Publikasi A. Syafii Maarif

Resonansi
Prespektif Gatra
Aug 01 2006
Iman Sutrisno PDF Cetak E-mail
Tuesday, 01 August 2006

Siapa yang tak kenal dengan nama ini, khususnya di kalangan kuli tinta? Bukan kerena dia kelahiran Cilacap tahun 1936 yang mendapatkan istri perempuan Aceh. Bukan pula karena dia pernah menjadi sutradara, pemain film, pelatih dan pemain drama, dan macam-macam kegiatan seni lainnya yang pernah bertahun-tahun digelutinya sampai di usianya kepala tujuh. Sekalipun panggung itu semua telah turut meroketkan namanya, Iman Sutrisno lebih dikenal sebagai pemred Harian Kedaulatan Rakyat (KR), korannya tiyang Yogya, selama beberapa tahun yang ditunjuk menggantikan Wonohito sampai mendapatkan hak pensiun tahun 1989. Dia menyertai KR tahun 1963, diawali sebagai reporter. 

Sekalipun oplahnya belum bisa menandingi Suara Merdeka, koran Jawa Tengah, atau Jawa Pos yang terbit di Surabaya dengan anak-anak perusahaannya di beberapa kota, KR dari sisi bisnis cukup berhasil. Seorang komisaris KR pernah mengatakan bahwa dividen yang didapat oleh salah seorang pemegang saham ada yang mencapai Rp 190 juta per tahun. Jangan ditanya lagi pemegang saham mayoritas, entah berapa miliar.

Koran ini didirikan tahun 1945 sebagai koran revolusi, sekalipun pernah sedikit goncang sewaktu peristiwa G30S, tetap bertahan dengan pembacanya yang setia dan fanatik. Apalagi Prof T Jacob masih setia menulis kolom yang menggelitik di harian ini secara reguler. Saya tidak tahu penulis sekaliber Prof Jacob diberi imbalan berapa untuk tiap kolom yang ditulisnya.

Pada umumnya koran-koran daerah yang sudah mapan sekalipun jarang yang peduli terhadap nasib para penulis yang sedikit atau banyak telah membesarkan tiras yang bersangkutan. Dari Padang dan Makassar, saya mendapat keterangan tentang betapa kecilnya penghargaan yang diterima para penulis artikel yang dimuat. Seakan-akan para penulis itu hanya sekian itu harganya. Sukar kita temukan perusahaan penerbitan yang mau menghargai para penulis secara adil dan wajar.

Resonansi ini telah sedikit berputar ke mana-mana, tetapi masih dalam koridor pesan yang sama. Kita kembali kepada Iman Sutrisno. Pada 22 Juli 2006, sahabat ini berkunjung ke tempat tinggal saya selama lebih 90 menit. Sebagai sesama lansia, kami berbincang tentang aneka masalah. Peta Islam global dan Indonesia, keterpurukan moral dan ekonomi bangsa yang belum juga usai, nasib para seniman yang ''Senen-Kamis'', mantan wartawan yang sulit bernapas, dan 1.001 topik lainnya. Tahu-tahu dia mengeluarkan struk penerimaan pensiunnya dari KR. Anda tahu berapa jumlahnya? Jangan Anda kaitkan dengan dividen atau gaji seorang komisaris. Inilah angkanya: Rp 403,993.67 (empat ratus tiga ribu sembilan ratus sembilan puluh tiga rupiah enam puluh tujuh sen). Dahsyat bukan? Pensiunan seorang mantan pemred yang telah turut membesarkan sebuah harian selama puluhan tahun. Bayangkan mantan wartawan yang tidak pernah berada di puncak, berapa pensiunnya? Sekadar untuk beli karcis KA senja Yogya-Jakarta.

Tentu Iman Sutrisno memperlihatkan struk pensiunnya bukan untuk ditulis di sini. Dia hanyalah ingin mengatakan bahwa hidup sebagian (mungkin sebagian besar) wartawan pensiun di Indonesia lebih banyak tidak bermaya (bahasa Malaysia: suram), seperti halnya juga nasib para penulis lainnya. Sesaat sebelum pamit, Sutrisno melihat majalah Tempo baru yang masih tergeletak di ruang tamu saya. Komentarnya: ''Saya sudah tidak mampu beli.'' Batin saya gemetar. Begini sulit rupanya untuk dapat hidup layak di Indonesia, sekalipun sebelumnya seorang pernah berada di puncak. Dari pengalaman ini, waktunya sudah sangat mendesak untuk dipikirkan adanya UU tentang jaminan sosial seperti di negara-negara maju, agar para lansia yang pernah berbuat sesuatu untuk kepentingan publik di masa segarnya tidak mesti menderita di akhir hayatnya. Tidak berarti bahwa Iman Sutrisno menderita, tetapi ketidakmampuannya membeli sebuah majalah mingguan, adalah indikasi tentang bagaimana hari-hari tuanya harus disikapi dengan ekstra hati-hati dalam masalah keuangan.

Pensiunan (baru) bagi seorang guru besar IVe masa kerja 38 tahun sebesar Rp 1.704.000 (satu juta tujuh ratus empat ribu rupiah) sudah susah untuk dapat hidup layak, khususnya di kota, ternyata Iman Sutrisno hanyalah menerima kurang dari seperempatnya. Untung saja ada anak-anaknya yang masih suka membantu. Hari tua bagi umumnya rakyat jelata adalah masa-masa gelap. Nasib mereka belum pernah membaik sejak zaman VOC. Inilah Indonesia kita, peradaban kita baru sampai di sini: ''Itik berenang dalam air, mati kehausan; ayam bertelur di atas padi, mati kelaparan.'' Harta negara masih saja terus dihisap drakula sampai hari ini! Perusahaan yang mapan pun jarang yang peduli terhadap nasib mantan karyawannya yang berjasa.

feed0 Comments

Write comment
 
 
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger
 

security image
Write the displayed characters


busy
Pemutakhiran Terakhir ( Tuesday, 22 April 2008 )
 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Poser 8 Professional for Mac
Engraver II MAC
CorelDraw Graphics Suite X3
SerialMailer MAC
Bigasoft Total Video Converter
Autodesk Building Design Suite 2012 - Standard
Gitbox MAC
PSP 608 MultiDelay MAC
TaskTime MAC
FileMaker Pro 11
Apple iWork 09
Mathcad 14
Lynda Excel 2010 Advanced Formatting Techniques