Publikasi A. Syafii Maarif

Resonansi
Prespektif Gatra
May 16 2006
FF: Teori Vs Praksisme PDF Print E-mail
Tuesday, 16 May 2006

Tidak ada yang salah bila para pakar mengatakan bahwa the founding fathers (FF, para pendiri) bangsa dan negara ini adalah orang-orang yang hebat secara intelektual serta punya dedikasi yang tinggi untuk memperjuangkan kemerdekaan.

Sebagai buah dari Perang Dunia (PD) II dengan kekalahan pahit bagi fasisme Jerman-Italia-Jepang oleh pihak sekutu, negara-negara terjajah berpeluang untuk merdeka. Indonesia di bawah pimpinan FF adalah di antara bangsa yang sigap dalam mengambil peluang itu. Sekalipun FF datang dari berbagai aliran politik yang tidak selalu sejalan, bahkan sering berkonflik dalam strategi merebut kemerdekaan, tokh akhirnya Indonesia merdeka juga. Tentu konstelasi politik dunia punya pengaruh juga dalam mempercepat tercapainya kemerdekaan itu. Tetapi, tanpa adanya respons kreatif dan piawai dari FF, bisa jadi Indonesia masih menanti waktu untuk merdeka.

Namun, kita juga harus jujur dalam membaca kelampauan kita. FF yang terdiri atas para pemikir dan praktisi yang penuh dedikasi itu belum tentu selalu dewasa dalam kecerdasan emosional. Tidak jarang mereka saling mengancam dalam menangani perbedaan-perbedaan pandangan politik. Menjelang dan di era pascaproklamasi, Soekarno, Hatta, dan Sjahrir pernah diculik, Tan Malaka malah dibunuh, Amir Sjarifuddin karena memberontak juga harus dihukum mati, sementara Musso, teman Amir, juga mati secara memilukan. Mereka ini semua adalah anggota FF, sekalipun Musso terlalu lama berada di luar negeri akibat pemberontakan komunis pada 1926/'27 terhadap kekuasaan kolonial.

Kecuali dari aliran komunis, FF ini relatif sepakat bahwa demokrasi harus menjadi hari depan Indonesia: Demokrasi politik dan demokrasi sosio-ekonomi. Karena demokrasi telah menjadi pilihan, maka prinsip daulat rakyat harus lebih mengemuka, bukan daulat tuanku. Di antara FF yang paling lantang berteriak tentang masalah ini adalah Hatta dan Sjahrir dengan PNI (Pendidikan Nasional Indonesia) yang dibentuk setelah PNI-Soekarno dibubarkan Sartono awal tahun 1930-an.

Menjelang proklamasi, FF dengan dipelopori Soekarno, dirumuskanlah sebuah filosofi bangsa dan negara dalam format Pancasila, sebuah capaian intelektual otak Indonesia yang brilian, sekalipun urutan silanya semula diperdebatkan sebelum format yang sekarang disepakati. Jika hanya terbatas pada proses adu otak dalam mempertemukan pendapat, tidak ada masalah. Itulah demokrasi dalam bentuk yang otentik dan konkret.

Tetapi, orang tidak boleh lupa bahwa di kalangan FF sendiri di era pascaproklamasi tidak saja telah saling mengancam, tetapi bahkan berupaya untuk saling meniadakan. Sjahrir dan Hatta serta beberapa pemimpin Masyumi dan PSI tersingkir. Sjahrir bahkan harus mengakhiri hidupnya di Swiss pada 9 April 1966 setelah ditahan beberapa tahun oleh rezim yang dipimpin oleh salah seorang tokoh puncak FF. Setelah Sjahrir menjadi mayat jauh di rantau, penguasa lalu cepat-cepat mengangkatnya sebagai Pahlawan Nasional.

Pertunjukan apa namanya ini? Soekarno sendiri juga beberapa kali mau dibunuh oleh kekuatan-kekuatan destruktif dalam masyarakat Indonesia. Pada saat wafatnya pada 20 Juni 1970, Soekarno masih berada dalam tahanan rezim yang lain lagi yang tidak kurang otoritariannya. Inilah di antara tragedi Pancasila dalam praktik. Sila kedua dalam formula ''kemanusiaan yang adil dan beradab'' karena gesekan politik kekuasaan telah diubah dalam praktik menjadi ''kemanusiaan yang zalim dan biadab''. Ini fakta keras dalam sejarah kontemporer Indonesia yang tidak dapat dibantah oleh siapa pun.

Beberapa anggota FF yang dipenjarakan tanpa proses pengadilan oleh tokoh FF yang berkuasa, sesungguhnya terjawab dengan kalimat ini: ''Aku seorang yang suka memaafkan, akan tetapi aku pun seorang yang keras kepala. Aku menjebloskan musuh-musuh negara ke balik jeruji besi, namun demikian aku tidak sampai hati membiarkan burung dalam sangkar.'' (Lihat Rosihan Anwar, In Memoriam: Mengenang Yang Wafat. Jakarta: Kompas, 2002, hlm 11, yang mengutip tuturan Bung Karno dalam otobiografi sebagaimana yang diceritakannya kepada Cindy Adams).

Dalam perspektif Pancasila, apakah Sjahrir, Natsir, Prawoto, Soebadio, Anak Agung Gde Agung, Roem, Burhanuddin Harahap, Sjafruddin, Kasman, Mochtar Lubis, Hamka, Imron Rosjadi, Isa Anshary, Yunan Nasution, dan masih banyak yang lain, yang pernah meringkuk dalam penjara, adalah musuh-musuh negara? Inilah di antara tragedi Pancasila dengan sistem nilainya yang serba luhur dan yang sering dimuliakan dalam kata, tetapi dikhianati dalam perbuatan. Doktrin yang dikemas dalam jubah yang serba elok, dalam praksisme tidak jarang berubah menjadi pertunjukan kekejaman dan kesewenang-wenangan. Demokrasi tanpa sikap lapang dada dan rasa tanggung jawab tidak akan mendekatkan bangsa ini kepada tujuan kemerdekaan.

Apa pesan yang hendak disampaikan oleh Resonansi ini? Sangat sederhana: Mari kita baca sosok FF secara komprehensif, jujur, empati, tetapi kritikal. Bukan untuk apa-apa, tetapi semata-mata agar kita mampu berpikir jernih dan adil, demi cinta kita kepada Indonesia sebagai bangsa muda yang baru berusia 84 tahun dan sebagai negara kurang sedikit dari 61 tahun.

feed0 Comments

Write comment
 
 
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger
 

security image
Write the displayed characters


busy
Last Updated ( Tuesday, 22 April 2008 )
 
< Prev   Next >

Joboshare MPEG to DVD Converter
Red Giant Trapcode Sound Keys MAC
3D Image Commander MAC
FileMaker Pro 9 Advanced for Mac
Adobe Creative Suite 3 Design Premium for Mac
Autodesk AutoCAD Inventor Professional Suite 2010 32 & 64 Bit
Microangelo Toolset 6
Lynda Illustrator CS4 One-on-One Mastery
Bigasoft DVD to iPod Converter
PSP Neon MAC
QRecall MAC