|
Masjid Syuhada Jogjakarta didirikan awal 1950-an sebagai saksi hidup bagi para syuhada yang tewas selama revolusi kemerdekaan (1945-1949). Lokasinya yang strategis di kawasan Kota Baru memudahkan para pendatang untuk mengenalnya.
Pada zamannya Masjid Syuhada adalah bangunan arsitektur modern, mungkin yang termodern ketika itu di Indonesia. Hampir semua tokoh bangsa generasi awal yang Muslim pernah shalat Jumat di masjid ini, termasuk proklamator Soekarno-Hatta.
Dalam usianya yang lebih dari setengah abad, Masjid Syuhada telah turut memberikan pencerahan kepada sebagian anak bangsa yang pernah belajar di sana, baik di taman kanak-kanak (TK) ataupun di perguruan tinggi yang memang memakai nama masjid itu dan diselenggarakan di lingkungannya. TK-nya cukup terkenal, sekalipun kata orang sedikit terkesan komersial, sebagaimana halnya sekolah-sekolah lain di Indonesia, termasuk tentunya sebagian kecil sekolah yang dikelola Muhammadiyah.
Seorang yang cukup penting posisinya untuk melancarkan kegiatan masjid adalah laki-laki Tugimin Suroharjo (67), yang telah mengabdi (di sini istilah mengabdi, sungguh tepat) di sana sejak 1961, hampir setengah abad yang lalu. Tugasnya di samping mengurus masalah khatib Jumat dan mengantar surat, juga menarik sumbangan donatur, bayar listrik, air, dan telepon. Dia diberi 15 persen dari hasil donasi yang saban bulan terkumpul sekitar Rp 1 juta. Yang "dahsyat" adalah gaji bulanannya, yaitu Rp 95 ribu, entah sudah sejak tahun berapa pengurus mematok jumlah ini. Luar biasa bukan?
Sebagaimana halnya Asrori, si penjaja plastik dan racun tikus (lih Resonansi 9 Mei 2006), Tugimin adalah seorang anak bangsa yang tidak begitu peduli pada angka Rp 95 ribu itu, sebagaimana tidak pedulinya pengurus masjid untuk mempertimbangkannya kembali. Ketika saya tanya nomor telepon pengurus, Tugimin tidak hafal. Di wajahnya terbayang keikhlasan dalam mengabdi untuk kepentingan agama. Tidak terlintas dalam angannya agar santunan bulanannya itu dinaikkan menjadi Rp 200 ribu misalnya.
Tugimin menjalankan tugasnya dengan bantuan sebuah sepeda perempuan tua yang setia menyertainya ke manapun sang tuan bergerak untuk kepentingan masjid. Demikianlah tanggal-tanggal 19-20 Juni dia mencari saya minta kepastian apakah saya dapat mengisi khutbah Jumat akhir Juni ini. Saya tanyakan, "Mengapa takmir tidak kirim SMS saja untuk mengingatkan para khatib?"
Dijawab, "Agar lebih mantap."
Mendengar jawaban ini, saya hanya berguman, "Masih ada saja manusia tipe ini, di tengah-tengah arus percaturan uang panas yang sering tidak kenal halal-haram ini." Tentu Tugimin tidak peduli dengan itu semua, karena imbalan yang diterimanya jelas 100 persen halalan thaiyyiban.
Tetapi, Anda tak perlu larut dalam rasa iba terhadap nasib Tugimin. Dia adalah pensiunan pegawai daerah dengan penerimaan Rp 825 ribu per bulan. Istri satu, anak lima, cucu tujuh, dua bekerja pada perusahaan elektronik di Pulau Bintan. Dengan bangga Tugimin bercerita bahwa anaknya pada 2001 pernah memintanya berkunjung ke pulau itu dengan naik pesawat dari Jakarta ke Batam, dan dari Batam dengan perahu mesin. Kemudian Bintan-Jawa dengan menompang kapal laut, demi penghematan, katanya, sekalipun tentu lebih lama dalam perjalanan. Bagi seorang Tugimin, wong cilik, naik pesawat terbang dan kapal laut masih dianggap sebagai sesuatu yang luar biasa. Lebih dari sekali dia mengucapkan 'alhamdulillah' untuk mengenang perjalanannya itu, lima tahun yang lalu.
Tugimin Suroharjo, kelahiran Desa Poncosari (Bantul), 18 Maret 1939, kini menetap di Desa Soragan, Ngestiharjo, masih dalam Kabupaten Bantul, yang kini masih dalam suasana berkabung akibat pukulan gempa 57 detik tanggal 27 Mei yang lalu itu. Rumahnya juga rusak, tetapi tidak parah. Sewaktu saya tanya, apakah sudah ada yang menawari untuk naik haji, jawabannya datar, "Belum ada panggilan Allah." Tidak dijawab misalnya, "tidak ada tawaran itu". Dua formula ungkapan yang berlainan dari sisi rasa dan substansi. Itulah Tugimin, sahabat kita, yang fungsinya ibarat pentil sepeda bagi Masjid Syuhada.
|