Publikasi A. Syafii Maarif

Resonansi
Prespektif Gatra
Jun 06 2006
Gerombolan Pengkhianat PDF Cetak E-mail
Tuesday, 06 June 2006

Harian Republika, 2 Juni, halaman 12 kiri bawah mengutip koran the Guardian (Inggris), 31 Mei 2006 sebagai berikut: ''Gerombolan pengkhianat ekstremis sayap kanan, itulah istilah yang dikemukakan mantan wakil presiden Amerika Serikat (AS), Al Gore, untuk Presiden AS, George W Bush.'' Sudah sejak awal Al Gore melawan Bush karena politik luar negerinya yang imperialistik, membencanai Irak, dan sebelumnya Afghanistan, sebuah negara miskin, dengan harapan hidup rakyatnya rata-rata sekitar 46 tahun. 

Sebagai seorang pakar lingkungan, Al Gore dari Partai Demokrat punya otoritas untuk berbicara tentang kerusakan lingkungan akibat perang imperialis yang dilakukan pemerintahnya yang amoral, yang kebetulan dari Partai Republik. Pada era-era tertentu, kedua partai ini sebenarnya sama-sama menjalankan politik luar negeri ekspansionis. Apa yang pernah ditulis almarhum Mochtar Lubis tahun 1950-an tentang beda kedua partai ini ada benarnya. Kata Lubis, ''Yang satu perampok, yang lain perompak.''

Tetapi, yang terparah bagi dunia memang pemerintahan Bush ini. Kepala batu, merasa benar sendiri, dan penghancur peradaban, sementara PBB dibuatnya tidak berkutik. Untunglah kaum neokonservatif yang semula pendukung Bush, kini telah mulai memisahkan diri, sekalipun terlambat. Di antara tokoh neokonservatif yang banyak dibicarakan orang yang kini telah tampil sebagai pengkritik Bush adalah Francis Fukuyama, pemikir kontemporer Amerika yang punya darah Jepang. Bung Dr Rizal Sukma telah menghadiahi saya buku terbaru Fukuyama: America at the Crossroads: Democracy, Power, and the Neoconservative Legacy (New Haven and London: Yale University Press, 2006, 216 halaman plus pengantar dan indeks).

Tentang perang imperialis terhadap Irak, Fukuyama menulis: ''Pemerintah Bush mendasarkan kasus perangnya terhadap Irak atas tiga argumen: pertama, fakta bahwa Irak punya senjata pemusnah massal (SPM) dan sedang dalam proses untuk membangun lebih banyak; kedua, bahwa Irak punya kaitan dengan Alqaidah dan organisasi teroris lainnya; dan ketiga, bahwa Irak adalah sebuah kediktatoran tirani, rakyat Irak wajib dibebaskan daripadanya.'' (Hlm. 78-79).

Menurut Fukuyama, perangkat argumen ini jelas dipengaruhi oleh serangan 11 September 2001 dan munculnya dinamika baru politik Amerika. Diperkirakan bahwa SPM akan jatuh ke tangan kaum teroris. Maka, rezim Bush berusaha membangun dukungan serbuan militer lantaran khawatir bahwa Irak boleh jadi mengancam bumi Amerika (hlm 79). Komentar kita tentu saja: ''Amerika adalah sebuah kekuatan adikuasa yang merasa tidak aman lagi hidup di muka bumi. Tetapi, tetap saja menuduh orang lain yang salah, sementara awak sendiri serba benar.'' Memang bila akal dan hati nurani sudah lumpuh, doktrin yang mengemuka pastilah: ''Kekuatan adalah kebenaran!'' Dan inilah rezim Bush yang didukung oleh hampir separuh rakyat Amerika, sedangkan separuh yang lain menentang, tetapi kalah dalam perlombaan demokrasi.

Demikianlah, setelah argumen-argumen perang di atas berguguran satu per satu, maka yang tersisa adalah alasan hak-hak asasi manusia dan demokrasi untuk memerangi Irak (ibid.). Padahal, menurut Lembaga Amnesti Internasional baru-baru ini, Amerika dan Inggris adalah pelanggar HAM terberat di dunia. Inilah sebuah dunia sekuler yang telah kehilangan rujukan moral tertinggi dalam bertindak. Tetapi, apakah lalu kekuatan fundamentalis agama sebagai alternatif bagi peradaban yang akan datang? Bagi saya, baik fundamentalis sekuler maupun fundamentalis religius, setali tiga uang. Keduanya pasti akan menciptakan harakiri peradaban. Dalam perspetif Alquran, hanyalah sosok ummatan wasathan (komunitas medium, Albaqarah 143) yang dapat menyelamatkan peradaban, sekalipun posisi mereka sekarang masih berada di pinggir. Tetapi, kita yakin, melalui upaya yang sabar dan terus-menerus, sejarah pada akhirnya akan berpihak kepada sosok umat inklusif, toleran, yang misi utamanya adalah menebarkan rahmat bagi alam semesta. Gejala gerombolan pengkhianat pasti akan terus dilawan oleh rakyat Amerika sendiri dengan dukungan umat manusia yang belum mati rasa.

Ralat: Dalam Resonansi tentang "Asrori" (Republika, 9 Mei 2006, hlm. 12), saya telah membuat kesalahan serius. Alinea 7 baris 4 dari bawah: ''Asrori ini akan lebih dulu masuk surga dibandingkan penulis Resonansi ini.'' Seharusnya berbunyi: ''Asrori akan lebih pantas masuk surga'' dst. Terima kasih.

feed0 Comments

Write comment
 
 
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger
 

security image
Write the displayed characters


busy
Pemutakhiran Terakhir ( Tuesday, 22 April 2008 )
 
< Sebelumnya   Berikutnya >

iArchiver for MAC
Adobe Flash Catalyst CS5 Student and Teacher Edition MAC
PDF to JPG Converter
Adobe Creative Suite 5 Design Premium Student and Teacher Edition MAC
Autodesk AutoCAD 2011 MAC
Autodesk AutoCAD Architecture 2010 32 & 64 Bit
Joboshare DVD to MP4 Converter
Adobe Indesign CS5.5 Student and Teacher Edition
Corel Painter X
CorelDraw Graphics Suite X4
Lynda Illustrator CS4 One-on-One Mastery
Adobe Contribute CS5 for Mac
Apple Aperture 3 for Mac
Poker Copilot MAC