|
Bila mengunjungi website ini:
www.gilad.co.uk, Anda akan tahu bahwa Gilad Atzmon adalah seorang pemusik jazz
papan atas di London. Namanya mendunia sejak beberapa tahun terakhir. Tapi website
ini tidak akan menjelaskan bahwa Atzmon telah lama larut dalam penderitaan
Palestina, dan karena itu dengan kesadaran sendiri melalui telinga batin musik
ia harus mengucapkan sayonara kepada zionisme, sebuah pilihan yang
semula tidak mudah.
Sekarang, setelah melalui upaya keras, Atzmon
telah mahir memainkan musik Arab yang sebelumnya terdengar sangat aneh di
telinganya. Saya baru tahu pergumulan batin mantan zionis ini setelah membaca
artikelnya yang sangat mengharukan dalam The Palestine Chronicle on-line,
awal tahun 2008 ini: ''On Music, War and Empathy''. Mengapa artikel ini perlu
disimak? Karena ada sesuatu yang dalam di sana. Sebuah nilai kemanusiaan
universal telah diungkapkannya dengan bahasa yang jujur, polos, sekalipun harus
membongkar borok dan dosa pohon keluarga. Di antara kepolosan itu berbunyi:
''Saya besar di Israel dalam sebuah keluarga zionis agak sekuler. Nenek
laki-laki saya adalah seorang veteren teroris karismatik puitik, mantan
komandan sayap kanan organisasi teror Irgun. Saya mesti mengakui bahwa ia punya
pengaruh dahsyat atas diri saya di masa-masa awal. Kebenciannya terhadap apa
saja yang gagal untuk menjadi Yahudi merupakan sebuah inspirasi penting.
''Sebagai veteran teroris sayap kanan, selain bangga sebagai seorang dari suku
Yahudi, ia sangat maklum bahwa paham kesukuan tidak akan pernah damai dengan
humanisme dan universalisme... bangsa Arab pada umumnya dan Palestina khususnya
harus dihadapi tanpa takut dan dengan kekerasan. Sambil mengutip lagu Betar,
ia berulang kali mengatakan: 'Dalam darah dan keringat, kita akan membangun ras
kita'... kami memandang dunia melalui teropong rasis dan syofinis.''
Itulah lingkungan psiko-kultural yang membentuk Atzmon, sampai pada suatu hari
ia menyatakan talak tiga atas semua kepalsuan itu.
Pernyataan yang tidak kurang beraninya adalah manakala Atzmon rindu pulang
kampung, yang teringat bukan Tel Aviv, Haifa, atau Yerusalem, melainkan
Palestina yang teraniaya. Sebelum terjadi titik kisar dalam perjalanan
batinnya, Atzmon tidak pernah merasa tertarik oleh seruan azan di masjid di
bukit-bukit. Nyanyian Ummi Kaltsum, Farid el-Atrash, Abdel Hakim Hafez, yang
sering didengarnya, tidak punya pengaruh apa-apa terhadap dirinya.
Tapi, setelah melewati tahun demi tahun, terjadilah perubahan fundamental dalam
dirinya, lalu sampai pada pengakuan ini: ''Saya mulai menyadari bahwa saya
sebenarnya hidup di bumi orang lain. Saya mulai berpendirian bahwa fakta yang
menghancurkan yang terjadi tahun 1948, pada saat rakyat Palestina tidak rela
pergi, tapi yang sebenarnya berlaku adalah pembersihan etnis secara brutal oleh
nenek saya dan teman-temannya. Saya mulai menyadari bahwa pembersihan etnis
tidak pernah berhenti di Israel, hanya bentuk dan formatnya yang berbeda.''
Atzmon memberikan contoh paling gamblang tentang Law of Return (Undang-Undang
Pulang Kampung) yang sepenuhnya berorientasi rasial. Dalam undang-undang ini,
orang Yahudi yang sudah menghilang selama dua ribu tahun boleh saja pulang ke
Israel, sedangkan rakyat Palestina yang baru dua tahun pergi tidak boleh lagi
pulang ke desanya. Atzmon tidak bisa menerima semuanya ini. Apalagi, ia
menyadari bahwa kaum zionis tidak punya hak tinggal di tanah Palestina.
Itulah sebabnya, Atzmon mengasingkan diri secara sukarela untuk tinggal di
Eropa, mengembara dalam dunia musik yang telah mengajarkannya kearifan
spiritual: ''Doktrin keangkuhan ras Yahudi adalah sebuah kepalsuan.'' Atzmon
banyak belajar pada musik jazz pemusik kulit hitam Amerika. Ternyata di sana
terdapat keindahan, kahalusan, kebenaran, dan kemanusiaan universal. Supremasi
rasial yang selama ini menipu Atzmon telah dihalaunya dengan penuh keyakinan
dan kesadaran, dan tentu dengan segala risiko.
Atzmon, dalam usianya sekarang 45 tahun, sering ditanya oleh media Arab:
''Gilad, bagaimana sampai Anda mengamati banyak hal yang gagal dilihat oleh
orang Israel?'' Jawaban Atzmon adalah seperti berikut: ''Memang tidak banyak
orang Israel menafsirkan kegagalan etis Israel sebagai sebuah simptom yang
melekat (inherent). Selama bertahun-tahun, saya tidak punya jawaban
untuk ditawarkan. Tapi baru-baru ini saya menyadari bahwa itu semua mesti
terkait dengan saksofon (musik) saya. Musiklah yang telah menentukan
pandangan-pandangan saya mengenai konflik Israel-Palestina dan yang telah
membentuk kritik saya terhadap jati diri Yahudi.''
Itulah Gilad Atzmon, sahabat kita, yang kini tampil menjadi juru bicara
penderitaan rakyat Palestina. Mungkin intensitasnya melebihi kebanyakan orang
Arab, bukan?
|