|
Sekalipun sekularisme Kemalis masih didukung
oleh elite militer yang kaku dan keras kepala plus beberapa partai politik,
sebagian besar rakyat Turki tampaknya sudah semakin muak dengan budaya politik
yang serba duniawi lagi korup itu. Sekiranya rezim sekuler yang berdiri pada 29
Oktober 1923 ini mampu membawa Turki menjadi bangsa dan negara maju yang adil,
tantangan populis terhadapnya tidak akan sehebat dan sedahsyat seperti sekarang
ini.
Sejarah belum tentu akan menyambut kedatangan
Erdogan (Recep Tayyip Erdogan) dengan sikap penuh simpati. Di tangan Erdogan,
kita berharap Islam memberi solusi terhadap berbagai masalah domestik dan
global dalam upaya membangun peradaban yang asri, bukan untuk menakuti dunia
dengan membangun rezim primitif yang mengatasnamakan Tuhan.
Sebenarnya sudah sejak tahun 1950, 12 tahun pasca-Kemal Ataturk (w. 1938),
sebagian rakyat Turki yang 97% muslim itu mulai bertanya mengapa mereka
dipisahkan dengan Islam sebagai agama dan kekuatan kultural. Islam sudah
mengakar dalam jiwa bangsa Turki selama rentang waktu yang panjang, sejak
sekitar abad ke-10, pada saat Imperium 'Abbasiyah (749-1258) mulai melemah.
Palu godam terakhir dipukulkan oleh Hulagu atas kota Baghdad pada 1258, yang
menyudahi karier imperium yang sudah membusuk itu untuk selama-lamanya.
Pewarisnya yang paling perkasa adalah Imperium Turki Usmani (1299-1924) yang
bertahan hampir tujuh abad. Banyak catatan yang dapat direkam tentang imperium
ini, baik yang mulia maupun yang keji.
Yang mulia tidak akan diturunkan di sini, tetapi yang keji perlu diingat, agar
kekuasaan yang dikaitkan dengan Islam harus bersikap ekstra hati-hati dengan
agama ini. Erdogan dan partainya, AKP (Adalet ve Kalkinma Partisi/Partai
Keadilan dan Pembangunan), harus bijak melangkah. Mereka harus belajar dari
kelampauan secerdas mungkin.
Di antara kekejian yang mencoreng Imperium Turki Usmani adalah kelakuan Sultan
Selim I (1512-1520), sultan ke-9, yang diberi julukan Yavuz (kejam dalam bahasa
Turki). Demi kelangsungan Dinasti Usmani, Selim tega membunuh dua saudara dan
beberapa anak kandungnya untuk melapangkan jalan bagi anaknya yang lain,
Sulaiman I (1520-1566), yang kemudian dikenal sebagai Sulaiman yang Agung. Di
bawah Sulaiman, Turki Usmani mencapai puncak kejayaannya. Kemudian imperium
yang sudah lelah ini redup secara berangsur tapi pasti sampai lenyap pada 1924.
Siapa Erdogan? Politisi kelahiran 1954 dan jago bola ini adalah sarjana
manajemen dari Universtas Marmara, Istanbul. Tahun 1970, dalam usia belia, ia
sudah terjun ke dunia politik lewat MSP (Milli Selamet Partisi/Partai Orde
Nasional) pimpinan Dr. Necmettin Erbakan, sebuah partai yang dicurigai militer
karena dianggap anti-sekularisme. Kemudian terjadi kudeta militer tahun 1980.
Rezim berkuasa melarang semua parpol.
Pada saat itu, Erdogan bekerja pada Otoritas Transportasi Istanbul. Aneh bin
ajaib, bosnya menyuruh Erdogan mencukur kumisnya karena dikatakan berbau Islam.
Erdogan menampik, lalu ia keluar untuk kemudian memasuki dunia bisnis dan
politik. Sekularisme Turki ternyata juga mengurus kumis, tetapi gagal mengurus
kemakmuran rakyat.
Tahun 1983, pada saat angin demokrasi bertiup di Turki, Erdogan menyertai
partai RP (Refah Partisi/Partai Kemakmuran), juga pimpinan Erbakan. Tahun 1994,
Erdogan terpilih jadi Wali Kota Istanbul, sebuah kota metropolitan terbesar
dengan penduduk sekitar 10 juta.
Karena RP selalu dicurigai politisi sekuler, maka pemerintah membubarkan RP.
Erdogan dianggap dapat mengguncangkan bangunan sekularisme setelah ia
membacakan puisi yang bernuansa Islam. Dia ditangkap, kemudian dihukum 10
bulan, tapi entah apa sebabnya tiba-tiba dikurangi menjadi empat bulan.
Sebagai politikus berbakat dan cerdik, setelah pembebasannya, Erdogan tidak
menyia-nyiakan peluang politik yang semakin terbuka. Pada 2001, partai baru AKP
dibentuknya. Ibarat menjolok buah ranum yang hampir jatuh, dalam pemilu
November 2002, AKP keluar sebagai pemenang dengan meraup 363 dari 550 kursi
yang tersedia di parlemen. Dunia sekuler Turki sempoyongan.
Tetapi selalu saja dicegah agar Erdogan jangan sampai menjadi perdana menteri
dengan mengaitkan dosa baca puisi yang dianggap anti-sekuler itu. Tetapi
Erdogan tidak kehilangan akal. AKP cepat mendukung upaya amendemen konstitusi
yang membuka jalan baginya untuk jadi perdana menteri, dan berhasil. Pada Maret
2003 ia dilantik jadi perdana menteri.
Popularitasnya semakin berkibar tak terbendung lagi. Dalam pemilu Juli 2007,
untuk kedua kalinya AKP meraih kemenangan dengan 341 kursi di parlemen. Harapan
kita, tokoh berkumis ini pandai meniti buih agar selamat membawa Islam sampai
ke seberang. Di tangan Erdogan, Islam menawarkan solusi, bukan slogan
formalisme seperti yang diusung berbagai kelompok yang buta realitas. Selamat
Erdogan, tidak mudah bagi Anda menghapus citra Islam yang dituduh orang sebagai
agama anti-demokrasi. You are on the right track, for sure! (Diramu dari
berbagai sumber).
|