|
Blokade Warga Sape Ekspresi Frustrasi Sukarnya Mencari Keadilan |
|
|
|
|
Tuesday, 27 December 2011 |
|
RMOL. Tindakan penegakan hukum
oleh aparat Kepolisian di Bima, NTB, dalam menyikapi blokade Pelabuhan
Sape oleh warga tidak dapat dibenarkan. Yang dilakukan polisi lebih
tepat disebut aksi brutal, karena menyerbu warga tanpa senjata di pagi
ini.
"Sulit memahami logika kepolisian yang mengatakan itu
sebagai bentuk penegakan hukum. Ingat, polisi bersenjata lengkap dalam
menyikapi warga yang menyuarakan penentangannya terhadap operasi
perusahaan tambang PT Sumber Mineral Nusantara. Warga punya hak warga
untuk mengajukan keberatan," kata Direktur Eksekutif MAARIF
InstituteFajar Riza Ul Haq kepada Rakyat Merdeka Online (Sabtu, 24/12).
Menurut Fajar, blokade Pelabuhan Sape oleh warga merupakan ekspresi
kefrustasian mereka dalam mencari keadilan. Warga melawan sikap
pemerintah dengan menduduki fasilitas umum agar didengar. Ini adalah
pembangkangan sipil yang bisa mereka lakukan.
Menurut data
koalisi LSM, penentangan warga Sape terhadap proyek penambangan sudah
disuarakan sejak tahun 2008. Awal tahun ini Front Rakyat Anti Tambang
sudah mendesak Pemda Bima untuk mencabut surat izin perusahaan Sumber
Mineral Nusantara.
"Pemerintah harus segera tanggap, karena
makin banyak kasus yang bersumber dari kekecewaan masyarakat dalam
memperjuangkan hak-hak sosial ekonominya. Modus menduduki fasilitas umum
akan menjadi tren jika pemerintah terus menerus tidak peka," kata Rizal
lagi.
Rizal sangat menyesalkan karena Kepolisian tidak mau
belajar, terlebih kasus Mesuji masih jadi sorotan publik. Terulangnya
peristiwa-peristiwa berdarah yang memakan korban nyawa masyarakat
memperlihatkan kelumpuhan mekanisme birokrasi dan kematian nurani
aparat. Terlebih, masih kata Rizal, dari sisi moral tindakan aparat
negara menumpahkan darah dan merenggut nyawa manusia dalam suasana hari
suci agama apa pun sangat melukai nurani kemanusiaan. [dem] |