|
Pada 1975 Todd memprediksi akan terjadinya kemerosotan dan kejatuhan Uni Soviet berdasarkan hasil penelitiannya dari sudut pandang antropologi kultural, demografi, dan ekonomi. Sarjana Barat lain yang mengaku ahli Soviet pada waktu itu melecehkan prediksi "gila" ini, sebab mereka tetap berpegang pada pendapat bahwa Uni Soviet tetap sebagai ancaman terhadap sistem kapitalisme. Tetapi, tampilnya Mikhael S. Gorbachev dengan glasnost (keterbukaan) dan perestroika (penataan kembali) yang kemudian membawa kehancuran Uni Soviet, baru mereka terperangah.
Ternyata Todd, penulis asal Prancis ini, benar. Gorbachev sebenarnya hanya mempercepat keruntuhan saja, sebab proses pembusukan dari dalam imperium Uni Soviet itu telah lama berlangsung. Seorang penulis bahkan pernah mengatakan bahwa komunisme adalah bangkai anjing, sementara sarjana Barat masih saja menganggapnya sebagai seekor singa yang hidup. Dalam perspektif ini dapatlah dipahami mengapa hasil penelitian Todd waktu itu dicibirkan.
Itu tentang Uni Soviet. Pada awal abad ke-21 ini, Todd bergerak semakin "gila" lagi. Inilah karyanya dengan judul After the Empire: the Breakdown of the American Order, terjemahan C. Jon Delogu dari bahasa Prancis, terbit pertama kali pada 2002. Yang ada pada saya adalah terjemahan Delogu ini, New York: Columbia University Press, 2004, tebal 211 halaman plus catatan dan indeks. Dari judulnya saja orang sudah bisa menyimpulkan yang ditembak Todd adalah imperium Amerika Serikat yang sedang bermasalah, tetapi kaum neo-konservatif dengan Presiden Bush sebagai idolanya tidak mau tahu dan sama sekali tidak peka tentang nasib buruk yang sedang menghadang bangsanya yang pongah itu.
Agar lebih runtut untuk diikuti rakyat Indonesia pada umumnya, saya terjemahkan dulu judul karya Todd ini, yaitu "Pasca Imperium: Kejatuhan Tatanan Amerika". Tetapi perkataan breakdown dapat bermakna lebih serius lagi: kegagalan, lenyapnya, keberantakan, dan yang mirip dengan itu. Todd sendiri tidaklah anti Amerika. Analisisnya datar, objektif, berdasarkan data yang dikumpulkannya. Pada catatan akhir sepanjang sembilan halaman, tidak kurang dari 91 sumber dan komentar yang disertakan, baik dari Todd maupun dari Delogu.
Bagi saya karya ini sangat mengesankan. Bukan karena saya sering mengkritik Amerika sebagai kekuatan imperialis kesiangan, tetapi lebih dari itu. Dengan membaca karya ini kita dan mereka yang punya hati nurani akan tersentak untuk berteriak lantang bahwa nafsu hegemonik yang dipertontonkan Bush sekarang ini akan layu, karena tidak ada alasan rasional apa pun yang dapat dipertahankan. Todd berkali-kali menyebut invasi Amerika terhadap Irak sebagai sebuah kesalahan fatal. Tuduhan bahwa Irak menyimpan senjata pembunuh massal adalah isapan jempol belaka, semata-mata sebagai dalih untuk membenarkan serangan terhadap sebuah bangsa yang tak berdaya. Bahwa, Saddam juga seorang enigmatik dan gila kuasa, tak ada di antara kita yang dapat menyangkalnya, kecuali mereka yang buta politik dan tumpul nuraninya.
Masalahnya bukan di situ, tetapi apa hak Amerika menyerang sebuah negara kecil yang berdaulat dengan tuduhan yang dibuat-buat? Ironisnya adalah beberapa negara Barat lainnya, khususnya Inggris, juga turut dalam petualangan akrobatik ini. Lebih ironis lagi Arab Saudi malah turut bergembira menyambut invasi brutal ini. Di mana logika, di mana akal sehat? Saya semakin tidak paham saja membaca kelakuan politik beberapa negara Arab ini. Apa yang mereka cari sebenarnya?
Sebab itu, saya sarankan agar mereka tidak latah menggunakan Islam untuk turut serta memerangi saudaranya sendiri dengan bantuan asing lagi. Jika Saddam jahat, dan memang jahat, tetapi siapa di antara penguasa Arab sekarang yang dapat dicontoh? Hampir semua telah menjadi budak Amerika. Kata Todd, yang diincar Amerika adalah penguasaan terhadap sumber-sumber minyaknya, tetapi percayalah bahwa itu tidak akan berhasil. Dunia ini tidak buta huruf lagi. Dengan munculnya Uni Eropa, Jepang, dan Rusia sebagai kekuatan pengimbang yang semakin perkasa, Amerika tidak mungkin lagi mampu mengangkangi planet bumi ini semau gue.
Akhirnya kepada teman-teman yang sok anti Amerika dengan memakai retorika murahan, mohon mau belajar pada Todd, atau setidak-tidaknya pada saya. Agar kita menghadapi imperialisme kesiangan ini secara beradab dan bermartabat. Jangan tiru pola Amerika yang menyerang bangsa lain secara primitif seperti primitifnya pelaku bom bunuh diri sambil menghabisi nyawa orang lain yang tidak bersalah. Kebiadaban hanya bisa dilumpuhkan oleh kekuatan peradaban dalam jangka panjang.
|