|
Saya tidak tahu manfaat besar apa yang akan diraih Indonesia dengan kunjungan Bush selama beberapa jam di Bogor pada 20 November 2006. Dan kita pun tidak tahu apakah ia diundang untuk datang atau atas kehendaknya sendiri.
Pemerintah sebaiknya menjelaskan ini semua kepada rakyat Indonesia, agar spekulasi tidak gentayangan di awan politik Indonesia yang masih belum sehat ini. Bahwa rakyat Amerika telah mulai menghukum Bush dan Partai Republik sudah semakin jelas dengan hasil kemenangan Partai Demokrat baik di DPR maupun di Senat, suatu pukulan bagi petualangan politik luar negeri Amerika yang semakin imperialistik sejak beberapa tahun terakhir ini. Afghanistan dihancurkan, Irak dibuat babak belur, sementara kemerdekaan Palestina yang dikatakan Bush akan terjadi pada 2005, cuma jualan politik murahan belaka.
Bahwa Indonesia harus tetap bersahabat dengan semua negara, termasuk Amerika, memang sudah digariskan sejak 1945 dalam formula politik bebas aktif yang terkenal itu, sekalipun tidak selalu didukung kenyataan empirik, sebab akan bergantung pada selera presiden yang sedang berkuasa dengan pertimbangannya masing-masing. Seorang penguasa dengan mudah saja misalnya berucap bahwa kebijakan yang dilakukannya adalah untuk kepentingan bangsa dan rakyat. Retorika politik itu hampir serupa saja pada semua penguasa. Jualan Bush untuk menyerang Irak tanpa persetujuan PBB dengan tuduhan bahwa Saddam punya senjata penghancur massal, adalah bagian dari politik culas itu. Tetapi, apakah ada politik yang tidak culas sepanjang sejarah, kecuali yang memang dibimbing oleh nilai-nilai kenabian?
Pada saat serangan yang dipimpin Amerika terhadap Afghanistan beberapa tahun yang lalu, komentar saya yang dikutip oleh pers dunia adalah penamaan Bush sebagai seorang Jengis Khan abad ke-21. Formula Bush sejak tragedi 11 September 2001 berupa: either with us or against us (ikut kami atau lawan kami) telah semakin mengacaukan hubungan antarbangsa di muka bumi. Negara-negara yang banyak bergantung pada "belas kasihan" Amerika, seperti Indonesia, tidak bisa berbuat banyak, kecuali membuat pernyataan-pernyataan yang boleh jadi keras kedengarannya, tetapi tidak mengurangi rasa ketergantungan itu.
Indonesia adalah sebuah negeri raksasa yang telah hampir lumpuh akibat korupsi yang belum berhasil diperangi. Presiden telah datang dan pergi di negeri ini, tetapi angka kemiskinan tetap saja membengkak. Apakah kunjungan Bush kali ini dalam upaya pemerintah minta bantuan untuk memperbaiki kondisi kehidupan rakyat banyak yang menderita, atau masih dalam rangka memerangi terorisme, saya pun tidak punya informasi.
Segala bentuk teror memang harus dikejar sampai ke ujung dunia, karena terorisme adalah musuh utama peradaban. Tetapi, saya pun sadar bahwa akar pokok segala kejahatan, termasuk terorisme internasional adalah reaksi terhadap ketidakadilan global yang dipimpin oleh negara-negara maju, dan Amerika berdiri paling depan karena kekuatan dolar dan angkatan bersenjatanya. Dengan mengatakan ini, tidak berarti saya dapat berlapang dada terhadap terorisme, apalagi dengan memakai jubah agama, karena segala bentuk kejahatan tidak lain dari pengkhianatan nyata terhadap seluruh nilai-nilai kenabian yang suci dan mulia. Terorisme adalah perbuatan putus asa dari orang yang menganut doktrin teologi maut: berani mati karena tidak berani hidup.
Indonesia yang sejak beberapa tahun terakhir ini menjadi korban teror yang telah membunuh ratusan manusia dan menghilangkan rasa aman di kalangan rakyat banyak, padahal polisi kita telah bekerja keras untuk melawannya, dan sampai batas-batas tertentu telah berhasil, akan tetap saja terancam bahaya, selama jurang kemiskinan masih menganga. Kemiskinan dan kesenjangan sosial ekonomi yang tajam jelas merupakan rumput kering bagi merebaknya segala bentuk kejahatan dan terorisme. Sebab itu, saya berharap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan punya keberanian mengatakan realitas pahit ini kepada Presiden Bush pada pertemuan di Istana Bogor, dan Bush harus dipaksa agar mau mendengar. Jika ini bisa menjadi kenyataan, mungkin pertemuan itu ada manfaatnya.
Di luar itu, dengan penjagaan keamanan yang ekstraketat, kita hanya bisa mengatakan: inilah presiden dari sebuah negara besar yang merasa paling tidak aman hidup di muka bumi! Masih adakah ruang bagi hati nurani untuk merenung?
|