Publikasi A. Syafii Maarif

Resonansi
Prespektif Gatra

Login Forum

Mar 15 2008
DUNIA TANPA ISLAM PDF Cetak E-mail
Saturday, 15 March 2008

Judul ini bukan dari saya, melainkan berasal dari artikel Graham Fuller, mantan Wakil Ketua CIA, dalam Foreign Policy (edisi Januari-Februari 2008): ''A World Without Islam''. Fuller sekarang adalah guru besar sejarah pada Universitas Fraser, Vancouver. Ia telah menulis beberapa buku tentang Timur Tengah, termasuk The Future of Political Islam (2003).

Judul semacam ini sungguh menyakitkan. Islam seperti akan dihalau dari muka bumi karena dianggap sebagai biang kekacauan global. Bahkan sebagian golongan neokonservatif Amerika menggunakan istilah Islamofascism (fasisme Islam), musuh yang sedang disumpahi dalam sebuah bayangan PD (Perang Dunia) III.

Kekacauan itu terlihat dalam: serangan bunuh diri, bom mobil, pendudukan militer, perjuangan perlawanan, amuk massa, fatwa, jihad, perang gerilya, video ancaman, dan jangan lupa tragedi 11 September 2001 sebagai puncaknya. Pendek kata, sebagian pers Barat memandang Islam sebagai pemicu keonaran di mana-mana, gara-gara perbuatan segelintir orang yang putus asa.

Sebagai sejarawan, tulisan Fuller adalah sebuah imajinasi sejarah, dikemas dari rentetan peristiwa panjang dalam percaturan dunia sejak masa kuno sampai sekarang. Dalam pembacaan saya, Fuller tidak ada maksud untuk mengusir Islam, bahkan malah terkesan ada semacam pembelaan. Pihak lain pun dalam berbagai periode sejarah, katanya, bahkan berbuat lebih brutal.

Data serangan teror tahun 2006 di lingkungan Uni Eropa, tulis Fuller, tercatat sebanyak 498. Dari jumlah ini, sebanyak 424 dilakukan oleh kelompok separatis, sejumlah 55 oleh kaum ekstremis kiri, 18 oleh kekuatan teror lainnya, hanya satu teror yang dilakukan oleh kelompok Islamis. Tetapi, karena Islam telah dijadikan agama tertuduh, akibat ulah sekelompok kecil pemeluknya, maka segala macam keganasan yang terjadi di berbagai negara langsung saja dikaitkan dengan Islam.

Saya sama sekali tidak pernah membela perbuatan teror yang dilakukan oleh segelintir orang Islam, bahkan telah berkali-kali mengutuknya sebagai perbuatan biadab. Tetapi kita harus jujur, untuk mengutip Johan Galtung, bahwa teror yang lebih dahsyat justru dilakukan oleh negara (state-sponsored terrorism). Galtung menyebut Amerika Serikat sebagai negara yang telah bertahun-tahun terlibat dalam perbuatan teror ini, sekalipun PBB belum sepakat untuk menggunakan istilah teror negara ini.

Di samping Amerika, kita harus menambahkan Israel yang sudah lebih dari setengah abad meneror rakyat Palestina. Resep Galtung patut benar dipertimbangkan dalam upaya mengakhiri terorisme: ''To end terrorism, end state terrorism'' (untuk mengakhiri terorisme, akhiri terorisme negara). Pernyataan Galtung ini pertama kali saya baca dalam Just Commentary, Vol. 2, No.9 (September 2002, halaman 1-2), setahun pasca- tragedi WTC.

Sejak tahun 1945 sampai 2002, Amerika Serikat, tulis Galtung, telah melakukan intervensi terhadap negara lain sebanyak 67 kali, baik secara langsung dirancang oleh Pentagon maupun secara rahasia oleh CIA, dengan jumlah kematian sebanyak 12 juta manusia.

Kita kembali ke Fuller. Ada pendapat di kalangan Barat bahwa kenekatan yang dilakukan oleh sekelompok muslim adalah karena benci pada modernitas yang dipercayai telah menghancurkan iman mereka. Jika memang itu yang menjadi pemicu, Fuller malah bertanya: ''Jika Islam membenci modernitas, mengapa mesti ditunggu 11 September untuk melancarkan serangan? Dan mengapa pemikir-pemikir kunci muslim di awal abad ke-20 berbicara tentang perlunya merangkul modernitas, bahkan dalam rangka melindungi kultur Islam?

Dasar penggerak Osama bin Laden pada saat-saat permulaannya sama sekali bukan modernitas --ia berbicara tentang Palestina, pasukan Amerika di Arab Saudi, penguasa Saudi di bawah kontrol Amerika, dan ''Tentara Salib'' modern. Yang pelik adalah karena belum sampai akhir 2001 telah muncul kemarahan mendidih orang Islam yang dialamatkan ke bumi Amerika sendiri, dalam reaksi terhadap sejarah dan peristiwa-peristiwa baru-baru ini yang telah menumpuk, dan terhadap politik Amerika. Jika bukan tragedi 9/11, kejadian serupa pasti tidak dapat dielakkan.

Adalah kenyataan bahwa ''Berlusin-lusin pembunuhan pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 justru dilakukan oleh 'kaum anarkis Eropa dan Amerika', sambil menebarkan bibit ketakutan kolektif. Tentara Republik Irlandia telah melakukan terorisme brutal selama beberapa dasawarsa terhadap Inggris....'' Fuller mau mengatakan bahwa yang terlibat dalam kegiatan teror tidak hanya muslim, melainkan juga banyak yang lain.

Tetapi saya akan menentang keras bahwa ''perbuatan teror harus dilawan dengan teror'', sebab ujungnya hanya satu: harakiri peradaban. Secara doktrin, Islam datang bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk membangun peradaban. Untuk itu, perlu tersedia stamina spiritual yang prima untuk mengamankan dunia dari serbuan segala bentuk terorisme dan keonaran, siapa pun yang melakukannya.

Posisi lemah umat Islam jangan dijadikan alasan untuk berperilaku menyimpang. Sebab taruhannya terlalu besar. Tetapi kaum neokonservatif harus pula menghentikan petualangan imperialistiknya yang telah mengacau dunia sekian lama.

feed2 Comments
Waheb Muthaleb
August 07, 2008
125.164.202.252
Votes: +0

Menarik sekali membaca tulisan diatas sekaligus menghayati ruang pemikiran Buya Syafi'i, terutama karena yang ditanggapi adalah sebuah pengandaian dimana tentunya kita akan bermain-main dalam dunia imanjinasi. Sebagai seorang pemikir tentu menjadi sangat wajar ketika dihadapkan pada kalimat "Andai Dunia Tak Diwarnai Oleh Islam" respon yang muncul pertama kali adalah sakit hati seolah-olah Islam yang begitu kita cintai hendak dilenyapkan oleh pihak asing yang gencar menstereotip ajaran keyakinan ini sebagai biang kekacuan global. pandangan seperti ini barangkali yang mendominasi mayoritas umat Islam diseluruh dunia.

Sedang jika komparasikan dengan pandangan sebaliknya yaitu mereka yang tidak sakit hati membaca judul ini mestinya tidak bisa serta merta dikatakan kecintaan mereka terhadap Islam diragukan. Hal ini hanyalah suatu perbedaan cara pandang dalam cara mencintai Islam. Golongan yang disebut terkahir ini cenderung memperlakukan Islam sebagai media mewujudkan rahmat semesta alam yang diturunkan Allah, sedangkan golongan pertama lebih melihat Islam sebagai rahmat bagi alam yang didalamnya bertuhankan Allah. kesimpulannya bahwa Islam sama-sama dipandang perlu diperjuangkan.

report abuse
vote down
vote up
Waheb Muthaleb
August 07, 2008
125.164.202.252
Votes: -1

Menarik sekali membaca tulisan diatas sekaligus menghayati ruang pemikiran Buya Syafi'i, terutama karena yang ditanggapi adalah sebuah pengandaian dimana tentunya kita akan bermain-main dalam dunia imanjinasi. Sebagai seorang pemikir tentu menjadi sangat wajar ketika dihadapkan pada kalimat "Andai Dunia Tak Diwarnai Oleh Islam" respon yang muncul pertama kali adalah sakit hati seolah-olah Islam yang begitu kita cintai hendak dilenyapkan oleh pihak asing yang gencar menstereotip ajaran keyakinan ini sebagai biang kekacuan global. pandangan seperti ini barangkali yang mendominasi mayoritas umat Islam diseluruh dunia.

Sedang jika komparasikan dengan pandangan sebaliknya yaitu mereka yang tidak sakit hati membaca judul ini mestinya tidak bisa serta merta dikatakan kecintaan mereka terhadap Islam diragukan. Hal ini hanyalah suatu perbedaan cara pandang dalam cara mencintai Islam. Golongan yang disebut terkahir ini cenderung memperlakukan Islam sebagai ramat bagi semesta alam yang diturunkan oleh Allah, sedangkan golongan kedua lebih melihat Islam sebagai rahmat semesta alam yang didalamnya bertuhankan Allah. Kesimpulannya bahwa kedua-duanya sama-sama memandang bahwa Islam perlu diperjuangkan.

report abuse
vote down
vote up

Write comment
 
 
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger
 

security image
Write the displayed characters


busy
Pemutakhiran Terakhir ( Tuesday, 22 April 2008 )
 
< Sebelumnya   Berikutnya >