Publikasi A. Syafii Maarif

Resonansi
Prespektif Gatra
Jun 20 2006
Ajip Rosidi dan Krisis Bahasa Indonesia PDF Cetak E-mail
Tuesday, 20 June 2006

Di antara sastrawan dan pemerhati bahasa Indonesia, nama Ajip Rosidi (67 tahun) adalah di antara anak bangsa yang sangat risau dengan perkembangan bahasa nasional kita yang telah dikukuhkan sejak Sumpah Pemuda 1928 yang terkenal itu. Saya kenal Ajip secara langsung baru sejak tiga tahun lalu melalui Akademi Jakarta (AJ). 

Kami duduk sebagai anggota AJ bersama tokoh-tokoh masyarakat yang lain dari berbagai latar belakang: sastrawan, seniman, intelektual, dan sejarawan. Dalam rapat-rapat AJ inilah saya sering mendengar kerisauan Ajip yang dalam tentang krisis bahasa Indonesia yang semakin parah dari waktu ke waktu, sementara perhatian Pusat Bahasa (OB), menurut Ajip, tidak pernah serius dalam upaya mencari jalan keluar dari krisis ini.

Kita kutip di antara kritik Ajip terhadap PB: ''Para teknokrat di Pusat Bahasa sibuk mengatur pemakaian kapan kata 'tapi' digunakan, kapan kata 'akan tetapi' digunakan, dan kapan pula kata 'namun' digunakan, dan semacamnya. Mereka sibuk membuat ketentuan-ketentuan bahasa karena mereka mengira bahwa bahasa itu harus serba teratur dan serba logis.'' (Lih. Akademi Jakarta, Kondisi Bahasa Indonesia yang Memprihatinkan. Jakarta: 2006, hlm. 12). Kritik semacam ini patut benar dipertimbangkan oleh PB dan oleh siapa saja yang menyertai keprihatinan Ajip.

Kalau kita memang setuju dengan formula ''bahasa adalah jiwa bangsa'', maka krisis bahasa adalah pertanda yang nyata dari krisis kejiwaan bangsa ini. Sebagian kita sudah lama kehilangan kebanggaan terhadap bahasa Indonesia, termasuk para pengusaha yang lebih gemar memakai bahasa Inggris dalam iklan-iklan yang dipasang atau ditayangkan di TV. Seakan-akan dengan memakai media bahasa asing, produk dagangannya pastilah bermutu tinggi, padahal yang ditembak dan dibidik oleh iklan itu sebagian besar adalah rakyat Indonesia yang hanya sejumlah kecil saja yang paham bahasa yang bukan bahasa nasional itu.

Sebagian kita tampaknya memang sedang menderita pribadi pecah. Pemakaian bahasa Indonesia yang compang-camping oleh sejumlah pejabat telah semakin (bukan semangkin) memperparah situasi bahasa kita yang memang sudah parah.

Kita ambil contoh tentang tidak adanya standardisasi dalam pemakaian kata atau nama. Mana yang benar menulisnya ''apotik'' atau ''apotek''. Seharusnya yang benar adalah ''apotik'', sebab lidah kita mengucapkan begitu, bukan ''apotek''. Kemudian di lingkungan perguruan tinggi, kecermatan berbahasa ini juga sedang dalam krisis. Orang tidak merasa berdosa menulis ''civitas akademika'', misalnya. Karena istilah ini sudah diindonesiakan, maka harus ditulis ''sivitas akademika'', jangan dikacaubalaukan dengan mempertahankan huruf ''c'' pada perkataan pertama, sementara pada kata yang kedua sudah diindonesiakan, tidak lagi ditulis ''academica'', seperti aslinya dalam bahasa Latin.

Contoh-contoh lain tentang krisis standardisasi ini banyak sekali, termasuk dalam penulisan nama seseorang. Apakah keberatan kita menulis nama Heri bukan Herry, dengan ''r'' kembar dan ''y''? Mungkin ''Herry'' dirasakan lebih keren tinimbang ''Heri'' yang kurang bercorak Barat. Bukankah ini bentuk lain dari krisis kejiwaan yang sedang menerpa sebagian kita?

Harapan kita tentunya bahwa keprihatinan Ajip tentang krisis yang tengah diderita oleh bahasa Indonesia akan menjadi keprihatinan kita semua untuk dijadikan modal bagi kebangkitan bangsa secara otentik dan penuh percaya diri. Kita mulai dari perbaikan pemakaian bahasa Indonesia secara benar dan cermat. Siapa tahu akan menular ke ranah lain yang lebih luas.

Akhirnya, kita berharap agar PB akan lebih memusatkan perhatian kepada persoalan bahasa yang terkait erat dengan masalah hari depan Indonesia yang kini masih tertatih-tatih dalam merumuskan format jati dirinya secara pas menuju terciptanya kehidupan bangsa yang bermartabat dan berdaulat, bukan bangsa kuli tetapi masih saja merasa hebat. Sebuah kebanggaan semu yang pasti akan memaksa biduk republik ini semakin meluncur dan kehilangan harga diri. Besar dalam jumlah penduduk, tetapi keropos dalam budaya dan kedaulatan. Jalan keluar adalah: Kita secepatnya harus siuman dan bangkit dengan penuh keberanian yang realistik.

feed0 Comments

Write comment
 
 
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger
 

security image
Write the displayed characters


busy
Pemutakhiran Terakhir ( Tuesday, 22 April 2008 )
 
< Sebelumnya   Berikutnya >

ACID Pro 7
Adobe Photoshop CS4 Extended
Adobe Indesign CS5.5 MAC
PenSoft Payroll 2010 Professional
Lynda Fireworks CS5 New Features
Autodesk Maya 2011
Microsoft Office Professional Plus 2010 64 Bit
Adobe Illustrator CS5
ACDSee Pro MAC
Adobe eLearning Suite