Publikasi A. Syafii Maarif

Resonansi
Prespektif Gatra
May 26 2006
SBY-Kalla dan Legitimasi Sosial-Moral PDF Cetak E-mail
Friday, 26 May 2006

Pemilu langsung 5 Juli 2004 telah mengantarkan SBY-Kalla untuk menjadi Presiden/Wakil Presiden periode 2004-2009 dengan kemenangan yang sangat signifikan. Di atas 60 persen suara telah mengalir kepada pasangan ini. Dengan demikian, legitimasi konstitusionalnya mantap sekali, dibandingkan misalnya dengan perolehan suara Bush di term pertama yang sangat tipis melawan Al Gore, sehingga harus dibawa ke pengadilan. 

Sekalipun dengan modal kemenangan tipis itu, Bush telah mengobrak-abrik dunia dengan politik imperialistiknya. Bush adalah seorang yang decisive (berani ambil keputusan) dan keras kepala. Irak sampai hari ini masih jauh dari suasana aman; slogan demokratisasi negeri 1001 malam ini tetap saja dalam cekaman ketidakpastian. Dosa Bush teramat besar dalam menciptakan malapetaka ini, tetapi dunia seperti tak berdaya dibuatnya.

Lain Amerika, lain pula Indonesia. Sudah hampir dua tahun SBY-Kalla berada di puncak kekuasaan, kehidupan bangsa ini terasa semakin tidak nyaman saja. Utang negara, luar negeri dan domestik, kabarnya sudah mencapai Rp 1.300 triliun, pengangguran semakin meluas, penegakan hukum tertatih-tatih, para penegak hukum malah saling betengkar seperti anak kecil berebut mainan, megakorupsi belum tertangani secara meyakinkan. Dalam pembicaraan saya dengan berbagai kalangan yang cukup luas, termasuk dengan tim kampanye pasangan SBY-Kalla, saya sampai kepada kesimpulan bahwa negeri ini tetap saja dalam suasana "tak putus dirundung malang", sebuah ungkapan yang pernah saya sampaikan langsung kepada pasangan ini sewaktu keduanya menyampaikan visi dan visinya dalam suasana kampanye Pemilu 2004.

Di samping itu, sudah mulai tampak tanda-tanda bahwa baik SBY maupun Kalla mulai ancang-ancang untuk menghadapi Pemilu 2009. Pertanyaan saya adalah: jika isi otak hanya dipadati oleh godaan pemilu, lalu siapa yang memikirkan bangsa dan negara ini? Siapa yang harus menjawab kegelisahan yang semakin meluas ini? Indonesia, tanah tercinta, mengapa harus menanti terlalu lama untuk dipimpin oleh anak-anak bangsa yang tidak terpaku dan terpukau oleh kepentingan jangka pendek? Biduk republik ini kini sedang memuat lebih 220 juta penumpangnya. Jika juru mudi tidak hati-hati dan tergiur oleh juntaian daun pepohonan di kiri kanan sungai, tidak mustahil biduk ini bakal oleng dan mungkin karam.

Semoga tidak mengarah ke sana, dengan syarat semua kita, terutama pemimpin, jangan sampai mati rasa, kehilangan kepekaan ketika sedang berada di puncak. Jika itu yang terjadi, maka pujian luar negeri yang begitu tinggi terhadap proses Pemilu 2004, termasuk dari mantan Presiden Jimmy Carter, akan tersisa sebagai kenangan manis tetapi ternyata telah membuahkan kepahitan yang berkepanjangan. Bangsa ini secara keseluruhan sudah sangat lelah. Pemimpin telah datang dan pergi sejak Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 dengan 1.000 janji, tetapi rakyat banyak tetap saja mengerang dan merintih dihimpit nasib yang tidak semakin membaik. Biaya sekolah dan pengobatan membubung tinggi dari waktu ke waktu.

Bahkan, beberapa Perguruan Tinggi Negeri telah menjadi industri pendidikan yang semakin tidak terjangkau oleh rakyat kecil sekalipun otaknya cemerlang. Dengan kenyataan ini, harapan untuk pemerataan pendidikan bagi mereka yang miskin tetapi IQ tinggi, akan semakin musnah saja.

Dengan tantangan yang semakin menggunung ini, tidak ada pilihan bagi SBY-Kalla, kecuali mau belajar sebagai negarawan dan tidak punya agenda apa-apa kecuali menyelamatkan kedaulatan bangsa dari keruntuhan dan rongrongan pihak luar. Perkara Pemilu 2009 tidak akan jauh dari jangkauan sekiranya sisa masa jabatan ini digunakan sebaik dan seefektif mungkin dengan penuh keberanian untuk berjibaku, memenuhi janji-janji pemilu: "bersama kita bisa".

Kelengahan dalam memenuhi janji ini, risikonya hanya satu: bangsa ini akan semakin menderita dan dilecehkan pihak luar. Penyelundupan dan perampokan setoran pajak dengan nilai ratusan triliun saban tahun akan tetap saja berlangsung. Illegal logging (pembalakan perkayuan), sekalipun menurut MS Kaban dalam pembicaraannya via telepon dengan saya beberapa hari yang lalu sudah jauh berkurang, masih akan tetap berjalan dengan berbagai beking aparat yang amoral.

Sebagai warga negara yang sudah sepuh, saya tidak punya kepentingan apa-apa lagi yang bersifat duniawi, kecuali mengimbau semua pihak untuk berkaca diri, melihat tampang secara berani, kemudian bertindak cepat dan tepat tanpa meninggalkan kearifan, demi masa depan kita semua. Pembicaraan saya bersama M Deddy Julianto dengan Bang Ali Sadikin tanggal 18 Mei 2006 sore selama 1 jam 15 menit di Borobudur 2, semakin menyadarkan saya bahwa bangsa ini sudah berada pada tikungan SOS (save our soul, selamatkan jiwa kami). Terlambat, legitimasi sosial dan moral SBY-Kalla akan semakin merosot, sesuatu yang dapat berakibat sangat buruk pada proses demokratisasi yang masih tersendat-sendat ini.

feed0 Comments

Write comment
 
 
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger
 

security image
Write the displayed characters


busy
Pemutakhiran Terakhir ( Tuesday, 22 April 2008 )
 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Adobe Creative Suite 5 Master Collection
Autodesk AutoCAD Mechanical 2010 32 & 64 Bit
Quite Imposing MAC
Foodurama MAC
AudioLava 1
Adobe Creative Suite 5.5 Design Premium MAC
Adobe InCopy CS5 Student and Teacher Edition MAC
Ashampoo Anti-Malware
Batch Text & Html Editor
Adobe Premiere Pro CS5.5 Student and Teacher Edition
CyberLink PowerDirector 8 Ultra
KeyBag MAC
Ashampoo Movie Shrink & Burn 3
Adobe Illustrator CS4