|
Tulisan ini bukan untuk membicarakan air laut
sebagai kajian ilmiah, bukan pula untuk mencari rahasia ikan yang tetap tawar
di lingkungan yang asin. Di samping kajian macam ini bukan dunia saya, juga
tidak serta-merta mudah dikaitkan dengan kondisi mental sebagian anak bangsa
yang tidak pernah puas dengan praktek pencurian harta bangsa, entah sudah
berapa ratus trilyun yang dilalap tanpa rasa malu. Maka, berlakulah bagi orang
ini peribahasa kuno, ''ibarat meneguk air laut, makin diminum makin dahaga''.
Dalam psikologi modern, inilah yang disebut para
ahli sebagai hedonisme, ''to have more and to eat more'' (semakin banyak
punya, dan semakin banyak makan). Perkara perut menjadi buncit sampai meletus
tidak pernah dipikirkan. Pokoknya, mumpung masih dalam posisi untuk menggarong
harta bangsa, libas terus, sampai masuk penjara atau mati sambil duduk, lalu
dikuburkan dengan segala kebesaran upacara.
Pernah dulu seorang tokoh Pertamina malah dimakamkan di Kalibata sebagai
pahlawan, ternyata kemudian diketahui cukup banyak makan harta BUMN itu,
disimpan di luar negeri dan kemudian jadi rebutan di antara bini-bininya. Ada
juga yang melalap uang negara dalam jumlah trilyun, lalu ditangkap, tetapi
dengan mudah melarikan diri berkat sogokan yang diberikan kepada petugas
penjara, tentu di belakangnya ada pejabat penting yang bermain.
Maka, berlakulah apa yang pernah dikatakan seorang teman: ''Yang diburu
(koruptor) dan yang memburu (aparat penegak hukum) sebenarnya bersahabat.''
Dalam situasi semacam ini, betapa sulitnya memperbaiki moral bangsa ini, karena
aparat sekaligus merangkap jadi penjahat. Tentu banyak aparat yang baik dan
jujur, tetapi tidak berdaya melawan ''si peminum air laut ini''.
Sebagian teman sudah putus harap, apakah ada gunanya berteriak, toh tidak ada
telinga yang mau mendengar. Bukankah dulu telah berteriak seorang Hatta,
seorang Wilopo, seorang Kasimo, seorang Hamka, seorang Mochtar Lubis, seorang
Soedjatmoko, dengan wibawa dan integritas pribadinya yang prima, telah berujung
dengan sebuah kesia-siaan untuk memulihkan martabat moral bangsa ini? Maka, tidaklah
mengherankan rekaman Rosihan Anwar tentang pernyataan almarhum S. Tasrif: ''Indonesia
is beyond help!'' (Indonesia tak dapat ditolong lagi), atau mengutip
seorang teman alumnus ITB: ''Ibarat kapal, Indonesia telah oleng!''
Dengan memberikan penghargaan tinggi kepada semua keprihatinan itu, saya setuju
dengan lontaran Presiden SBY di depan rombongan Kopebang (Koalisi Penyelamatan
Bangsa) dalam sebuah dialog selama dua jam di Istana Merdeka pada 29 Desember
2006: ''Kita harus bangkit.'' Tentu yang dimaksud agar kita bangkit dari segala
keterpurukan, siuman dari segala dosa dan dusta selama ini yang telah
menelantarkan sekitar 42 juta rakyat miskin di Indonesia tahun 2007 ini.
Ungkapan ''kita harus bangkit'' jelas jauh lebih dinamis dari ungkapan ''kita
akan bangkit'', entah kapan, entah berapa puluh tahun lagi, sampai tubuh bangsa
ini remuk disakiti anaknya sendiri, tanpa rasa salah dan dosa. Anak-anak amoral
ini tidak semakin jera, karena keteladanan pemimpin sudah menjadi barang langka
dalam lingkaran kultur yang serba kumuh.
Sebuah kebangkitan yang autentik hanyalah mungkin menjadi kenyataan jika
dipimpin oleh negarawan yang punya visi jauh ke depan, melampaui umurnya dan
umur anak cucunya. Yang terpikir olehnya bukan diri, bukan keturunannya, melainkan
nasib 225 juta penumpang yang kini masih termangu-mangu di atas Kapal Republik
yang lagi oleng ini, menanti tindakan perbaikan mendasar secara autentik pula.
Biarlah peneguk air laut langsung terjun ke lautan lepas melalui proses hukum,
agar penumpang lain yang tak berdosa selamat sampai ke dermaga tujuan
Proklamasi Kemerdekaan berupa: ''Keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia'', sebuah sila yang teramat agung dan mulia, tetapi masih saja
dikhianati sampai hari ini.
Saya tidak yakin kebanyakan pemimpin formal sekarang ini mengacu pada sila itu
dalam menyusun pola pembangunan di daerahnya masing-masing. Yang banyak berlaku
adalah kenyataan ini: pihak eksekutif bergandengan tangan dengan kekuatan
legislatif dalam membuat APBD berdasarkan kalkulasi pembagian rezeki
masing-masing. Perkara sarana pendidikan dan kesehatan yang tak terurus tidak
lagi singgah di otak para peneguk air laut ini.
Tetapi inilah Indonesia yang wajib kita bela dan kita perbaiki sekalipun akan
bernasib seperti Bung Hatta dan nama-nama besar di atas. Apa boleh buat, jalan
terjal yang berliku ini harus kita lalui dengan kepala tegak, jangan pikirkan
entah akan terempas dan tersungkur dalam perjalanan. Bangsa ini tidak boleh
tenggelam ke dasar lautan akibat kelalaian kita.
|