Publikasi A. Syafii Maarif

Resonansi
Prespektif Gatra

Login Forum

May 26 2007
KESAKSIAN ALI SASTROAMIDJOJO: GUGATAN HARI KEBANGKITAN NASIONAL PDF Cetak E-mail
Sunday, 27 May 2007

Siapa yang tidak kenal Ali Sastroamidjojo (1903-1975)? Tokoh kelahiran Grabag Marbabu ini adalah salah seorang bapak pendiri bangsa dan negara Indonesia. Komitmen kebangsaannya diawali sejak tahun 1923, saat ia bergabung dengan PI (Perhimpunan Indonesia) di Negeri Belanda. Sebagai tokoh PNI, kiprahnya di panggung politik bangsa sangat menonjol, dan pada masa Demokrasi Terpimpin (1959-1966) menjadi tokoh kontroversial.

Karier politik Ali cukup panjang dan beragam. Pernah jadi duta besar, menteri, dan dua kali jadi perdana menteri di era Demokrasi Parlementer (1950-1959). Pernah melawan Bung Karno sewaktu kabinet yang sedang disusunnya sebagai formatur tetap saja ditolak, karena PKI tidak dimasukkan. Ali bertahan, akhirnya dengan perasaan dongkol Bung Karno melantik Kabinet Ali ke-2 itu pada 24 Maret 1956, menggantikan Kabinet Burhanuddin Harahap, yang sebelumnya telah berjaya menyelenggarakan pemilu I pada 1955, sebuah pemilu yang aman dan demokratis di tengah-tengah perbenturan ideologi politik yang sangat tajam.

Perspektif ini tidak akan mengulas karier politik tokoh PNI ini lebih panjang, karena memang bukan itu yang hendak dikatakan pada saat memperingati ulang tahun "Kebangkitan Nasional ke-99", tanggal 20 Mei 2007. Tanda kutip di sini menjadi sangat penting karena dari sudut sejarah saya meragukan keputusan untuk penetapan tanggal 20 Mei 1908, hari berdirinya BU (Budi Utomo), sebagai awal Kebangkitan Nasional.

Kesaksian Ali Sastroamidjojo dalam otobiografinya, Tonggak-Tonggak Di Perjalananku (Jakarta: Kinta 1974, halaman 43), saya jadikan salah satu alasan untuk menolak, atau setidak-tidaknya mempertanyakan validitas historis terhadap keputusan politik di atas. Argumen saya semata-mata sejarah, bukan yang lain. Inilah kesaksian Ali pada tahun 1923 yang harus dikutip agak panjang karena teramat penting bagi dasar gugatan saya:

"Kesadaran kebangsaan saya baru sampai pada taraf kesukuan Jawa. Dari sebab itu turut mengalami saat-saat peralihan radikal di dalam perkembangan 'Indische Vereniging' menjadi 'Indonesische Vereniging' yang terjadi di Den Haag itu menyebabkan perubahan mental yang radikal pula di dalam jiwaku. Dengan segera sekali menipislah perasaan kesukuan Jawa di dalam hatiku. Perasaan dan kesadaran baru segera tumbuh. Saya mulai sadar bahwa saya tidak hanya termasuk golongan suku Jawa, melainkan menjadi sebagian dari pada suatu bangsa besar, ialah bangsa Indonesia! Sebagai bangsa Indonesia itu saya bukan 'inlander', 'inheemse' atau 'bumiputera' lagi, melainkan orang Indonesia yang mempunyai Tanahair dengan nama baru: Indonesia! ... Segala pikiran dan perbuatan kami yang sedang belajar di berbagai universitas di Negeri Belanda ditujukan kepada mencapai realisasi daripada perasaan dan kesadaran ke-Indonesiaan itu."

Ali sangat jujur dalam pengakuan dan kesaksiaannya, kesadaran tentang keindonesian baru muncul tahun 1920-an, menggantikan perasaan kedaerahan, apakah itu Sulawesi, Sumatera, Ambon, ataupun Jawa. Bagaimana BU? Kita menghargai dengan sangat tinggi BU sebagai gerakan kultural-intelektual, tapi bukan untuk menciptakan sebuah bangsa yang selanjutnya bernama Indonesia.

Berkat perjuangan PI-lah, kemudian dikukuhkan oleh Sumpah Pemuda tahun 1928, bekas jajahan Belanda ini tampil sebagai sebuah bangsa baru di sekitar Katulistiwa dengan gugusan kepulauan yang cantik dan elok, sebagaimana Ali dengan perasaan dalam telah menggambarkannya. BU sama sekali tidak berpikir tentang Indonesia. Antara tahun 1908-1931 BU masih menutup diri untuk dimasuki oleh suku non-Jawa, sebuah "organisai yang eksklusif", tulis sejarawan Ahmad Mansur Suryanegra dalam bukunya, Menemukan Sejarah (Bandung: Mizan 1995, halaman 201).

Karena itu, agar kita berlaku jujur dan adil terhadap masa lampau kita, saya mengusulkan agar penetapan permulaan Hari Kebangkitan Nasional adalah saat terbentuknya PI yang semula bernama Indische Vereniging menjadi Indonesische Vereniging, kemudian kukuh dalam bahasa Indonesia sebagai Perhimpunan Indonesia. Kapan perubahan ini terjadi, Ali menyebutnya tahun 1923, sementara Hatta dalam Memoir-nya menulis tahun 1922. (Muhammad Hatta, Memoir. Jakarta: Yayasan Hatta, 2002, halaman 73). Untuk menentukan tanggal dan tahun yang pasti, kita dapat meminta kepada sejarawan Taufik Abdullah untuk menelitinya.

Tapi sekiranya orang merasa kurang sreg, jadikan saja Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, sebagai awal Kebangkitan Nasional. Pemerintah SBY-Kalla tidak boleh ragu untuk mengambil keputusan radikal dalam masalah ini, karena keputusan lama tentang 20 Mei 1908 adalah ahistoris dan cacat, dan oleh sebab itu harus dikoreksi. Bangunan sejarah bangsa haruslah ditegakkan di atas fondasi yang kokoh dan benar. Fondasi yang ringkih akan selalu oleng, atau mengutip kalimat seorang penyair: "Sebuah sarang di atas dahan yang rapuh takkan tahan lama." Kita ingin Indonesia ini bertahan sampai rapuhnya dunia ini!

feed0 Comments

Write comment
 
 
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger
 

security image
Write the displayed characters


busy
Pemutakhiran Terakhir ( Tuesday, 22 April 2008 )
 
< Sebelumnya   Berikutnya >