Publikasi A. Syafii Maarif

Resonansi
Prespektif Gatra
Dec 12 2006
Kritik Porter Terhadap Indonesia PDF Print E-mail
Tuesday, 12 December 2006

Dalam seminar dengan tajuk "How to Make Indonesia More Competitive" (Bagaimana Membuat Indonesia Lebih Mampu Bersaing), Michael Porter dari Harvard Business School, di Jakarta pada 29 November 2006, mengatakan Indonesia termasuk negara yang sangat lamban dalam membaca peta perubahan. 

Porter diundang ke sini oleh Program Magister Manajemen Universitas Indonesia dan Kadin Pasar Modal untuk menilai perkembangan perekonomian di Indonesia. Tanpa basa-basi Porter menyoroti berbagai kelemahan struktural birokratik yang menghimpit Indonesia sejak beberapa tahun terakhir untuk berubah, di samping suasana mental aparat dan pengusaha yang karatan.

Yang menyebabkan Porter heran adalah baik pemerintah maupun pengusaha sudah sama-sama menyadari kelemahan itu, tetapi tetap saja tidak mau berubah. Para pengusaha bahkan lebih sibuk menggerogoti "kue ekonomi yang ada, bukannya berusaha memperbesar kue tersebut dengan meningkatkan daya saing" (Lih Kompas, 30 Nov 2006, hlm. 1).

Sebagai penganut faham ekonomi liberal, Porter lebih menekankan pentingnya Indonesia unjuk gigi dalam persaingan global, dengan syarat mau mengubah kelakuannya sebagai bangsa "peminta-peminta", menjadi bangsa yang percaya kepada kekuatan sendiri. Berbeda dengan Joseph E. Stiglitz dari Universitas Kolumbia yang lama bertugas di Gedung Putih masa Clinton dan Bank Dunia yang mengkritik kegagalan lembaga-lembaga keuangan internasional dalam menolong dunia berkembang, Porter tampaknya berpendirian agar semua negara haruslah menyesuaikan diri dengan realitas global yang sarat dengan persaingan.

Tanpa penyesuaian itu, jangan berharap sebuah negara bisa bangkit menebus ketertinggalannya dalam sebuah dunia yang begerak dengan sangat kencang. Jika Stiglitz banyak berbicara tentang ketidakadilan global, Porter menekankan mutlaknya perubahan sikap mental sebuah bangsa agar tidak terus dililit oleh dampak ketidakadilan itu.

Apa pun kata orang tentang Indonesia, satu hal yang pasti adalah kita memang tidak cukup peka untuk memperbaiki borok-borok budaya kita yang kumuh. Akhir 1960-an, misalnya, antropolog Kuntjaraningrat pernah membeberkan secara tajam suasana mentalitas menerabas bangsa ini: ingin cepat kaya via jalan pintas tanpa kerja keras. Fondasi moral yang rapuh inilah sebenarnya yang menyebabkan seorang Porter berbicara tentang kendala-kendala serius yang dihadapi Indonesia untuk bangkit.

Dibandingkan dengan Vietnam, misalnya, yang bertahun-tahun dicabik-cabik peperangan melawan Prancis dan Amerika Serikat dengan agen-agen bonekanya di sana, Indonesia seperti sudah mau dilampaui jauh oleh salah satu negara ASEAN ini dalam segi apa pun. Singapura, Malaysia, Thailand jangan ditanya lagi, semuanya sudah lama pulih dari gempuran krisis moneter yang berawal sejak 1997/1998 yang lalu.

Saya mengamati bahwa Indonesia sejak Proklamasi 17 Agustus 1945 belum menemukan kepemimpinan yang pas untuk membawa bangsa dan negara ini melaju secara dinamis dan kreatif, tidak saja dalam pembangunan ekonomi, tetapi juga dalam membangun mental-spiritual yang tangguh yang menjadi syarat untuk dihargai pihak lain sebagai bangsa dan negara yang berdaulat penuh.

Sejak Oktober 2004, nakhoda formal bangsa ini terpegang di tangan SBY-Kalla, sebagai buah dari pemilihan langsung yang demokratik. Setelah lebih dua tahun berkuasa, perubahan-perubahan fundamental untuk memperbaiki keadaan yang serba bobrok belum terjadi.

Seorang pengusaha mengatakan kepada saya awal Desember ini bahwa "situasi ekonomi kita tidak tambah baik". Menteri Keuangan Sri Mulyani memang mengatakan bahwa Indonesia tidak mau menjadi negara gagal. Tetapi, kegagalan itu sudah di depan hidung, kecuali kita mau berubah secara berani dan terarah.

Sekaranglah saatnya para elite di negeri ini untuk berhenti berebut kue nasional yang sudah semakin mengecil dan kropos. Tolong pikirkan dan bantu para petani, nelayan, buruh kecil kita yang semakin mengerang kesakitan di tengah-tengah lilitan kemiskinan yang belum juga berkurang. Teman-teman di DPR, ubahlah kelakuan dalam berebut proyek dan tunda dulu untuk menambah bini, jika masa depan Indonesia mau diselamatkan. Pasang telinga untuk mendengar kritik dari pihak manapun, karena kritik itu memang kita perlukan sekarang.

feed0 Comments

Write comment
 
 
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger
 

security image
Write the displayed characters


busy
Last Updated ( Tuesday, 22 April 2008 )
 
< Prev   Next >

Joboshare DivX to DVD
Lynda Premiere Pro CS5 Essential Training
Red Giant Psunami MAC
Ashampoo PowerUp 3
Adobe Illustrator CS4 for Mac
Autodesk Revit Architecture 2011
Acronis True Image Home 2010
Lynda Photoshop CS5 for Photographers Camera Raw 6
Ableton Suite 8.2
Lynda 3ds Max 2010 New Features
Autodesk AutoCAD Inventor LT Suite 2012
Lynda Word 2010 Essential Training
Adobe InCopy CS5.5 MAC
Phone Wallpaper X for MAC
Acronis True Image Home 2011