Publikasi A. Syafii Maarif

Resonansi
Prespektif Gatra
Aug 15 2006
Sinyal di Sumpur Kudus PDF Print E-mail
Tuesday, 15 August 2006

Sekiranya letak Sumpur Kudus tidak tersuruk jauh di perbatasan Sumatra Barat dan Riau Daratan, di lembah bukit barisan, boleh jadi perhatian saya terhadap nagari yang sunyi ini akan tipis saja. Republika telah turut berjasa mengenalkan nagari dan kecamatan ini kepada para pembaca melalui Resonansi dan resensi otobiografi saya yang disiarkan secara luas itu. Ucapan terima kasih yang manis harus saya sampaikan kepada harian ini yang terus saya ikuti perjalanannya di samping sebagai pelanggan setia sejak pertama kali muncul tahun 1993 dengan segala kritik saya terhadapnya. 

Di Sumpur Kudus saya sendiri sudah tidak punya tempat tinggal lagi. Warisan ayah-bunda telah lama dimakan bubuk zaman, sekalipun keturunan keduanya sudah beranak pinak entah berapa kompi, sebagian besar tidak lagi saya kenal. Jika pulang kampung, saya selalu nebeng di tempat keluarga dekat yang dengan ramah menyambut saya dan teman-teman dari Jawa.

Sejak satu setengah tahun yang lalu listrik, berkat uluran tangan PLN, telah mencahayai kawasan tersuruk itu hingga merambat ke tepi bukit. Begitu juga bantuan teman-teman dari Jawa, baik dari instansi pemerintah maupun swasta, telah banyak mengalir ke kawasan itu. Terakhir, sebuah masjid mungil di Silantai, tetangga nagari Sumpur, sedang dalam proses penyudahan, sebagian besar dananya dipasok dari kebaikan teman-teman. Tanpa itu semua, penyelesaian tempat ibadah ini akan memakan tempo tahunan, karena jangkauan tangan penduduk sangat terbatas. Ada satu dua orang yang punya rezeki agak lumayan, namun hatinya belum tersentuh untuk membeli tiket ke akhirat. Maka, terasa benarlah bagi Sumpur Kudus khususnya, dan Ranah Minang umumnya, tanpa rantau akan banyak mengalami kesulitan untuk membenahi sarana-sarana publik.

Pemerintah sendiri juga punya keterbatasan-keterbatasan untuk membangun Indonesia yang luas ini. Saya tidak mau mengungkit kali ini, tentang kekayaan bangsa yang menguap ratusan triliun saban tahun karena kerapuhan birokrasi dan akutnya sakit mental kita.

Penduduk Kecamatan Sumpur Kudus --yang juga nama nagari itu-- hanyalah sekitar 20 ribu jiwa. Umumnya petani padi, karet, cokelat, kulit manis, dan sedikit gambir. Sebelum kendaraan bermotor masuk ke kawasan itu, angkutan kuda merupakan transportasi utama untuk berbelanja ke pasar Kumanis yang jaraknya sekitar 30 kilometer dari nagari itu. Kini hewan yang pernah berjasa besar itu telah menghilang, "disapu" bersih oleh kendaraan yang menggunakan BBM yang harganya selalu dinaikkan pemerintah. Kalau dulu, anak-anak akan dengan mudah mengenal apa itu kuda karena tampak di mana-mana, di jalan dan di sawah, sekarang harus diceritakan dulu atau ditonton melalui televisi. Inilah perubahan zaman yang terus bergerak dan bergulir tanpa ada kekuatan yang dapat menghambatnya.

Kadang-kadang muncul juga nostalgia untuk mengingat iringan kuda beban yang berangkat hari Senen dari Sumpur Kudus dan nagari sekitarnya ke Kumanis dan pulang Rabu dengan mengangkut keperluan pokok rakyat yang tidak dapat semuanya disediakan kampung. Bayangkan untuk menempuh jarak 60 km pergi pulang, harus diatur waktu lebih dua hari. Tetapi, dalam rekaman memori saya di usia lanjut ini, panorama masa lampau itu terlihat demikian asri dan tenang, sekalipun ketika dijalani cukup membuat kita penat, lelah, dan dahaga. Maklumlah jarak sepanjang itu ditempuh dengan berjalan kaki.

Sekiranya Indonesia tidak merdeka sejak 61 tahun yang lalu, tentu nama Sumpur Kudus akan tetap tertimbun dari pengetahuan publik. Kemerdekaanlah yang memberi berkah kepadanya dan kepada bangsa ini, sekalipun banyak pula tangan-tangan amoral telah mengotorinya. Berkah yang paling baru ialah sinyal telepon genggam (HP) telah menerobos kawasan udik itu sejak 5 Agustus 2006. Sebuah perusahaan telah membangun dua menara untuk menerima dan menyampaikan sinyal itu kepada sasarannya. Saya percaya penduduk segera akan menyerbu kedai-kedai HP di kota, di samping memang sebagai alat komunikasi yang diperlukan, juga jangan dilupakan gengsi, sekalipun harus menekan keperluan yang lain.

Komentar yang saya terima ialah dengan munculnya sinyal di sana, maka kemerdekaan Sumpur Kudus menjadi semakin sempurna, mengejar kawasan-kawasan lain yang telah lebih dulu merasakannya. Inilah teknologi yang berkembang dengan sangat kencang dengan segala sisinya yang positif dan negatif, sebuah risiko yang harus dihadapi. Dunia bukanlah teritori hitam-putih. Banyak dimensi yang harus dikaji dan dipertimbangkan untuk menarik sebuah kesimpulan yang tepat dan arif, apakah itu baik atau sebaliknya. Selamat dengan sinyal baru Sumpur Kudus, jangan lupa bersyukur kepada Allah SWT.

feed1 Comments
Yongki Martem Sadri
May 22, 2008
125.162.81.5
Votes: -3

Assalamualaikum wr.wb
Gmna kbarnya pak?
moga2 shat dan tetap dlam lindungan
Nya,aminnn
Salam kenal dari saya pak putra
sumpur kudus juo pak.
Saya sngat terharu skli dngan otobi
ografi Bapak,saya membcanya slma 1
hari pak,bahkan sampai air mata sa
ya jga ikut bercucuran,krna larut
dlam crita Bapak,dan mngkin pngla
man hdup Bapak dngan saya tdak jauh
berbeda dlam khidupan yg srba keku
rangan.
o yo pak,bilo pai ka sumpu lai pak?


report abuse
vote down
vote up

Write comment
 
 
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger
 

security image
Write the displayed characters


busy
Last Updated ( Tuesday, 22 April 2008 )
 
< Prev   Next >

PenSoft Payroll 2010 lite
QRecall MAC
Lynda Photoshop and Bridge CS5 for Photographers New Features
BS.Player 2.57
SpamSieve MAC
VoxReducer Kit II MAC
Autodesk Mudbox 2012
Adobe Creative Suite 3 Design Premium for Mac
PDF Joiner 1.0
Lynda Illustrator CS5 New Features
UltraEdit 16
Guitar Pro 5
Steady Recorder 2.6.2
Acronis Recovery for Microsoft Exchange
Roxio Toast 11 Titanium Pro MAC