan, tamatan Universitas Gadjah Mada. Sebelumnya telah menulis biografi sang anak dengan judul Pergumulan Seorang Intelektual: Biografi Soedjatmoko (2002). Keterpukauan sejarawan muda ini tidak hanya berhenti pada diri Soedjatmoko (wafat pada 1989). Dia bergerak lebih jauh untuk menapaki sejarah hidup sang ayah: Prof Dr dr Mohammad Saleh Mangundiningrat!

feed0 Comments

Write comment
 
 
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger
 

security image
Write the displayed characters


busy
Last Updated ( Tuesday, 22 April 2008 )
 
< Prev   Next >

Adobe Creative Suite 5.5 Master Collection
Autodesk Navisworks Simulate 2010 32 & 64 Bit
Alive PDF Merger
Microsoft Office Home and Business 2010 32 Bit
Autodesk AutoCAD Inventor Suite 2011
Autodesk Navisworks Simulate 2011
Apple Shake 4.1
Lynda Excel 2010 New Features
Adobe Illustrator CS5 Student and Teacher Edition MAC
ABBYY FineReader 10 Professional Edition
Adobe Illustrator CS5