|
Judul ini diilhami oleh berita harian Moskow, Pravda
online, 7 Februari lalu, dengan judul: ''U.S. soldiers continue to
commit suicides bidding farewell to their patriotism''. Pravda
umumnya mengutip sumber dari kantor berita Associated Press (AP)
tentang angka-angka prajurit Amerika yang bunuh diri karena putus asa akibat
perang di Afghanistan dan Irak yang berlarut-larut. Jumlah korban dari rakyat
jelata jangan ditanya, sudah puluhan, jika bukan ratusan ribu. Afghanistan
negeri miskin telah porak-poranda, sementara Taliban yang anti-modernisasi itu
makin kuat di kawasan bagian selatan.
Sedangkan Irak negara kaya, tapi pernah jatuh ke
tangan diktator Saddam sekian lama. Amerika mengira, dengan membunuh Saddam,
semuanya akan beres --sebuah kalkulasi politik yang sangat naif. Irak sekarang
sudah terpecah belah dan baku hantam antara berbagai pihak: Syiah, Sunni, dan
Kurdi. Bagi kaum neo-imperialis, korban rakyat jelata dan perang antar-puak
tidak menjadi masalah besar. Dunia pun tidak begitu peduli pada semuanya ini.
Tapi, dengan meningkatnya angka bunuh diri prajurit Amerika, dunia mulai
bereaksi. Pravda menurunkan angka-angka berikut. Tahun 2007 ada 121
tentara Amerika yang diperkirakan bunuh diri, naik 20% dibandingkan dengan
tahun sebelumnya.
Dari angka itu, sebanyak 89 sudah jelas bunuh diri, sedangkan 32 masih
diselidiki pihak Amerika. Perkiraan yang mencoba bunuh diri atau menganiaya
diri sendiri mencapai 2,100 pada 2007. Tahun 2006, jumlah itu kurang dari
1.500. Jika dirinci lagi, maka gambarannya adalah: dari 500.000 prajurit yang
bertugas tahun 2006, ada 17.5 orang yang bunuh diri per 100.000. Angka-angka
ini bergelombang, terendah terjadi pada 2001 sebanyak 9,1 per 100.000 prajurit.
Pravda dengan nada duka menulis: ''Banyak di antara mereka yang
mengambil keputusan untuk mengucapkan selamat tinggal kepada dunia akibat
perang yang tak berkesudahan di Irak dan Afghanistan'', dua negeri muslim yang
bernasib sangat malang di awal abad ke-21. Kita dapat menambahkan bahwa
sementara negara muslim yang turut terlibat dalam perang di Afghanistan
semestinya melakukan taubat nasional, karena telah ditipu Amerika dan sekutunya
untuk menghancurkan saudaranya sendiri --yang sayangnya juga mereka tidak
selalu siuman.
Mereka juga saling membunuh demi politik kekuasaan dengan bendera agama. Inilah
di antara tragedi kemanusiaan yang berlaku di sementara bangsa muslim: mereka
kehilangan kepercayaan terhadap masa depan, sedangkan sebagian yang lain malah
tidak hirau pada proses kehancuran ini. Saya tidak tahu apa rencana besar Allah
di balik semua malapetaka dahsyat ini.
Kembali pada prajurit Amerika yang telah dikorbankan untuk mendukung nafsu
bejat neo-imperialisme yang masih saja ingin mengangkangi dunia, sesuatu yang
tidak zaman lagi. Itulah sebabnya, gelombang anti-perang di kalangan anak muda
Amerika makin hari semakin membesar. Yang aneh adalah kasus John McCain, 71
tahun, dari Partai Republik, yang anti-Perang Vietnam dan telah dihukum lima
tahun perjara karena pilihannya itu, tapi justru mendukung invasi terhadap
Irak.
Saya gagal memahami logika yang tidak logis seorang McCain yang sudah hampir
dapat dipastikan akan maju sebagai kandidat presiden dari partainya dalam
pertarungan 4 November 2008. Bukan saja McCain sebenarnya yang bersikap
demikian. Hillary Clinton pun pernah mendukung rencana invasi itu, yang
sekarang dijadikan peluru oleh saingannya sesama Partai Demokrat: Barack
Hussein Obama.
Inilah gambaran dunia di awal abad ke-21. Korban terbesar harus dipikul rakyat
Afghanistan dan rakyat Irak. Dan sebelum itu bahkan sampai hari ini, rakyat
Palestina telah jadi bulan-bulanan zionisme yang didukung Amerika. Sekarang
menyusul Pakistan yang nasib masa depannya juga tidak jelas.
Bagaimana Indonesia? Sejak beberapa tahun ini telah digempur oleh kemarahan alam,
sementara korupsi dan kelakuan sebagian politisinya juga makin gelap mata.
Karena itu, kita perlu menyiapkan stamina spiritual yang tahan banting untuk survive
(melangsungkan hidup) di sebuah planet bumi yang tidak ramah sambil bekerja
keras untuk berbuat baik kepada sesama. Bagaimana ujung perjalanan kita,
semuanya berada dalam rahasia Allah.
Akhirnya, karena malapetaka tersebut sering dikaitkan orang dengan kehadiran
Islam, maka saya perlu menambahkan fakta ini: semua peristiwa di atas terjadi
di dunia nyata, sementara di dunia maya lain pula petanya. Apa yang disebut
Islamlib (Islam liberal) dan Islamlit (Islam literal) atau nama lain Islam
moderat dan Islam puritan juga sedang asyik bergelut di dunia maya, adu wacana,
sementara keduanya sama-sama terkapar di buritan peradaban. Bukankah ini juga
panorama lain yang perlu dicermati oleh mereka yang berpikir?
|