|
Beberapa hari yang lalu DR. Rizal Sukma memberi tahu saya bahwa dia baru saja pulang dari daratan Cina, termasuk berkunjung ke kota Shanghai. Sukma telah menyaksikan dari jarak yang sangat dekat tentang betapa dahsyatnya gerak pembangunan di negeri raksasa itu. Katanya, Indonesia sudah tidak bisa mengejarnya. Luar biasa. Memang semua orang yang berkunjung ke Cina, kesannya relatif serupa dengan kesan Bung Sukma.
Semuanya berjalan cepat, terencana, dan melalui kepastian hukum. Para koruptor setelah melalui proses pengadilan tidak ragu-ragu untuk dibawa ke tiang gantungan untuk mempertanggungjawabkan perbuatan kriminalnya. Pendek kata, dengan penduduk 1,3 miliar, Cina pasca Mao telah berbenah diri secara revolusioner. Marxisme sebagai ideologi secara resmi masih dipertahankan bersama dengan partai komunisnya. Tetapi dalam kenyataan "budaya cocacola" telah merembet dan merasuk demikian jauh ke dalam seluruh denyut nadi kehidupan sebagian rakyatnya.
Mereka tak peduli lagi apa itu marxisme. Yang penting mereka bebas berusaha. Kompetisi dirasakan di mana-mana. Formula: "Setiap orang bekerja sesuai dengan kemampuannya, dan mendapat upah sesuai dengan keperluannya" sudah lampau. Koreksi total Deng Xiaoping terhadap Mao sejak akhir 1970-an telah membawa Cina ke lingkungan peradaban modern yang materialistik.
Dan jangan lupa rakyat Cina adalah pekerja keras. Uang adalah ideologinya. Dengan penduduk terbesar di muka bumi plus hulu nuklir yang dimilikinya, Cina tampaknya akan memimpin peradaban masa depan, untuk kebaikan atau untuk keburukan, kita belum bisa mengatakannya. Begitu juga etnis ini punya perantau yang jutaan jumlahnya dengan imperium dan jaringan ekonomi yang juga tak kurang hebatnya. Maka cukup masuk akal bila Barat harus sangat berhati-hati mendekati raksasa yang sedang bangkit ini.
Tetapi, masih ada tetapinya. Sistem kesehatannya sungguh tidak manusiawi. Apa yang dikenal dengan 'pay-as-you-go health system' adalah di antara yang tidak manusiawi itu. Koresponden Kersten Zhang dari The Wall Street Journal, untuk Asia, edisi 5 Des. 2005, hlm. 1-2, telah membeberkan dengan panjang lebar betapa jahatnya sistem kesehatan semacam ini. Seorang bocah bernama Dejie berusia 7 tahun sedang menderita leukemia yang akut. Anak ini tengah bergumul dengan maut karena penyakitnya, sementara orang tuanya tidak cukup mampu untuk membayar biaya RS (Rumah Sakit) di Beijing. Keluarga ini tinggal di daerah pertanian ukuran kecil dekat Mongolia Dalam, 500 km dari Beijing.
Ibu bocah Yang Deyin harus naik bus sejauh itu agar dapat tinggal dekat dengan anaknya yang sedang dirawat. Perempuan ini selama berminggu-minggu harus menunggu sambil duduk di atas sebuah kursi plastik biru di ruang tunggu RS, demi menghemat biaya. Ayah bocah Tuan Cui dengan penghasilan kurang dari $350 per tahun sudah putus asa untuk membiayai pengobatan anak satu-satunya yang mencapai 18.500 dolar AS selama 6,5 bulan pertama. Jika jumlah ini dapat dibayar, maka leukemia yang menyerang Dejie ada harapan untuk disembuhkan. Tetapi bagaimana dengan kantong yang sudah menipis?
Dokter yang merawat Dejie tidak peduli saja. Pokoknya jika dibayar bocah ini dirawat, jika tidak ada uang, hadapilah kematian. Tuan Cui seperti halnya dua per tiga penduduk Cina tidak punya asuransi kesehatan. "Tidak ada semuanya itu," Cui mengeluh. Dia telah menggali seluruh persediaan kentang yang ada di ladangnya. Semuanya sudah tandas terjual, demi anak. Keluhannya yang terdalam berbunyi: "I'll just have to fetch Dejie home to die." (Saya akan terpaksa memboyong Dejie pulang untuk mati," hlm. 2). Inilah jeritan putusasa Cui berhadapan dengan sistem pengobatan RS yang kejam itu. Sedangkan komentar dokter perempuan yang merawat Dejie datar saja: "Sekiranya pasien tidak punya uang untuk menutupi rekening RS, kami harus menghentikan pemeriksaan medis mereka." (Ibid.).
Di Cina RS telah menjadi korporat untuk meraup untung sebesar-besarnya. Sisi-sisi kemanusiaan yang harus ditunjukkan oleh RS sudah digilas oleh roda pembangunan kapitalistik dengan bungkus marxisme. Inilah komentar pahit lain dari Tuan Cui: "Di RS ini …anda menerobos lewat uang lebih cepat ketimbang kertas toilet." (Ibid.). Lagi ucapan seorang dokter via SMS yang dicatat Cui: "Sekarang anda telah kehilangan seluruh uang anda dan anda juga akan kehilangan anakmu." (Ibid.). Ketus, bukan?
Demikian kisah nyata itu. Dejie sampai awal Des. 2005 masih di Beijing, mengharap akan ada mukjizat turun untuk menyelamatkan nyawanya. Selanjutnya sampai akhir Desember, saya belum mendapat informasi tambahan tentang nasib Dejie. Semoga saja bocah lucu dan pintar ini akan berusia panjang, sekalipun leukemia telah menggempurnya melalui serangan yang tak kenal ampun.
|