Publikasi A. Syafii Maarif

Resonansi
Prespektif Gatra
Oct 31 2006
Operasi PDF Print E-mail
Tuesday, 31 October 2006

Bagi dokter ahli bedah, operasi usus buntu (appendix) adalah kacang goreng belaka, dibandingkan dengan operasi hati, jantung, tulang, dan ginjal yang jauh lebih ruwet dan penuh risiko. Oleh sebab itu, pada saat dr Muhammad Iqbal, direktur RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta dan ahli penyakit dalam, pada 13 Oktober malam menanyakan kesiapan untuk operasi kacang goreng itu, jawaban saya adalah ''siap''. 

Tetapi, ditambahkan biasanya yang kena gangguan usus buntu itu adalah manusia yang berumur lebih muda, padahal saya sudah di atas 71 tahun. Gangguan ini telah lama saya rasakan, tetapi sebagai seorang yang kurang peduli, saya oles dengan obat penghangat saja, sampai usus itu membusuk dalam bilangan tahun.

Apa karena usia lanjut ini, perlu tim lima dokter spesialis yang menangani kasus ini, tidak saya tanyakan. Tim itu dipimpin Iqbal, dengan dua ahli bedah: dr Jisdan Bambang Yulianto, dr Nurul Yaqin; dua ahli bius: dr Fauzi AR (putra AR Fachruddin), dr Joko Murdiayanto; dan dr Abdul Latif ahli USG. Yang terakhir inilah yang meneropong lewat layar seluruh organ dalam saya untuk menentukan di mana letak gangguan yang saya rasakan semakin berat dari hari ke hari. Setelah dipastikan bahwa ujung usus buntu saya sudah bernanah, maka diputuskanlah untuk segera dioperasi pagi hari berikutnya. Jumat sore saya masih bawa mobil sendiri ke RS. Setelah saya masuk ke dalam kamar bedah, istri saya Nurkhalifah dan anak kami Hafiz telah siap menunggu di luar sejak pukul 08.30.

Sampai sekitar pukul 10.30 tindakan belum juga diambil, karena ada operasi darurat terhadap seorang ibu yang punya calon bayi di luar kandungan dan harus segera diselamatkan. Pilihan saya hanya satu: Sabar menunggu sambil menatap langit-langit kamar bedah, sementara istri sudah gelisah di luar karena belum ada juga berita. Baru sekitar pukul 10.30, dr Joko yang ramah dan ceria memberi tahu istri saya bahwa operasi akan segera dimulai, dan mohon doa.

Saya dibawa di tempat bedah untuk siap ''dimatikan'' selama beberapa jam oleh biusnya dr Fauzi dan dr Joko. Setelah segala sesuatu disiapkan, Fauzi memberi isyarat agar bius segera dilakukan. Sejak detik itu saya tidak tahu lagi apa yang terjadi atas diri saya. Pukul 17.00, saya mulai sadar sambil mengigau dekat istri dan anak saya di kamar inap. Mereka katanya hanya tertawa berbisik melihat saya yang mulai sadar, lebih cepat lima jam dari perkiraan semula. Pada hari operasi, puasa tetap dijalankan, sekalipun infus telah dipasang dr Joko sebelum masuk kamar bedah. Bukankah yang membatalkan puasa jika makanan dan minuman masuk dari mulut, bukan dari bagian yang lain?

Operasi dilakukan dr Jisdan yang cakap dan penuh optimisme, tidak melalui pembedahan, tetapi melalui lubang segi tiga sekitar pusat saya. Satu lubang untuk meneropong, dua yang lain untuk memotong usus yang bermasalah itu. Dokter Jisdan adalah putra teman saya, Drs Sujoto Hadiprajitno, menantu mantan ketua Majelis Tarjih PP Muhammadiyah KH Muhammad Wardan alm.

Tentang fungsi usus buntu ini, para dokter masih bertanya untuk apa diciptakan. Tentu pasti ada tujuannya, sebab Allah menciptakan sesuatu tidak ada yang sia-sia. Bisa saja untuk latihan bagi para ahli bedah sebelum menangani bagian-bagian organ manusia yang lebih gawat, bukan? Ilmu kedokteran semakin canggih saja dari waktu ke waktu, tetapi pengobatan alternatif juga tidak berkurang. Bahkan, ada dokter yang meliriknya, sekalipun bukan ditangani seorang dokter. Inilah dunia kesehatan yang tidak semakin sederhana. Otak manusia disuruh ''berdansa'' terus-menerus untuk mencari pengobatan bagi bermacam penyakit yang juga tidak kurang canggih dan liarnya.

Sekalipun operasi ringan bagi dokter, bagi saya sangat besar hikmahnya di hari raya 1427 ini. Para dokter dan perawat yang ramah dan kooperatif sesungguhnya sudah merupakan bagian dari proses penyembuhan itu sendiri. Saya tentu berharap semua pasien akan mendapatkan pelayanan sebaik yang saya rasakan. Tentu tidak perlu selalu dengan tim lengkap untuk mereka yang berusia lebih muda bagi operasi usus buntu ini. Kepada para dokter, perawat, dan semua pihak serta handai tolan yang mendoakan, saya sekeluarga hanya bisa menyampaikan rasa haru dan terima kasih yang tulus.

feed0 Comments

Write comment
 
 
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger
 

security image
Write the displayed characters


busy
Last Updated ( Tuesday, 22 April 2008 )
 
< Prev   Next >

Joboshare DVD Audio Ripper
Autodesk Alias Surface 2012
Ashampoo ClipFisher
Ashampoo ClipFisher
Lynda Excel 2010 Managing Multiple Worksheets and Workbooks
Bigasoft DVD to AVI Converter
Lynda Encore CS5 Essential Training
Microsoft Office Home and Business 2011 MAC
Microsoft MapPoint 2011 Europe
Komodo IDE 6
Autodesk AutoCAD Inventor LT Suite 2012
Joboshare DVD to Zune Converter
AnotherPOS Pro for MAC
Malwarebytes Anti-Malware 1.50
LotsaWater MAC