Who's Online

Saat ini ada 1 tamu online

Syndicate

Mar 03 2007
DERITA, PELURU, PDF Cetak E-mail
Saturday, 03 March 2007

''Darah berserakan di mana-mana, orang pada menangis di gedung-gedung, staf rumah sakit lalu lalang --tetapi ayah saya tidak ditemukan di mana pun.'' Sarmad Ali, yang kehilangan ayahnya akibat ledakan bom di Baghdad, telah membawa derita panjang bagi keluarganya (''Reporter's life takes a tense turn after father disappears in Iraq'', dalam The Wall Street Journal, 22 Februari 2007, halaman 16).

Itulah sepotong drama yang saya kutip dari tulisan Sarmad Ali, warga Irak yang sekarang berada di Amerika untuk belajar, bekerja, dan mencari ketenangan, tetapi ayahnya, seorang mekanik, telah hilang pada pertengahan Desember 2005 akibat ledakan bom saat ia dalam perjalanan ke bengkel, baru 15 menit setelah meninggalkan rumah. Kini keluarganya di Baghdad dalam keadaan duka dan pilu memikirkan nasib kepala keluarga, seorang pekerja bengkel yang hilang, entah ke mana, entah di mana.

Kita tidak tahu sudah berapa ribu jumlah korban akibat perang di Irak setelah negeri itu diduduki Amerika dan sekutunya sejak tahun 2003. Irak, yang dulunya punya peradaban tinggi, kini telah berkeping-keping dan berantakan, entah sampai kapan. Neo-imperialisme modern telah mengacau negeri itu tanpa rasa berdosa. Kerakusan terhadap minyak bumi di Irak yang menjadi motif utama penyerangan telah menutup mata dan hati para penjahat perang ini.

Laporan Sarmad Ali tentang nasib ayah dan keluarganya ini saya ikuti dengan penuh perasaan karena sangat menyentuh relung hati kita yang terdalam. Kita memang muak mengikuti perilaku elite Irak yang saling bertempur sesama mereka, sehingga bagian-bagian negeri itu telah menjadi puing, tetapi derita rakyatnya yang tak bersalah tetap merebut simpati dan empati kita. Anak-anak, perempuan, dan orang-orang tua yang bergelimpangan dan berlumuran darah di jalan-jalan akibat ledakan bom adalah pemandangan harian di beberapa kota Irak.

Dalam pada itu, pemimpin negeri itu tidak punya dada lapang dan perasaan senasib untuk melawan penjajahan. Puak Sunni dan Syi'i telah memakai jubah agama untuk saling menghancurkan. Islam telah lama berhenti jadi perekat persaudaraan di antara mereka, sebagaimana halnya di beberapa negeri muslim lainnya.

Inilah jeritan Sarmad Ali tentang ayahnya: ''Kehilangannya telah mengawali pencarian yang sangat memilukan oleh keluarga saya lewat neraka kota Baghdad yang dicabik perang. Juga telah menempatkan saya pada posisi penuh kecemasan untuk berupaya menolong keluarga yang berserakan akibat perang saudara yang kejam --melalui telepon yang jaraknya ribuan kilometer. Saya adalah anak laki-laki tertua yang sedang belajar dan bekerja di New York sejak lebih dari dua tahun lalu. Dengan menghilangnya Ayah, tiga saudara dan Ibu memandang saya sebagai kepala keluarga'' (halaman 16).

Begitu beratnya beban perasaan Sarmad mengikuti pesta maut di negerinya, sehingga bilamana mendengar dering telepon yang bernomor Baghdad tidak langsung diangkatnya, tetapi lebih dulu memeluk dirinya sambil berdoa. ''Setiap saat saya mendengar tentang bom meledak, saya peluk diri saya untuk menghadapi berita terburuk.... Saya cemas bila mendapatkan panggilan dari Irak, kadang-kadang tidak dijawab. Saya pertimbangkan untuk menukar nomor telepon saya sehingga tak seorang pun dapat menghubungi saya dengan berita buruk --tetapi saya toh bisa menghubungi mereka di sana sewaktu saya menginginkannya (ibid).

Sebagai pemuda berusia 20-an, dapat dipahami jiwa Sarmad sering benar mengalami keguncangan, terutama setelah ayahnya hilang tak jelas rimbanya. Tetapi sang ibu selalu memberi kekuatan untuk tidak kembali dulu, sekalipun saudaranya memintanya pulang.

Bagaimana jiwa tidak akan guncang, selain ayahnya hilang, temannya yang pernah mengunjunginya di New York tergeletak mati ditembus 13 peluru. ''Haidar Al-Maliki, seorang sahabat dari universitas di Baghdad yang telah mengunjungi saya di New York tahun sebelumnya, ditemukan tewas, tubuhnya berlubang dengan 13 pelor. Dia dihentikan oleh pembawa senjata yang tak dikenal ketika ia berada dalam sebuah kendaraan di bagian selatan kota Amarah, dan ditembak di tempat'' (ibid).

Semasa masih hidup, ayahnya tetap saja bekerja di tengah iklim kekerasan yang semakin meningkat, sebab itulah salah satu cara agar orang tetap siuman. Ketegaran sang ibu tampak luar biasa. Sarmad sering dihiburnya bahwa ayahnya masih hidup. Buktinya, ia tidak ditemukan di rumah kematian (halaman 17). Beban lain yang harus dipikul Sarmad adalah keinginan adik perempuanya yang lebih muda untuk keluar dari Baghdad dan berangkat ke New York, tetapi tidak bisa.

Inilah kutipannya: ''Saat terakhir kami berbicara, saudara perempuan saya yang lebih muda mohon dengan sangat agar saya membantunya mencari jalan keluar dari Baghdad. Dikatakannya, ia akan memasak dan bersih-bersih untuk saya, sekiranya saya berhasil menariknya keluar dari sana. Ini semua membuat hati saya tenggelam'' (halaman 17).

Itulah sekelumit kisah nyata dari seorang anak muda yang jauh di perantauan ketika negerinya diamuk perang. Derita, darah, dan peluru sedang menyatu dengan seluruh denyut kehidupan umum di Irak. Oh Gusti, akan berapa lama lagi derita ini harus mereka pikul?

feed0 Comments

Write comment
 
 
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger
 

security image
Write the displayed characters


busy
Pemutakhiran Terakhir ( Tuesday, 22 April 2008 )
 
< Sebelumnya   Berikutnya >