Publikasi A. Syafii Maarif

Resonansi
Prespektif Gatra
Jul 25 2006
Masalah Bangsa: Tidak Sederhana PDF Print E-mail
Tuesday, 25 July 2006

Ada sejumlah pejabat yang masih berilusi bahwa masalah bangsa akan selesai dengan sendirinya bila waktunya sudah datang. Mereka berpikir ringan-ringan dan santai-santai saja, sementara kebanyakan politisi, baik yang mengaku beragama ataupun yang tidak, lakunya tidak banyak berbeda. 

Kekayaan bangsa dan negara yang masih tersisa telah lama menjadi rayahan tanpa rasa malu. Pada suatu ketika saya pernah menyebut Indonesia sebagai RGI (Republik Garong Indonesia), karena semakin panjangnya deretan para penggarong dan perampok harta negara bergentayangan, dari pusat sampai daerah. Tidak itu saja, sebagian aparat penegak hukum pun telah memasukkan dirinya ke dalam daftar warga hitam itu.

Akibatnya sangat nyata: masyarakat luas semakin merasakan hidup ini ibarat di sebuah negeri tanpa tuan. Pemilu langsung 2004 yang semula diharapkan akan menciptakan perubahan-perubahan yang mendasar untuk perbaikan menyeluruh bagi bangsa ini, ternyata semakin jauh dari kenyataan. Alam pun telah menunjukkan kemarahannya.

Bumi diguncang, laut menyerbu darat, mayat bergelimpangan, banjir memberi ancaman maut. Kemudian karena sikap gegabah pengusaha, Sidoarjo pun digenangi lumpur gas yang belum teratasi sampai hari ini. Maka tidaklah heran, seorang teman penting mengirimkan SMS kepada saya bahwa Kuala Lumpur yang sebenarnya bukan di Malaysia, tetapi di Sidoarjo, karena sudah bermandikan lumpur. Ngenes bukan?

Sebenarnya orang-orang baik di negeri masih belum habis, tetapi mereka seperti tidak punya saluran untuk berucap. Ada yang berucap, pertanyaannya kemudian adalah: masih adakah telinga yang mau mendengar, mata yang mau melihat, hati yang berfungsi? Bukankah sebagian kita telah lama mati rasa, tidak peduli, tidak hirau dengan masalah-masalah besar yang menyangkut hari depan bangsa ini? Pragmatisme, keserakahan, dan wawasan yang terlalu pendek, telah menyebabkan kita kehilangan perspektif masa depan. Otak sederhana yang pengecut dan tidak ikhlas, tetapi punya otoritas, adalah salah satu sebab mengapa bangsa ini tetap saja berada di buritan perkembangan.

Pengangguran yang semakin meluas karena sempitnya lapangan kerja akan menjadi bom waktu yang dahsyat pada saatnya. Masalah bangsa jauh dari sederhana. Pemerintah sebagai komandan harus menyadari kenyataan rapuh ini secara jujur, berani, dan mau membuang ilusi bahwa Indonesia masih aman. Kata mereka yang super optimistis ini: orang tidak perlu khawatir, karena Indonesia secara kultural telah punya urat tunggang yang menembus jauh ke pitala bumi.

Benar, bahwa banyak suku bangsa di Indonesia yang berusia sangat tua dengan kebudayaan yang canggih, kaya, dan sebagian telah menjadi fosil. Tetapi Indonesia, sebagaimana telah berulang saya sampaikan, adalah sebuah bangsa muda yang belum berusia satu abad. Jadi, masih rentan, labil, dan karenanya gampang pecah, jika tidak disikapi secara arif, historis, dan jujur oleh kita semua sebagai anak bangsa. Memandang enteng persoalan ini sama dengan kita sedang menggali kuburan masa depan kita. Proses penyadaran yang terus-menerus bahwa Indonesia adalah sebuah bangsa muda tidak boleh dilupakan.

Kelalaian kita selama ini dalam proses penyadaran itu telah berakibat sangat buruk bagi integrasi nasional yang sama-sama kita rindukan. Kita sungguh tidak ingin menyaksikan sebuah Indonesia yang berkeping-keping oleh kesalahan persepsi kita. Sebab itu, kita harus berteriak terus dan terus berteriak, hingga ada telinga yang mau mendengar.

Teriakan yang keluar dari kecintaan yang tulus dan dalam terhadap bangsa yang baru berumur setahun jagung ini bila diukur dengan perjalahan suku-suku bangsa adalah sebuah keniscayaan. Indonesia yang baru muncul dalam peta dunia tahun 1920-an perlu kita selamatkan dengan seluruh kekuatan energi yang masih tersisa. Saya percaya bahwa gelombang teriakan yang tidak punya agenda politik apa-apa tentu akan dirasakan pula resonansinya pada jiwa mereka yang punya gelombang sama.

Pertemuan kami dengan para mantan perwira tinggi sepuh yang sudah berusia di atas 70 tahun plus beberapa anak muda di suatu tempat di Jakarta tanggal 19 Juli 2006 semakin menyadarkan saya bahwa kekecewaan bangsa ini terhadap kepemimpinan Indonesia sejak beberapa tahun terakhir sungguh nyata. Bukan karena mereka tidak dapat bagian kue nasional. Mereka semua sudah sangat mapan secara ekonomi.

Di antara mereka ada yang sudah oleng kalau berjalan, tetapi ketidakrelaan mereka menyaksikan Indonesia ambruk di tangan anak-anaknya sendiri patut dicatat sebagai patriotisme yang tahan banting sejarah. Mereka umumnya adalah para pejuang revolusi dalam mempertahankan eksistensi republik pada saat Belanda ingin meneruskan petualangan kolonialismenya kembali.

Akhirnya, karena masalah bangsa jauh dari sederhana, maka stok otak-otak siuman yang banyak kita miliki tidak boleh tinggal apatis dan tinggal diam. Berbicaralah terus terang, santun, dan dalam bingkai konstitusi, lalu katakan SOS Indonesia!

feed2 Comments
holan
September 23, 2008
167.205.22.104
Votes: +0

ya, masalah bangsa bukannya hal yang sederhana bahkan bisa dikatakan hal yang tidak ada ujung penyelesaiannya...
tapi bukan berarti kita harus diam, tanpa berbuat sesuatu....
klau hari ini pemulung berjuang demi haya sesuap nasi, anak bangsa yang berkeliaran ditepi jalan, seorang bapak yang mencuri demi segelas susu anaknya, dsb......., lalu mau dibawa kemana bangsa ini??????
maka satu kata kunci...........
teruslah berjuang kawan

report abuse
vote down
vote up
suhud88
December 27, 2008
202.59.194.189
Votes: +0

Sebelumnya mohon maaf dengan judul yang sangat pedas ini. Judul ini terpaksa kami angkat untuk menggugah kesadaran kita, tentang realitas yang dihadapi para netter kita. Tentu saja kalau ada yang marah, menyanggah, geram dan lain sebagainya, kami bisa memahami. Tapi, mari kita kuak kenyataan yang ada dalam dunia maya kita, khususnya para netter. Mereka atau kita semua ( Kebanyakan ) cenderung buang-buang duit daripada memanfaatkan internet sebagai media yang sepadan. Maksudnya, selain kita merogoh dan membuang kocek, seharusnya ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk lebih bisa mengatasi permasalahan bangsa ini. Kita tak bisa menutup mata dengan keadaan ekonomi akhir-akhir ini. Pengangguran, kemiskinan, kesulitan berusaha dan banyak permasalahan yang harus kita pecahkan melalui dunia internet. Sebab bagaimanapun juga dunia internet tetap merupakan potensi yang besar untuk ikut serta menyelesaikan persoalan - persoalan tersebut.

report abuse
vote down
vote up

Write comment
 
 
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger
 

security image
Write the displayed characters


busy
Last Updated ( Tuesday, 22 April 2008 )
 
< Prev   Next >

Adobe Technical Communication Suite 2
Lynda Illustrator CS5 Essential Training
Microsoft Office 2003 Professional
Adobe Illustrator CS4 for Mac
Autodesk AutoCAD Revit Structure Suite 2010 32 Bit
Ace Utilities 32 Bit
iCash 6.6
Lynda Photoshop CS5 One-on-One Fundamentals
Autodesk Revit Architecture 2010 32 & 64 Bit
Xilisoft iPod Rip for Mac
Autodesk AutoCAD Revit Architecture Suite 2012
1Password 3 for Mac