|
''Darah berserakan di mana-mana, orang pada
menangis di gedung-gedung, staf rumah sakit lalu lalang --tetapi ayah saya
tidak ditemukan di mana pun.'' Sarmad Ali, yang kehilangan ayahnya akibat
ledakan bom di Baghdad, telah membawa derita panjang bagi keluarganya
(''Reporter's life takes a tense turn after father disappears in Iraq'', dalam The
Wall Street Journal, 22 Februari 2007, halaman 16).
Itulah sepotong drama yang saya kutip dari
tulisan Sarmad Ali, warga Irak yang sekarang berada di Amerika untuk belajar,
bekerja, dan mencari ketenangan, tetapi ayahnya, seorang mekanik, telah hilang
pada pertengahan Desember 2005 akibat ledakan bom saat ia dalam perjalanan ke
bengkel, baru 15 menit setelah meninggalkan rumah. Kini keluarganya di Baghdad
dalam keadaan duka dan pilu memikirkan nasib kepala keluarga, seorang pekerja
bengkel yang hilang, entah ke mana, entah di mana.
Kita tidak tahu sudah berapa ribu jumlah korban akibat perang di Irak setelah
negeri itu diduduki Amerika dan sekutunya sejak tahun 2003. Irak, yang dulunya
punya peradaban tinggi, kini telah berkeping-keping dan berantakan, entah
sampai kapan. Neo-imperialisme modern telah mengacau negeri itu tanpa rasa
berdosa. Kerakusan terhadap minyak bumi di Irak yang menjadi motif utama
penyerangan telah menutup mata dan hati para penjahat perang ini.
Laporan Sarmad Ali tentang nasib ayah dan keluarganya ini saya ikuti dengan
penuh perasaan karena sangat menyentuh relung hati kita yang terdalam. Kita
memang muak mengikuti perilaku elite Irak yang saling bertempur sesama mereka,
sehingga bagian-bagian negeri itu telah menjadi puing, tetapi derita rakyatnya
yang tak bersalah tetap merebut simpati dan empati kita. Anak-anak, perempuan,
dan orang-orang tua yang bergelimpangan dan berlumuran darah di jalan-jalan
akibat ledakan bom adalah pemandangan harian di beberapa kota Irak.
Dalam pada itu, pemimpin negeri itu tidak punya dada lapang dan perasaan
senasib untuk melawan penjajahan. Puak Sunni dan Syi'i telah memakai jubah
agama untuk saling menghancurkan. Islam telah lama berhenti jadi perekat
persaudaraan di antara mereka, sebagaimana halnya di beberapa negeri muslim
lainnya.
Inilah jeritan Sarmad Ali tentang ayahnya: ''Kehilangannya telah mengawali
pencarian yang sangat memilukan oleh keluarga saya lewat neraka kota Baghdad
yang dicabik perang. Juga telah menempatkan saya pada posisi penuh kecemasan
untuk berupaya menolong keluarga yang berserakan akibat perang saudara yang
kejam --melalui telepon yang jaraknya ribuan kilometer. Saya adalah anak
laki-laki tertua yang sedang belajar dan bekerja di New York sejak lebih dari
dua tahun lalu. Dengan menghilangnya Ayah, tiga saudara dan Ibu memandang saya
sebagai kepala keluarga'' (halaman 16).
Begitu beratnya beban perasaan Sarmad mengikuti pesta maut di negerinya,
sehingga bilamana mendengar dering telepon yang bernomor Baghdad tidak langsung
diangkatnya, tetapi lebih dulu memeluk dirinya sambil berdoa. ''Setiap saat
saya mendengar tentang bom meledak, saya peluk diri saya untuk menghadapi
berita terburuk.... Saya cemas bila mendapatkan panggilan dari Irak,
kadang-kadang tidak dijawab. Saya pertimbangkan untuk menukar nomor telepon
saya sehingga tak seorang pun dapat menghubungi saya dengan berita buruk
--tetapi saya toh bisa menghubungi mereka di sana sewaktu saya menginginkannya
(ibid).
Sebagai pemuda berusia 20-an, dapat dipahami jiwa Sarmad sering benar mengalami
keguncangan, terutama setelah ayahnya hilang tak jelas rimbanya. Tetapi sang
ibu selalu memberi kekuatan untuk tidak kembali dulu, sekalipun saudaranya
memintanya pulang.
Bagaimana jiwa tidak akan guncang, selain ayahnya hilang, temannya yang pernah
mengunjunginya di New York tergeletak mati ditembus 13 peluru. ''Haidar
Al-Maliki, seorang sahabat dari universitas di Baghdad yang telah mengunjungi
saya di New York tahun sebelumnya, ditemukan tewas, tubuhnya berlubang dengan
13 pelor. Dia dihentikan oleh pembawa senjata yang tak dikenal ketika ia berada
dalam sebuah kendaraan di bagian selatan kota Amarah, dan ditembak di tempat''
(ibid).
Semasa masih hidup, ayahnya tetap saja bekerja di tengah iklim kekerasan yang
semakin meningkat, sebab itulah salah satu cara agar orang tetap siuman.
Ketegaran sang ibu tampak luar biasa. Sarmad sering dihiburnya bahwa ayahnya
masih hidup. Buktinya, ia tidak ditemukan di rumah kematian (halaman 17). Beban
lain yang harus dipikul Sarmad adalah keinginan adik perempuanya yang lebih
muda untuk keluar dari Baghdad dan berangkat ke New York, tetapi tidak bisa.
Inilah kutipannya: ''Saat terakhir kami berbicara, saudara perempuan saya yang
lebih muda mohon dengan sangat agar saya membantunya mencari jalan keluar dari
Baghdad. Dikatakannya, ia akan memasak dan bersih-bersih untuk saya, sekiranya
saya berhasil menariknya keluar dari sana. Ini semua membuat hati saya
tenggelam'' (halaman 17).
Itulah sekelumit kisah nyata dari seorang anak muda yang jauh di perantauan
ketika negerinya diamuk perang. Derita, darah, dan peluru sedang menyatu dengan
seluruh denyut kehidupan umum di Irak. Oh Gusti, akan berapa lama lagi derita
ini harus mereka pikul?
|