Publikasi A. Syafii Maarif

Resonansi
Prespektif Gatra
Jul 21 2007
FAKTOR ISLAM PDF Print E-mail
Sunday, 22 July 2007

Dalam sebuah kuliah di Universitas Chicago awal 1980-an, guru saya, almarhum Fazlur Rahman, pernah mengeluhkan tentang betapa carut-marutnya dunia Islam. Sampai-sampai terlontar ucapan ini: "We live in a different kind of Islam, not in a Qur'anic Islam (Kita hidup dalam sebuah Islam yang lain, bukan Islam Qurani.)''

Pernyataan itu sering saya ulang di berbagai forum untuk menunjukkan betapa jauhnya rentangan jarak antara cita-cita Al-Quran tentang persaudaraan dan realitas umat yang berkeping-keping. Kita ambil contoh tentang betapa sulit dan rumitnya umat Islam menggalang semangat persaudaraan yang begitu tegas dan tajam diperintahkan Kitab Suci. Tengoklah contoh yang masih hangat di Irak dan Afghanistan yang tercabik-cabik oleh berbagai faksi dan golongan.

Tengoklah faksi Fatah dan faksi Hamas yang menembakkan peluru untuk saling membunuh. Tengok pula negeri-negeri muslim di mana persaudaraan inter-umat sering benar terkoyak. Umumnya faktor politiklah yang menjadi pemicu utama mengapa umat ini masih saja sempoyongan berjalan di muka bumi.

Kita tentu boleh dan sah saja membidik pihak lain sebagai kekuatan yang mengadu domba kita sesama muslim. Tetapi hendaklah senantiasa diingat bahwa pihak asing itu hanyalah mungkin mengacaukan barisan kita yang memang sudah dalam keadaan kacau. Ketika umat sedang diracuni oleh proses pembusukan yang parah dari dalam, ketika itu pulalah musuh luar semakin bergairah melemahkan, jika bukan menghancurkan kita, kemudian "merampok" kekayaan kita.

Kita sering benar tak berdaya. Apalagi beberapa negeri muslim memang punya daya tarik besar bagi pihak asing berupa kekayaan bumi yang dahsyat: minyak, batu bara, emas, dan perkayuan. Semuanya ini sangat menggoda dunia, khususnya minyak yang hampir 70% berada di bumi muslim.

Tetapi, mengapa sebagian besar negeri muslim tetap saja menderita dan miskin, sementara sedikit yang lain makmur? Jawabannya sederhana: rasa kesetiakawanan kita masih rapuh. Ada tetesan bantuan sekadarnya di sana-sini untuk bangsa miskin, tetapi tidak untuk memberdayakan, hanya sekadar tidak mati kelaparan.

Itulah sebabnya, mengapa kepiluan kita terasa amat dalam dan menghunjam karena melihat kekayaan itu tidak semakin mendekatkan hati sesama muslim untuk saling membantu, malah semakin menjauhkan. Tidak jarang senjata minyak telah dijadikan alat oleh negeri-negeri muslim yang kaya untuk menekan dan memaksa bangsa muslim lain untuk tunduk ke bawah duli hegemoninya, demi politik kekuasaan.

Dalam perjalanan sejarah umat, faktor Islam sebagai perekat persaudaraan sering benar diabaikan, sepertinya Islam tidak dapat diandalkan lagi untuk mempertemukan kita. Yang lebih ironis lagi adalah kenyataan, tidak jarang sebuah negeri muslim kaya minyak malah menyerahkan pundi-pundinya untuk "diperas" pihak asing yang jelas tidak rela melihat Islam muncul sebagai kekuatan yang turut menentukan perjalanan peradaban global.

Anehnya, yang diperas merasa dilindungi. Kawasan Asia Barat yang kaya itu sudah agak lama berada di bawah pengaruh kuat Amerika, sementara retorika politik mereka mengatakan anti-dominasi asing. Alangkah tidak seronoknya pertunjukan ini!

Dalam pada itu, perlu pula dicatat bahwa kesadaran untuk saling membantu sesama umat Islam terasa lemah dari waktu ke waktu. Kita memang hidup dalam sebuah Islam yang lain. Bukan Islam otentik, bukan Islam yang diajarkan Nabi, kecuali dalam bentuk-bentuk ritual yang sarat simbol serimonial, tetapi seringkali telah menjadi tunamakna. Nyaris tidak terlihat korelasi signifikan antara simbol dan perilaku kita sesama bangsa muslim. Cita-cita Al-Quran tentang persaudaraan imaniah kita campakkan begitu saja ke dalam limbo sejarah.

Engkau Mahatahu, ya Allah, sampai berapa lama kondisi tidak menentu ini akan berlangsung. Hamba-hamba-Mu yang baik tentu masih ada, tetapi alangkah tidak berdayanya mereka. Mereka tak henti-hentinya berdoa, tetapi masih berkenankah Engkau memberi jawaban? Engkau melarang kami berputus asa, betapapun pahit dan getirnya perasaan kami. Dan kami memang tidak akan berputus asa.

Firman Engkau dalam surat Yusuf ayat 110 yang maknanya berbunyi: "Sehingga manakala para rasul tidak punya harapan lagi dan mengira bahwa mereka telah didustakan, (barulah) datang pertolongan Kami, lalu diselamatkan siapa yang Kami kehendaki; sedangkan siksaan Kami tidak bisa ditolak oleh para pendosa" memberi isyarat kepada kami untuk terus berbuat sambil menunggu datangnya pertolongan-Mu, demi menginsafkan kami semua yang telah larut dalam dosa dan dusta.

Kami tidak akan berpaling sampai Islam datang menjadi faktor penentu untuk mempertautkan kembali hati dan jiwa kami yang masih berserakan, berantakan! Mohon jeritan ini Engkau dengarkan, ya Allah!

feed0 Comments

Write comment
 
 
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger
 

security image
Write the displayed characters


busy
Last Updated ( Tuesday, 22 April 2008 )
 
< Prev   Next >

Adobe Acrobat X Professional Student & Teacher Edition
Lynda After Effects CS5 New Features
Joboshare AVI to DVD Converter
Adobe InCopy CS5 Student and Teacher Edition
Roxio Toast 10 Titanium Pro for Mac
Bigasoft DVD Ripper
Adobe Indesign CS5.5
Microsoft Office 2008 Standard Edition for Mac
Painter Picker MAC
ACDSee Pro 3
Microsoft Office Home and Business 2010 32 Bit