|
Oleh Ahmad Syafii Maarif
Jika di Kairo terkenal
Lapangan Tahrir, di Sanaa ada Lapangan Taghyir (Lapangan Perubahan). Di
sinilah anak-anak muda Yaman berkumpul dan berorasi menuntut perubahan
sistem kekuasaan, dari otokrasi menuju sistem demokrasi. Di sini pulalah
Tawakkul selama berbulan-bulan membunyikan lonceng perubahan itu tanpa
henti.
Lonceng itulah pada akhirnya yang memaksa penguasa negeri
tersebut menyerahkan kekuasaannya, sekalipun tidak mulus. Siapa tahu
negeri-negeri lain semisal Suriah, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab,
bahkan Saudi Arabia bakal menyusul. Kita ikuti lebih jauh pidato Nobel
itu.
"Banyak bangsa telah menderita, termasuk rakyat Arab,
sekalipun mereka tidak berada dalam suasana perang, tetapi juga tidak
dalam suasana damai. Perdamaian di mana mereka hidup adalah sebuah
'perdamaian kuburan' palsu, perdamaian berupa menyerah kepada tirani dan
korupsi yang memelaratkan rakyat dan membunuh harapan mereka untuk
sebuah masa depan lebih baik.
Hari ini, seluruh komunitas umat manusia wajib berdiri bersama rakyat
kami dalam perjuangan damai mereka untuk kebebasan, martabat, dan
demokrasi. Sekarang rakyat kami telah memutuskan untuk memecah kesunyian
dan berupaya untuk hidup dan mewujudkan makna ungkapan abadi dari
Khalifah Umar bin Khattab: 'Sejak kapan kamu memperbudak manusia,
sedangkan ibu mereka melahirkan mereka sebagai manusia merdeka.'"
Ungkapan
antisipatif Umar ini rupanya telah semakin menambah amunisi semangat
anak-anak muda Arab itu untuk perubahan. Harapan kita, semoga perjuangan
anak-anak muda ini akan membuahkan hasil maksimal. Tuntutan besar apa
yang diminta oleh Revolusi Arab ini, khususnya untuk Yaman?
Hanya
satu tuntutan, kata Tawakkul, yaitu "perubahan damai dan berupaya
meraih kehidupan bebas dan bermartabat dalam sebuah negara demokrasi dan
sipil yang diperintah oleh the rule of law (kekuasaan berdasarkan
hukum). Negara ini akan dibangun di atas reruntuhan kekuasaan yang
menindas, bercorak militer, korup, dan kekuasaan polisi keluarga
terbelakang, yang terus membawa Yaman menuju pinggir jurang kegagalan
dan kehancuran selama 33 tahun."
Inilah wajah buram rezim Ali
Abdallah Saleh di mata anak-anak muda Yaman yang disuarakan dengan
lantang di mimbar Nobel oleh Tawakkul Karman, perempuan pemberani itu.
Suara ini tidak mungkin lagi dibungkam untuk selama-lamanya.
Berabad-abad sudah, rezim-rezim dinasti korup telah menebarkan bencana
demi bencana atas diri dan martabat rakyat Arab yang bernasib malang
itu.
Akhirnya, Tawakkul Karman menjelaskan empat tahap revolusi
yang tidak boleh dilampaui, yaitu 1. Menumbangkan sang diktator dan
keluarganya; 2. Menumbangkan aparat keamanan dan militer serta jaringan
nepotismenya; 3. Mendirikan kelembagaan negara transisional; 4. Bergerak
ke arah legitimasi konstitusional dan mendirikan negara demokratis dan
sipil modern.
Untuk kasus Yaman, jalan menuju keempat tahap itu
masih dalam proses kritikal, berliku, dan sarat konflik. Yaman bukanlah
negara makmur sebagaimana negara-negara Arab yang kaya minyak. Perhatian
dunia terhadap negara ini baru marak setelah Tawakkul Karman
menyampaikan pidato bersejarahnya di mimbar Nobel, Oslo, pada 10
Desember 2011, beberapa minggu menjelang tahun baru 2012. |