|
Alquran dalam surat Fushshilat ayat 53 berujar yang artinya: ''Akan kami perlihatkan kepada mereka ayat-ayat kami di jagat raya dan pada diri-diri mereka sendiri, hingga menjadi terang bagi mereka bahwasanya [Islam] itu benar. Tidakkah cukup Tuhanmu [bagi mereka], bahwasanya Dia menyaksikan segala sesuatu?''
Ayat Allah tersebar dan terbentang di segala ufuk, dalam masyarakat, bangsa, dan negara, pada unit-unit peradaban, pada gempa, tsunami, pada saat gunung meletus, pada perkisaran angin dan musim, pada air serasah yang terjun, pada kicau murai, pada bunyi siamang, dan pada tingkah laku manusia.
Tergantung, apakah kita mau membaca atau malah semuanya kita anggap angin lalu saja, tanpa hirau sama sekali. Kemudian, sekiranya kita mau membaca, apakah bacaan itu benar, salah, atau bagaimana, kita pun tidak dapat memastikan. Relativisme manusia menjadi faktor utama mengapa kita tidak boleh mengklaim bahwa bacaan kita sudah pasti berada pada posisi yang benar.
Resonansi kali ini tidak akan berbicara tentang perkara yang terlalu besar, tetapi lebih memusatkan perhatian pada tuturan seorang sopir (73 tahun) dari maestro pelukis ternama. Bermula dari kejadian sangat sederhana. Pada suatu pagi, 4 Juni 2006, saya pergi potong rambut pada tukang cukur desa yang sudah menjadi langganan saya sejak lama. Tempatnya di pinggir sungai, sangat sederhana, berdindingkan anyaman bambu tua. Tukang cukur ini beroperasi di sana tanpa membayar sewa, malah yang punya rumah sering menyantuninya.
Siapa mengira di tempat itu saya berjumpa dengan seorang mantan sopir, sebut saja X, dan sekaligus pelayan pelukis yang punya nama dunia itu. X sudah bekerja dan bersahabat dengan pelukis selama 32 tahun. Sudah banyak kota besar dunia yang dijelajahinya mendampingi sang maestro. Bila menginap di hotel-hotel mewah, maestro tidak mau sendirian di tempat tidur. Pasti X yang diminta menemani sebagai teman bicara tentang banyak hal yang menjadi perhatian maestro.
Kini dalam usia senjanya, seperti saya juga, X dengan gaya desanya, bersepeda ke mana-mana, kadang-kadang sampai puluhan kilometer. Model sepedanya agak kuno, tetapi harganya sekitar Rp 9 juta. Karena X punya daya tangkap yang cukup cerdas dan sudah pandai pula melukis, malah sekarang sering memberi latihan kepada pelukis-pelukis muda yang baru belajar. Akhir 2006, X akan berkunjung ke Beijing untuk pameran.
Sekiranya tukang cukur tidak memperkenalkan X kepada saya, tentu saya tidak akan membaca ayat Allah dalam pembicaraan kami pagi itu. Yang cukup menyita perhatian saya adalah bahwa X dengan mahir menuturkan kehidupan maestro, keluarga, dan anak-anaknya dari A sampai Z, dengan datar. Semua sisi dituturkan kepada saya.
Kalaulah saya menggunakan kacamata moral agama mendengar tuturan itu, tentu rasa empati dan simpati saya kepada keluarga ini akan menyusut. Tetapi saya sadar sepenuhnya, dalam menyikapi fenomena manusia, kita harus pula mau menengoknya dari ukuran moral orang lain, sekalipun kita tidak setuju. Manusia terlalu kompleks untuk dibaca secara selintas dan hitam putih.
Dituturkan pula bahwa maestro sangat menyayangi anak kecil. Maka, salah seorang cucunya diminta untuk tinggal bersamanya. Namun, ayah bocah tidak mengizinkan. Karena keinginan itu demikian kuat, istri maestro mengambil inisiatif untuk mencarikan istri sang suami, demi mendapatkan anak kecil. Maestro memberi aba-aba, boleh dicarikan dengan syarat: Mukanya buruk, buta huruf, dan orang desa. Mangapa? Agar tidak menyaingi si istri yang sangat dicintai maestro. Akhirnya didapatlah seorang desa dengan ciri-ciri di atas.
Sudah berjalan tiga tahun, bocah kecil yang dirindukan tidak muncul-muncul juga. Istri tua mulai curiga, apa sebenarnya yang berlaku. Pada suatu malam, ia mengintip pasangan baru ini untuk mencari sebab mengapa belum juga membuahkan harapan. Hasil intipan ini memberi jawaban yang sangat gamblang. Ketika tidur, maestro miring ke utara, istri baru miring ke selatan, bagaimana mungkin bocah akan muncul.
Maka istri tua menasihati maestro, agar mengubah perilaku. Apa jawab maestro? ''Aku menyayangimu, setiap akan melakukan sesuatu, yang teringat adalah engkau.'' Lalu istri tua datang dengan sebuah dekrit: ''Anggaplah dia seperti aku!'' Tidak lama setelah perintah itu, maka lahirlah kemudian tiga anak berturut-turut. Sementara maestro hanya diberi seorang anak dari istri pertama yang kini sudah berusia senja pula.
Cerita lain dari X yang tidak kurang menariknya tidak akan saya rekamkan di sini, kecuali satu. Maestro pernah belajar shalat sewaktu akan pergi haji tahun 1977 dan di Tanah Suci bahkan sempat mencucurkan air mata di depan X. Setelah kembali ke Tanah Air, maestro yang jujur ini, menurut X, tidak sempat lagi menunaikan shalat itu. Selama 32 tahun, X yang santri ini mendampingi maestro dengan penuh kesetiaan. Bukankah semuanya ini adalah ayat-ayat Allah yang perlu dibaca?
|