|
Aksi Warga Blokade Fasilitas Umum Bisa Terulang Jika Aspirasinya Diabaikan |
|
|
|
|
Monday, 26 December 2011 |
|
Jakarta -
Tindak represif polisi membubarkan blokade warga
terhadap Pelabuhan Sape, Bima, NTB, tidak dapat dibenarkan apa pun
alasannya. Meski aksi warga menduduki fasilitas umum sampai satu pekan
seperti itu juga tidak tepat.
Untuk mencegah terulangnya aksi
blokade demikian, jajaran pemerintah harus mewadahi aspirasi warga.
Demikian kata Direktur Eksekutif, Maarif Institute, Fajar Riza Ul Haq,
dalam surat elektronik, Sabtu (24/12/2011).
"Modus menduduki fasilitas umum akan menjadi tren jika pemerintah terus menerus tidak peka," ujar Fajar.
Menurutnya,
aksi blokade Pelabuhan Sape oleh warga merupakan ekspresi kefrustasian
dalam mencari keadilan. Warga melawan sikap pemerintah dengan menduduki
fasilitas umum agar didengarkan apa yang menjadi tuntutannya.
Menurut
data Koalisi LSM yang dikoordinasi Walhi dan JATAM, penentangan warga
setempat terhadap proyek penambangan sudah disuarakan sejak tahun 2008.
Awal tahun ini Front Rakyat Anti Tambang sudah mendesak Pemda Bima untuk
mencabut surat ijin perusahaan Sumber Mineral Nusantara.
"Ini adalah pembangkangan sipil yang bisa mereka lakukan," jelasnya.
Pemerintah
harus benar-benar tanggap karena makin banyak kasus yang bersumber dari
kekecewaan masyarakat dalam memperjuangkan hak-hak sosial ekonominya.
Modus menduduki fasilitas umum akan menjadi tren jika pemerintah terus
menerus tidak peka.
Terulangnya bentrokan yang memakan korban
nyawa masyarakat memperlihatkan kelumpuhan mekanisme birokrasi dan
kematian nurani aparat. "Sulit memahami logika dengan mengatakan aksi
polisi sebagai bentuk penegakkan hukum. Ingat, polisi bersenjata lengkap
dalam menyikapi warga yang menyuarakan penentangannya terhadap operasi
perusahaan tambang. Hak warga untuk mengajukan keberatan", tutur Fajar
sumber : detiknews.com |