|
Judul ini bukan dari saya, melainkan berasal
dari artikel Graham Fuller, mantan Wakil Ketua CIA, dalam Foreign Policy
(edisi Januari-Februari 2008): ''A World Without Islam''. Fuller sekarang
adalah guru besar sejarah pada Universitas Fraser, Vancouver. Ia telah menulis
beberapa buku tentang Timur Tengah, termasuk The Future of Political Islam
(2003).
Judul semacam ini sungguh menyakitkan. Islam
seperti akan dihalau dari muka bumi karena dianggap sebagai biang kekacauan
global. Bahkan sebagian golongan neokonservatif Amerika menggunakan istilah Islamofascism
(fasisme Islam), musuh yang sedang disumpahi dalam sebuah bayangan PD (Perang
Dunia) III.
Kekacauan itu terlihat dalam: serangan bunuh diri, bom mobil, pendudukan
militer, perjuangan perlawanan, amuk massa, fatwa, jihad, perang gerilya, video
ancaman, dan jangan lupa tragedi 11 September 2001 sebagai puncaknya. Pendek
kata, sebagian pers Barat memandang Islam sebagai pemicu keonaran di mana-mana,
gara-gara perbuatan segelintir orang yang putus asa.
Sebagai sejarawan, tulisan Fuller adalah sebuah imajinasi sejarah, dikemas dari
rentetan peristiwa panjang dalam percaturan dunia sejak masa kuno sampai
sekarang. Dalam pembacaan saya, Fuller tidak ada maksud untuk mengusir Islam,
bahkan malah terkesan ada semacam pembelaan. Pihak lain pun dalam berbagai
periode sejarah, katanya, bahkan berbuat lebih brutal.
Data serangan teror tahun 2006 di lingkungan Uni Eropa, tulis Fuller, tercatat
sebanyak 498. Dari jumlah ini, sebanyak 424 dilakukan oleh kelompok separatis,
sejumlah 55 oleh kaum ekstremis kiri, 18 oleh kekuatan teror lainnya, hanya satu
teror yang dilakukan oleh kelompok Islamis. Tetapi, karena Islam telah
dijadikan agama tertuduh, akibat ulah sekelompok kecil pemeluknya, maka segala
macam keganasan yang terjadi di berbagai negara langsung saja dikaitkan dengan
Islam.
Saya sama sekali tidak pernah membela perbuatan teror yang dilakukan oleh
segelintir orang Islam, bahkan telah berkali-kali mengutuknya sebagai perbuatan
biadab. Tetapi kita harus jujur, untuk mengutip Johan Galtung, bahwa teror yang
lebih dahsyat justru dilakukan oleh negara (state-sponsored terrorism).
Galtung menyebut Amerika Serikat sebagai negara yang telah bertahun-tahun
terlibat dalam perbuatan teror ini, sekalipun PBB belum sepakat untuk
menggunakan istilah teror negara ini.
Di samping Amerika, kita harus menambahkan Israel yang sudah lebih dari
setengah abad meneror rakyat Palestina. Resep Galtung patut benar
dipertimbangkan dalam upaya mengakhiri terorisme: ''To end terrorism, end
state terrorism'' (untuk mengakhiri terorisme, akhiri terorisme negara).
Pernyataan Galtung ini pertama kali saya baca dalam Just Commentary,
Vol. 2, No.9 (September 2002, halaman 1-2), setahun pasca- tragedi WTC.
Sejak tahun 1945 sampai 2002, Amerika Serikat, tulis Galtung, telah melakukan
intervensi terhadap negara lain sebanyak 67 kali, baik secara langsung
dirancang oleh Pentagon maupun secara rahasia oleh CIA, dengan jumlah kematian
sebanyak 12 juta manusia.
Kita kembali ke Fuller. Ada pendapat di kalangan Barat bahwa kenekatan yang
dilakukan oleh sekelompok muslim adalah karena benci pada modernitas yang
dipercayai telah menghancurkan iman mereka. Jika memang itu yang menjadi
pemicu, Fuller malah bertanya: ''Jika Islam membenci modernitas, mengapa mesti
ditunggu 11 September untuk melancarkan serangan? Dan mengapa pemikir-pemikir kunci
muslim di awal abad ke-20 berbicara tentang perlunya merangkul modernitas,
bahkan dalam rangka melindungi kultur Islam?
Dasar penggerak Osama bin Laden pada saat-saat permulaannya sama sekali bukan
modernitas --ia berbicara tentang Palestina, pasukan Amerika di Arab Saudi,
penguasa Saudi di bawah kontrol Amerika, dan ''Tentara Salib'' modern. Yang
pelik adalah karena belum sampai akhir 2001 telah muncul kemarahan mendidih
orang Islam yang dialamatkan ke bumi Amerika sendiri, dalam reaksi terhadap sejarah
dan peristiwa-peristiwa baru-baru ini yang telah menumpuk, dan terhadap politik
Amerika. Jika bukan tragedi 9/11, kejadian serupa pasti tidak dapat dielakkan.
Adalah kenyataan bahwa ''Berlusin-lusin pembunuhan pada akhir abad ke-19 dan
awal abad ke-20 justru dilakukan oleh 'kaum anarkis Eropa dan Amerika', sambil
menebarkan bibit ketakutan kolektif. Tentara Republik Irlandia telah melakukan
terorisme brutal selama beberapa dasawarsa terhadap Inggris....'' Fuller mau
mengatakan bahwa yang terlibat dalam kegiatan teror tidak hanya muslim,
melainkan juga banyak yang lain.
Tetapi saya akan menentang keras bahwa ''perbuatan teror harus dilawan dengan
teror'', sebab ujungnya hanya satu: harakiri peradaban. Secara doktrin, Islam
datang bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk membangun peradaban. Untuk
itu, perlu tersedia stamina spiritual yang prima untuk mengamankan dunia dari
serbuan segala bentuk terorisme dan keonaran, siapa pun yang melakukannya.
Posisi lemah umat Islam jangan dijadikan alasan untuk berperilaku menyimpang.
Sebab taruhannya terlalu besar. Tetapi kaum neokonservatif harus pula
menghentikan petualangan imperialistiknya yang telah mengacau dunia sekian
lama.
|