|
Resonansi ini mendahului mencantumkan gelar doktor pada wartawan kawakan H Rosihan Anwar sebelum UIN Syarif Hidayatullah secara resmi mengukuhkan gelar kehormatan itu untuk tokoh ini pada 6 Mei 2006. Pada upacara itu Rosihan akan menyampaikan orasi yang bertajuk:
"Wartawan, Engkau Pahlawan Dalam Hatiku". Saya sungguh berbahagia menyambut inisiatif UIN untuk memberi penghormatan kepada anak bangsa yang begitu besar dan banyak jasanya kepada Tanah Air dan kemanusiaan melalui cara dan bidang yang ditekuninya selama puluhan tahun. Rosihan, kelahiran 10 Mei 1922 di Kubang Nan Duo (Solok), dinilai telah memberikan sumbangan besar kepada dunia jurnalistik dan komunikasi sejak usianya yang masih sangat dini.
Dalam Resonansi 16 Agustus 2005 dengan judul "Surat Ramadhan KH", di samping menyebut nama alm. Ramadhan yang patut dianugerahi Doktor H.C., saya juga menyebut nama Rosihan Anwar untuk diberi penghargaan serupa. Ramadhan telah dipanggil Allah beberapa waktu yang lalu ketika berada di Afrika Selatan, jauh dari Tanah Airnya. Alhamdulillah, UIN Syarif Hidayatullah di bawah pimpinan Rektor Prof Azyumardi Azra PhD yang energenik sangat tanggap dalam perkara ini. Mengapa perguruan tinggi lain tidak banyak yang tergerak berbuat serupa demi menyampaikan terima kasih kepada anak-anak bangsa yang memang pantas dihargai. Siapa yang tidak kenal Rosihan dengan segudang karya tulisnya, meliputi dunia jurnalistik, otobiografi (Menulis Dalam Air, 1983), biografi tokoh, pengalaman naik haji, dan banyak yang lain.
Sebagai alumnus AMS tempo doeloe, Rosihan punya akses yang luas sekali terhadap literatur dunia dalam berbagai bahasa. Barangkali hampir semua negara di muka bumi telah didatanginya. Radius pergaulannya yang menjangkau berbagai tokoh dunia, Timur dan Barat, telah menjadikan seorang Rosihan sebagai seorang yang kaya dalam wawasan, khazanah, dan kearifan. Entah sudah berapa puluh presiden dan orang penting dunia telah diwawancarainya. Cemeehnya yang kadang-kadang mencuat sebagai warisan budaya Minang haruslah dipandang sebagai intermezo dalam pergaulan. Kalau kami sudah berdekatan duduk, ungkapan-ungkapan cemeeh ini sering berhamburan, sesuatu yang saya nikmati.
Dalam Menulis Dalam Air (hlm 237), di antara bentuk cemeeh itu terbaca: "Pengalaman dalam mewawancarai orang Indonesia tentu lain pula [dibandingkan dengan orang asing]. Kalau bertemu dengan orang-orang articulate, yang pandai mengeluarkan buah pikiran, sudah barang tentu tidak terdapat banyak kesukaran. Tetapi, kalau berhadapan dengan orang yang bergelemakpeak alam pikirannya, mempergunakan bahasa Indonesia buruk dengan kalimat-kalimat tidak logis, maka timbul persoalan besar bagaimana menulis wawancara baik." Bergelemakpeak, bahasa Minang, berarti tak karu-karuan, tak jelas ujung-pangkalnya. Ini adalah cara Rosihan membidik bahasa Indonesia sebagian pejabat yang memang agak parah.
Rosihan, yang juga tampak rendah hati dalam tulisannya, tidak malu-malu mencemeehkan diri sendiri. Kesaksian dalam Menulis Dalam Air (hlm 240), kita baca: "Wawancara-wawancara yang dimuat dalam majalah-majalah seperti Tempo, Prisma, menunjukkan kadar keahlian yang begitu tinggi sehingga bila dibandingkan dengan tulisan wawancara yang saya buat, pasti akan membuat malu. Tetapi itu wajar sekali. Suatu generasi baru wartawan Indonesia telah maju ke depan, sedangkan saya termasuk outgoing generation, angkatan lah laruik sanjo". Angkatan laruik sanjo adalah generasi yang akan meninggalkan gelanggang lantaran berlomba dengan usia lanjut.
Di era Demokrasi Terpimpin (1959-1966), Rosihan adalah kolumnis tetap dalam majalah Gema Islam dengan nama samaran Haji Waang. Tulisannya pasti menarik, bermuatan dakwah, tetapi jangan lupa cemeeh sering muncul di dalamnya sebagai salah satu cara Rosihan menyikapi keadaan politik yang serba panglima saat itu. Dengan ingatan yang kuat, Rosihan sangat kaya sumber, sehingga penanya mengalir bak air, bergelombang penaka ombak, sekalipun ia masih agak gagap menggunakan komputer.
Di usianya yang sudah lanjut, karya-karyanya ditulis dengan menggunakan mesin tik yang memang lebih akrab dengannya selama puluhan tahun sampai detik ini. Akhirnya sebagai generasi yang sedikit lebih muda, sekalipun sudah sama-sama berada kategori laruik sanjo, saya menyampaikan rasa syukur yang dalam kepada Allah yang telah menggerakkan UIN memberi penghormatan kepada abang dan sahabat saya, Dr H Rosihan Anwar. Berbahagialah Pak Rosihan bersama keluarga dengan penganugerahan UIN ini, sekalipun juga harus mengeluarkan biaya. Semoga tetap sehat, panjang umur, dan terus berkarya.
|