|
Oleh Ahmad Syafii Maarif
REPUBLIKA | 10 JAN 2012
Inilah berita mewah
yang dilansir media sejak 2010: Indonesia kedatangan tujuh juta kelas
menengah saban tahun. Bank Dunia bahkan mengatakan, di antara 237 juta
(sensus 2010) penduduk Indonesia sebesar 56,5 persen sudah tergolong
kelas menengah. Jika alur gelombang ini dipercaya, dalam 10 tahun akan
datang, mayoritas rakyat Indonesia akan terangkat menjadi kelas
menengah.
Hal tersebut merupakan sebuah mobilitas sosio-ekonomi
yang sungguh dahsyat. Tetapi, Bank Dunia-dulu pernah memuji akhir era
Orde Baru saat hampir runtuh-memberi batasan yang menyesatkan tentang
kelas menengah itu, yaitu didasarkan pada jumlah belanja masyarakat yang
bergerak dari 2 dolar sampai 20 dolar AS per hari, sebuah batasan yang
teramat longgar.
Sebagai seorang yang awam dalam masalah ekonomi,
saya tak henti bertanya tentang kondisi pekerja bangunan, misalnya,
dengan pendapatan Rp 30 ribu per hari atau Rp 720 ribu per bulan (24
hari kerja), apakah tergolong kelas menengah jika ia membelanjakan
penghasilannya itu sebesar 2 dolar AS (Rp. 18.000) per hari?
Hasil pengamatan saya di lapangan, para pekerja ini tanpa diberi uang
makan, kondisinya amat memprihatinkan. Sebagian mereka berasal dari luar
Yogyakarta, tinggal di barak dengan gaji Rp 30 ribu itu. Saya tidak
tahu masih tersisa berapa dari pendapatan minim itu yang bisa dibawa ke
rumahnya masing-masing.
Tetapi, ada yang menarik dari laporan
Bank Dunia itu, seperti terbaca dalam tajuk Sindo (Seputar Indonesia),
27 Desember 2011 tentang pola hidup kelas menengah (ini kelas menengah
benaran) tahun 2010. Angka-angka belanja mereka berikut ini memang luar
biasa. Katanya, pola hidup konsumtif ini telah menyumbang sekitar 70
persen pertumbuhan ekonomi nasional.
Untuk belanja pakaian dan
alas kaki saja sudah mencapai Rp 113,4 triliun, rumah tangga dan jasa Rp
194,4 triliun, dan belanja luar negeri, terutama di Singapura Rp 59
triliun. Pada 2012, perkiraan belanja itu akan semakin membengkak. Tuan
dan puan jangan cepat berharap bahwa gaji para pekerja kecil akan turut
naik tahun ini.
Sebab, itu sangat tergantung pada belas kasihan
pengusaha yang umumnya hanya berpatokan pada skala UMR (upah minimum
regional). Jangankan untuk menukar alas kaki dan pakaian, kaum pekerja
kecil ini untuk bernapas saja sudah kedodoran. Dengan harga beras
sekitar Rp 8.500 per kg untuk regional Yogyakarta, nadi mereka sudah
bergetar kencang.
Sindo juga memberitakan suasana Bandara
Soekarno-Hatta semakin sesak oleh penumpang kelas menengah yang
berkeliaran datang dan pergi saban hari. Kapasitas bandara yang hanya
untuk 18 juta, sepanjang Januari-Oktober 2011 telah melonjak tajam
menjadi 41 juta. Kunjungan warga Indonesia ke Singapura naik 32 persen
dari 1,745 juta pada 2009 menjadi 2,305 juta pada 2010.
Singapura,
di samping sebagai tujuan wisata kelas menengah atas Indonesia, juga
tempat parkir kekayaan para koruptor kita. Tentu saja kita senang
membaca berita tentang semakin sesaknya bandara Soekarno-Hatta oleh
kelebihan penumpang, tetapi ingat jugalah sebagian besar rakyat
Indonesia baru pada posisi melihat pesawat terbang yang melintas dari
kejauhan di tempat tinggalnya masing-masing.
Kapan mereka bisa
merasakan terbang bersama kelas menengah, tentu menunggu kenaikan kelas
mereka, sebab jumlah yang miskin masih berjibun di desa dan di kota.
Tetapi, anak-anak desa yang sempat sekolah, memang tidak sedikit pula
yang berhasil menembus kelas-kelas sosial yang jika kita tidak merdeka,
pasti semuanya itu adalah sebuah kemustahilan, bukan?
Akhirnya,
bangsa dan negara ini benar-benar merindukan lahirnya para pemimpin
prorakyat, bukan pemimpin ibarat "kacang lupa pada kulitnya." Tipe
pemimpin visioner inilah yang diharapkan muncul dalam tempo yang tidak
terlalu lama sehingga semua rakyat Indonesia setidaknya bisa merasakan
bagaimana rasanya bepergian dengan pesawat udara. Selama ini, mereka
hanya melihat dari muka bumi sambil mendengar raungan mesinnya yang
menghebohkan saat terbang merendah di sekitar tempat tinggal mereka.
Semoga! |