Publikasi A. Syafii Maarif

Resonansi
Prespektif Gatra
Jun 27 2006
Sepeda Tua, dan Masjid Syuhada PDF Cetak E-mail
Tuesday, 27 June 2006

Masjid Syuhada Jogjakarta didirikan awal 1950-an sebagai saksi hidup bagi para syuhada yang tewas selama revolusi kemerdekaan (1945-1949). Lokasinya yang strategis di kawasan Kota Baru memudahkan para pendatang untuk mengenalnya.

Pada zamannya Masjid Syuhada adalah bangunan arsitektur modern, mungkin yang termodern ketika itu di Indonesia. Hampir semua tokoh bangsa generasi awal yang Muslim pernah shalat Jumat di masjid ini, termasuk proklamator Soekarno-Hatta.

Dalam usianya yang lebih dari setengah abad, Masjid Syuhada telah turut memberikan pencerahan kepada sebagian anak bangsa yang pernah belajar di sana, baik di taman kanak-kanak (TK) ataupun di perguruan tinggi yang memang memakai nama masjid itu dan diselenggarakan di lingkungannya. TK-nya cukup terkenal, sekalipun kata orang sedikit terkesan komersial, sebagaimana halnya sekolah-sekolah lain di Indonesia, termasuk tentunya sebagian kecil sekolah yang dikelola Muhammadiyah.

Seorang yang cukup penting posisinya untuk melancarkan kegiatan masjid adalah laki-laki Tugimin Suroharjo (67), yang telah mengabdi (di sini istilah mengabdi, sungguh tepat) di sana sejak 1961, hampir setengah abad yang lalu. Tugasnya di samping mengurus masalah khatib Jumat dan mengantar surat, juga menarik sumbangan donatur, bayar listrik, air, dan telepon. Dia diberi 15 persen dari hasil donasi yang saban bulan terkumpul sekitar Rp 1 juta. Yang "dahsyat" adalah gaji bulanannya, yaitu Rp 95 ribu, entah sudah sejak tahun berapa pengurus mematok jumlah ini. Luar biasa bukan?

Sebagaimana halnya Asrori, si penjaja plastik dan racun tikus (lih Resonansi 9 Mei 2006), Tugimin adalah seorang anak bangsa yang tidak begitu peduli pada angka Rp 95 ribu itu, sebagaimana tidak pedulinya pengurus masjid untuk mempertimbangkannya kembali. Ketika saya tanya nomor telepon pengurus, Tugimin tidak hafal. Di wajahnya terbayang keikhlasan dalam mengabdi untuk kepentingan agama. Tidak terlintas dalam angannya agar santunan bulanannya itu dinaikkan menjadi Rp 200 ribu misalnya.

Tugimin menjalankan tugasnya dengan bantuan sebuah sepeda perempuan tua yang setia menyertainya ke manapun sang tuan bergerak untuk kepentingan masjid. Demikianlah tanggal-tanggal 19-20 Juni dia mencari saya minta kepastian apakah saya dapat mengisi khutbah Jumat akhir Juni ini. Saya tanyakan, "Mengapa takmir tidak kirim SMS saja untuk mengingatkan para khatib?"
Dijawab, "Agar lebih mantap."

Mendengar jawaban ini, saya hanya berguman, "Masih ada saja manusia tipe ini, di tengah-tengah arus percaturan uang panas yang sering tidak kenal halal-haram ini." Tentu Tugimin tidak peduli dengan itu semua, karena imbalan yang diterimanya jelas 100 persen halalan thaiyyiban.

Tetapi, Anda tak perlu larut dalam rasa iba terhadap nasib Tugimin. Dia adalah pensiunan pegawai daerah dengan penerimaan Rp 825 ribu per bulan. Istri satu, anak lima, cucu tujuh, dua bekerja pada perusahaan elektronik di Pulau Bintan. Dengan bangga Tugimin bercerita bahwa anaknya pada 2001 pernah memintanya berkunjung ke pulau itu dengan naik pesawat dari Jakarta ke Batam, dan dari Batam dengan perahu mesin. Kemudian Bintan-Jawa dengan menompang kapal laut, demi penghematan, katanya, sekalipun tentu lebih lama dalam perjalanan. Bagi seorang Tugimin, wong cilik, naik pesawat terbang dan kapal laut masih dianggap sebagai sesuatu yang luar biasa. Lebih dari sekali dia mengucapkan 'alhamdulillah' untuk mengenang perjalanannya itu, lima tahun yang lalu.

Tugimin Suroharjo, kelahiran Desa Poncosari (Bantul), 18 Maret 1939, kini menetap di Desa Soragan, Ngestiharjo, masih dalam Kabupaten Bantul, yang kini masih dalam suasana berkabung akibat pukulan gempa 57 detik tanggal 27 Mei yang lalu itu. Rumahnya juga rusak, tetapi tidak parah. Sewaktu saya tanya, apakah sudah ada yang menawari untuk naik haji, jawabannya datar, "Belum ada panggilan Allah." Tidak dijawab misalnya, "tidak ada tawaran itu". Dua formula ungkapan yang berlainan dari sisi rasa dan substansi. Itulah Tugimin, sahabat kita, yang fungsinya ibarat pentil sepeda bagi Masjid Syuhada.

feed2 Comments
agus dhanang purnomo
October 12, 2008
202.152.170.98
Votes: +0

budaya yg harus tetap dilestarikan,

report abuse
vote down
vote up
hadi
February 03, 2009
222.124.249.67
Votes: +0

Aku kenalnya pak Wid. Tugimin = Pak Wid bukan ya ?

report abuse
vote down
vote up

Write comment
 
 
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger
 

security image
Write the displayed characters


busy
Pemutakhiran Terakhir ( Tuesday, 22 April 2008 )
 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Autodesk Navisworks Simulate 2011
AVG Anti-Virus plus Firewall 8
Quiz press MAC
AVG Internet Security 9
Adobe InCopy CS5.5 Student & Teacher Edition MAC
Image Commander MAC
Ashampoo Snap 3
Adobe After Effects CS5.5
Apple Remote Desktop 3 Unlimited Managed Systems edition
Lynda ActionScript 3.0 in Flex Builder Essential Training
Lynda Photoshop CS4 One-on-One Mastery
Autodesk Maya 2012
Autodesk AutoCAD Mechanical 2011
Lynda SharePoint 2010 Getting Started