|
Dalam sebuah kuliah di Universitas Chicago awal
1980-an, guru saya, almarhum Fazlur Rahman, pernah mengeluhkan tentang betapa
carut-marutnya dunia Islam. Sampai-sampai terlontar ucapan ini: "We
live in a different kind of Islam, not in a Qur'anic Islam (Kita hidup
dalam sebuah Islam yang lain, bukan Islam Qurani.)''
Pernyataan itu sering saya ulang di berbagai
forum untuk menunjukkan betapa jauhnya rentangan jarak antara cita-cita
Al-Quran tentang persaudaraan dan realitas umat yang berkeping-keping. Kita
ambil contoh tentang betapa sulit dan rumitnya umat Islam menggalang semangat
persaudaraan yang begitu tegas dan tajam diperintahkan Kitab Suci. Tengoklah
contoh yang masih hangat di Irak dan Afghanistan yang tercabik-cabik oleh
berbagai faksi dan golongan.
Tengoklah faksi Fatah dan faksi Hamas yang menembakkan peluru untuk saling
membunuh. Tengok pula negeri-negeri muslim di mana persaudaraan inter-umat
sering benar terkoyak. Umumnya faktor politiklah yang menjadi pemicu utama
mengapa umat ini masih saja sempoyongan berjalan di muka bumi.
Kita tentu boleh dan sah saja membidik pihak lain sebagai kekuatan yang mengadu
domba kita sesama muslim. Tetapi hendaklah senantiasa diingat bahwa pihak asing
itu hanyalah mungkin mengacaukan barisan kita yang memang sudah dalam keadaan
kacau. Ketika umat sedang diracuni oleh proses pembusukan yang parah dari
dalam, ketika itu pulalah musuh luar semakin bergairah melemahkan, jika bukan
menghancurkan kita, kemudian "merampok" kekayaan kita.
Kita sering benar tak berdaya. Apalagi beberapa negeri muslim memang punya daya
tarik besar bagi pihak asing berupa kekayaan bumi yang dahsyat: minyak, batu
bara, emas, dan perkayuan. Semuanya ini sangat menggoda dunia, khususnya minyak
yang hampir 70% berada di bumi muslim.
Tetapi, mengapa sebagian besar negeri muslim tetap saja menderita dan miskin,
sementara sedikit yang lain makmur? Jawabannya sederhana: rasa kesetiakawanan
kita masih rapuh. Ada tetesan bantuan sekadarnya di sana-sini untuk bangsa
miskin, tetapi tidak untuk memberdayakan, hanya sekadar tidak mati kelaparan.
Itulah sebabnya, mengapa kepiluan kita terasa amat dalam dan menghunjam karena
melihat kekayaan itu tidak semakin mendekatkan hati sesama muslim untuk saling
membantu, malah semakin menjauhkan. Tidak jarang senjata minyak telah dijadikan
alat oleh negeri-negeri muslim yang kaya untuk menekan dan memaksa bangsa
muslim lain untuk tunduk ke bawah duli hegemoninya, demi politik kekuasaan.
Dalam perjalanan sejarah umat, faktor Islam sebagai perekat persaudaraan sering
benar diabaikan, sepertinya Islam tidak dapat diandalkan lagi untuk
mempertemukan kita. Yang lebih ironis lagi adalah kenyataan, tidak jarang
sebuah negeri muslim kaya minyak malah menyerahkan pundi-pundinya untuk
"diperas" pihak asing yang jelas tidak rela melihat Islam muncul
sebagai kekuatan yang turut menentukan perjalanan peradaban global.
Anehnya, yang diperas merasa dilindungi. Kawasan Asia Barat yang kaya itu sudah
agak lama berada di bawah pengaruh kuat Amerika, sementara retorika politik mereka
mengatakan anti-dominasi asing. Alangkah tidak seronoknya pertunjukan ini!
Dalam pada itu, perlu pula dicatat bahwa kesadaran untuk saling membantu sesama
umat Islam terasa lemah dari waktu ke waktu. Kita memang hidup dalam sebuah
Islam yang lain. Bukan Islam otentik, bukan Islam yang diajarkan Nabi, kecuali
dalam bentuk-bentuk ritual yang sarat simbol serimonial, tetapi seringkali
telah menjadi tunamakna. Nyaris tidak terlihat korelasi signifikan antara
simbol dan perilaku kita sesama bangsa muslim. Cita-cita Al-Quran tentang
persaudaraan imaniah kita campakkan begitu saja ke dalam limbo sejarah.
Engkau Mahatahu, ya Allah, sampai berapa lama kondisi tidak menentu ini akan
berlangsung. Hamba-hamba-Mu yang baik tentu masih ada, tetapi alangkah tidak
berdayanya mereka. Mereka tak henti-hentinya berdoa, tetapi masih berkenankah
Engkau memberi jawaban? Engkau melarang kami berputus asa, betapapun pahit dan
getirnya perasaan kami. Dan kami memang tidak akan berputus asa.
Firman Engkau dalam surat Yusuf ayat 110 yang maknanya berbunyi:
"Sehingga manakala para rasul tidak punya harapan lagi dan mengira bahwa
mereka telah didustakan, (barulah) datang pertolongan Kami, lalu diselamatkan
siapa yang Kami kehendaki; sedangkan siksaan Kami tidak bisa ditolak oleh para
pendosa" memberi isyarat kepada kami untuk terus berbuat sambil menunggu
datangnya pertolongan-Mu, demi menginsafkan kami semua yang telah larut dalam
dosa dan dusta.
Kami tidak akan berpaling sampai Islam datang menjadi faktor penentu untuk
mempertautkan kembali hati dan jiwa kami yang masih berserakan, berantakan!
Mohon jeritan ini Engkau dengarkan, ya Allah!
|