|
Kita tidak tahu pasti kapan umat Islam pertama
kali mulai berpuasa dan ber-Idul Fitri di Nusantara yang elok ini. Jika hasil
seminar Medan 1963 dijadikan patokan, berarti sejak abad ke-7/8 sudah ada
penghuni muslim di beberapa kawasan kepulauan ini. Itu artinya sudah
berlangsung sekitar 14 abad orang beriman berpuasa Ramadan dan merayakan Idul
Fitri.
Nama Nusantara digunakan di sini karena Indonesia
sebagai bangsa dan negara pada abad itu belum ada bayangan sama sekali. Nama
Indonesia baru beredar tahun 1922 di kalangan PI (Perhimpunan Indonesia) di
Negeri Belanda, menggantikan sebutan Hindia Timur.
Tetapi proses Islamisasi besar-besaran baru terjadi sejak awal abad ke-17,
justru pada saat VOC (1602-1799) mulai mencengkeramkan kuku, memonopoli jalur
perdagangan rempah-rempah di Nusantara. Sebelumnya, sejak abad ke-15, para
pangeran Hindu atau Buddha pedalaman Jawa mulai beraliansi dengan saudagar-saudagar
muslim sambil pindah agama, pertama, untuk mempertahankan posisi, kedua, untuk
menghadapi ancaman pendatang Barat.
Aliansi ini semakin mempercepat proses Islamisasi yang sangat fenomenal itu.
Belum ada jawaban tuntas mengapa kemudian proses itu berjalan begitu dahsyat,
seperti tak ada kekuatan lain yang mampu menghalanginya. Maka, jadilah sampai
hari ini Indonesia dikenal sebagai bangsa muslim terbesar di muka bumi,
setidak-tidaknya secara kuantitatif.
Karena Perspektif ini tidak sedang bersejarah-ria, maka kita kembali
saja kepada topik tentang Ramadan, Idul Fitri, yang dikaitkan dengan kondisi
bangsa. Tidak perlu terlalu runtut, sebagaimana ilmu sejarah menuntutnya.
Tenggang waktu selama 14 abad berpuasa dan ber-Idul Fitri bukanlah perjalanan
pendek.
Selama itu, umat Islam di Nusantara ini telah berupaya menyucikan diri dalam
pengembaraan spiritual untuk meraih takwa (kesadaran tentang kehadiran Allah
yang senantiasa mengawal perjalanan hidupnya), tetapi mengapa setelah merdeka
bangsa ini masih jauh dari keadaan suci? Agama seakan-akan telah berubah
menjadi ritual hampa, tidak ada kaitannya dengan perbaikan prilaku kolektif
kita sebagai bangsa muslim nomor wahid dalam hitungan jumlah pemeluk.
Lebih dari 62 tahun Indonesia merdeka, kondisi kita rasanya belum juga membaik,
bahkan malah melorot. Jangankan bertambah suci dan takwa dengan implikasinya
yang luhur dan mulia, lingkungan kultur kumuh terasa semakin sulit ditembus
oleh nurani dan akal sehat. Kumuh politik, kumuh ekonomi, kumuh sosial, dan
puncaknya kumuh moral, sekalipun kita berpuasa, bertarawih, dan disudahi pada
saatnya ber-Idul Fitri.
Data terakhir menunjukkan, bangsa ini tidak semakin mampu berdiri tegak di atas
kedaulatannya sendiri. Kedaulatan itu kini, khususnya kedaulatan ekonomi, sudah
sangat rapuh. Kabarnya, di tahun 2007 ini sekitar 85% aset strategis negara
telah dikuasai asing, seperti Indosat, pertambangan, dan perbankan.
Jika tren ini berlangsung terus, kesadaran dan rasa tanggung jawab sebagai
bangsa tetap saja digerogoti oleh kerakusan akrobatik yang tidak mengenal
batas. Maka ,mari kita siap-siap menghadapi sebuah era untuk menjadi bangsa
kuli. Tidak dalam makna simbolik, tetapi memang sebenarnya kuli. Pada saat itu
adalah sebuah nonsens dan tipuan besar jika orang masih saja berbicara tentang
nasionalisme, patriotisme, sementara pundi-pundi bangsa telah dilego kepada
pihak asing demi menutup APBN yang selalu defisit, sekalipun dibungkus dalam
jubah anggaran berimbang.
Pertanyaan yang sangat krusial adalah: apakah negeri ini memang mau digadaikan
karena kita tidak mampu memegang amanah kemerdekaan yang dulu telah dirumuskan
dalam formula yang padat dan padu? Pada waktu itu, kita ingin secepatnya
melihat bangsa ini lepas dari mental terjajah, tetapi mengapa kemudian melalui
berbagai helah penjajahan itu kita undang kembali? Ramadan semestinya membawa
kita ke gerbang kemenangan di hari raya Idul Fitri, tetapi mengapa bangsa
muslim terbesar ini selalu saja keok dalam perlombaan peradaban?
Kualitas perpolitikan kita telah merosot ke titik nadir, ekonomi suram, sosial
sarat konflik, dan pandangan moral rabun, tidak kuasa lagi membedakan antara
terang siang dan gelap malam. Filosofi mumpungisme yang dianut menjadi penyebab
utama mengapa bangsa ini terseok-seok dalam keletihan. Harga diri pun sudah
menipis, seperti tak layak merdeka.
Inilah sebuah bangsa cantik dengan ribuan pulau, diapit oleh dua benua, dikawal
oleh dua lautan, yang masih belum paham juga akan ke mana mengayunkan langkah
ke depan. Para pemimpin masih saja berkicau dengan 1001 janji, sarat retorika,
sementara angka kemiskinan belum banyak berkurang. Masih sekitar 40 juta rakyat
kita yang telantar. Korupsi jangan ditanya lagi.
Dengan berdalih bahwa bencana alam telah terlalu membebani bahu bangsa ini,
tidak salah, tetapi mengapa kondisi kita seperti kampung tidak bertuan bukanlah
masalah alam, melainkan sepenuhnya masalah kepemimpinan yang belum juga
terselesaikan oleh berbagai sistem politik sampai detik ini.
Selamat Idul Fitri 1428, mohon maaf lahir-batin.
|