|
Metrotvnews.com, Jakarta: Direktur Eksekutif Ma'arif
Institute Fajar Riza Ul Haq menyesalkan aksi pembubaran paksa polisi
terhadap warga yang sedang menduduki Pelabuhan Sape, Kota Bima, Nusa
Tenggara Barat, Sabtu (24/12). Pembubaran paksa dengan melepaskan
tembakan itu membuat dua pengunjuk rasa tewas.
Fajar membenarkan bahwa aksi itu, selain oleh warga dari Kecamatan Lambu
dan Sape, juga dilakukan mahasiswa dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.
Bahkan, menurut informasi yang diterima, satu dari dua korban tewas itu
adalah mahasiswa Muhammadiyah di NTB, yang bernama Ansyari.
Fajar berpendapat konflik berujung kerusuhan ini karena tidak ada
titik temu dari pengunjuk rasa, dalam hal ini warga, dan Pemerintah
Kabupaten Bima. Sayangnya, menurut Fajar, memaksakan diri membubarkan
paksa demonstran yang sudah menduduki Pelabuhan Sape.
Menurut Fajar, seharusnya, polisi intensif melakukan negosiasi dengan
warga, sehingga tidak harus melakukan pelepasan tembakan yang berujung
pada kematian warga serta mahasiswa. Fajar menduga kepolisian mendapat
desakan agar membuka akses pelabuhan untuk kepentingan perayaan Natal
warga. Sayangnya, polisi seakan tidak mencari alternatif lain selain
melakukan pembubaran paksa dengan melepaskan tembakan.
"Tentu kita menyayangkan. Polisi tidak belajar dari kasus-kasus yang
sudah terjadi, dan ini semakin mencoreng citra kepolisian yang tidak
mampu mengayomi masyarakat ketika menyalurkan aspirasinya," jelas Fajar.
Pembubaran paksa dilakukan polisi menyusul tidak adanya titik temu dan
alotnya tahap negosiasi. Warga tetap bersikukuh membokade Pelabuhan
Sape, sebelum permintaan mereka dipenuhi Pemkab Bima. Warga dan
mahasiswa mendesak Pemkab Bima mencabut SK 188 tentang Eksplorasi
Pertambangan Emas di Kecamatan Sape dan Kecamatan Lambu.
Dalam SK itu Pemkab Bima hanya mengizinkan perusahaan tertentu menambang
emas serta menyebut pertambangan tradisional warga sebagai tindakan
melawan hukum. Hal ini dinilai diskriminatif dan merugikan warga
Lambu.(DSY)
Sumber : http://www.metrotvnews.com/read/newsvideo/2011/12/24/142042/Ma-arif-Institute-Sesalkan-Pembubaran-Paksa-Demonstran-di-Sape/6 |