|
HTA adalah singkatan dari Haji TA (44) yang sengaja saya samarkan namanya. Karena Wings Air pada sore tanggal 4 September mengalami keterlambatan selama hampir dua setengah jam di Bandara Juanda Surabaya, secara tidak sengaja saya berkenalan dengan TA, mantan juragan kayu di Samarinda, berasal dari Banjarmasin.
Sekarang usahanya bergerak dalam penyediaan sembilan kebutuhan pokok di kota yang sama. Sebagai seorang yang lama bergumul dengan dunia perkayuan, TA tahu betul betapa serunya permainan kongkalingkong dalam soal pembalakan haram antara cukong dan aparat.
Cukong yang bermodal besar dengan mudah melakukan pembalakan karena dilindungi oknum aparat, sementara rakyat yang mengambil kayu milik datuknya sekalipun demi mempertahankan hidup, karena tidak mampu bayar upeti, sering ditangkap. Tidak jarang, menurut tuturan TA, terjadi konflik antara aparat dan rakyat yang membawa kematian bagi pihak yang terlibat. Pada saat-saat tertentu konflik itu demikian panas, sehingga hidup menjadi tidak aman dan nyaman, khususnya di daerah pedalaman di mana pembalakan itu terjadi.
TA yang sore itu baru menjemput tiga putrinya dari sebuah pesantren di Pasuruan untuk pulang ke Samarinda, beralih cerita ke topik lain, masalah keluarga. Sewaktu saya tanyakan berapa jumlah anaknya, dijawab 11, wafat tiga, tinggal delapan. "Dari seorang ibu?" tanya saya. "Tidak, dari tiga istri", jawabnya. TA kawin pada usia 22 tahun, sedangkan istri pertamanya lebih muda sedikit, tamatan SMP, sementara TA lulusan SMA. TA bercerita dengan nada datar, tanpa beban. Perawakannya biasa, tinggi sedang, tetapi dalam satu segi orang ini sungguh luar biasa, menurut ukuran kultur sekarang, sebagaimana yang akan saya jelaskan lebih jauh.
Sekarang dia punya istri empat dari berbagai suku. Ada Arab Banjar, ada Sunda, ada Melayu Banjar yang tinggal di berbagai daerah, yang didatangi secara bergiliran oleh TA. Sang anak, tuturnya, sudah saling berkenalan. Sewaktu pertama kali dia menambah istri, yang tua sempat sewot, tetapi pulih kembali, kini suasana sudah normal. Tetapi, yang seru adalah cerita di bawah ini. Dari sosok yang berpenampilan biasa itu, tuturan TA tentang pengalamannya berumah tangga sungguh di luar dugaan kita semua. Cerita ini mengingatkan kita pada kepala suku Bohorok di Papua atau kepala suku di beberapa negara Afrika selatan Sahara.
TA dengan bangga menceritakan bahwa sejak 1984 ia telah kawin sebanyak 37 kali, 32 perawan dan lima janda. Pernah kawin dengan seorang janda kaya Jogja yang beranak tiga, tetapi sudah dicerai. Bukan karena percekcokan, tetapi karena si janda ini mengharapkan TA lebih banyak tinggal di Jogja, dan si janda sanggup membiayai istri-istri TA yang lain. TA tidak bisa mengabulkannya, karena tidak mau melepaskan tanggung jawabnya terhadap pasangannya yang lain. Bersama si janda ini TA pernah diajak keliling ke Australia dan Amerika, untuk menjenguk anaknya yang kuliah di luar negeri. Perkenalan TA dengan janda ini semula sambil lalu saja, lalu mereka menikah untuk kemudian berpisah secara baik-baik.
Yang saya tidak habis pikir adalah kebiasaan TA yang dengan mudah menceraikan istri jika sudah merasa tidak nyaman. Hanya dengan menulis surat cerai bermaterai Rp 6.000. "Mudah saja itu," katanya ringan, tanpa merasa bersalah. Istrinya yang tinggal di Bogor, dikawininya sewaktu berusia 17 tahun, dan belum dikaruniai anak. Anda bisa bayangkan betapa tingginya mobilitas TA ini dalam mengatur rumah tangganya yang banyak itu. Saya sendiri rasanya, dengan satu istri saja sudah kewalahan, sedangkan TA dengan satu kompi tidak merasa kelelahan. Saya pun tidak bertanya lebih jauh, berapa lagi yang ditargetkan sehingga bisa menyandang rekor tertinggi dalam perlombaan berbini banyak ini.
Pertanyaan kita sederhana saja: "Mengapa masih ada saja perempuan yang mau diperlakukan seperti ini?" Di depan tempat duduk saya di bandara ada keluarga AURI muda. Sewaktu saya ceritakan hasil obrolan saya dengan TA, mereka hanya nyengir terheran-heran sambil menggelengkan kepala. Tidak masuk akal memang, tetapi TA tampaknya tidak membual. Apa yang dituturkannya adalah pengalaman hidupnya yang luar biasa itu, sebuah gejala sosio-antropologis yang sungguh dahsyat bagi umumnya kita. TA juga memberikan alamat rumahnya di Samarinda kepada saya. Katanya dia cukup dikenal di kota itu. Dikenal sebagai padagang dan tentunya juga sebagai "pahlawan", bukan?
|