|
Oleh Ahmad Syafii Maarif
Nama lengkap
pemenang hadiah Nobel Perdamaian asal Yaman ini adalah Tawakkul ‘Abd
al-Salam Karman (32), seorang ibu beranak tiga. Bersama dengan dua tokoh
perempuan lain, Presiden Liberia Ellen Johnson Sirleaf (73) dan aktivis
perdamaian Liberia Leymah Gbowee (39), Tawakkul Karman pada 10 Desember
2011 berbagi anugerah Nobel Perdamaian di Oslo dalam sebuah upacara
yang sangat bergengsi.
Berita sebagai pemenang ini diterima
Tawakkul saat berada di tenda perlawanan terhadap Presiden Yaman Ali
Abdullah Saleh, seorang diktator yang telah berkuasa selama 33 tahun.
Tawakkul adalah pemenang hadiah Nobel termuda sejak hadiah ter hormat
itu diberikan pertama kali pada 10 Desember 1901, 50 tahun setelah
Alfred Bernhard Nobel wafat.
Tawakkul Karman juga dikenal sebagai
Ibu Revolusi Yaman sekalipun banyak ulama San’a yang menyalahkan dan
menuduhnya sebagai penghancur moralitas kaum perempuan. Kritik ini tidak
dihiraukannya karena keyakinan bahwa kezaliman dan despotisme harus
diakhiri di negerinya.
Laki-laki dan perempuan sama-sama punya kewajiban untuk meniadakan rezim
despo tik. Tawakkul dengan dukungan penuh dari suaminya adalah salah
seorang tokoh puncak para demonstran muda yang selama berbulan-bulan
telah memimpin perlawanan damai terhadap rezim yang sedang berkuasa.
Selama perlawanan itu, Tawakkul pernah terluka dan ditahan, tetapi
semangat juangnya tidak pernah kendur. Dia adalah salah seorang anggota
terkemuka dari Partai Ishlah, sebuah partai oposisi utama di Yaman.
Dengan mengikuti pidato Nobel itu, semakin sadarlah kita tentang betapa
dalamnya keresahan kaum perempuan di dunia Arab yang berada di bawah
kultur patriarki dan mendominasi selama ratusan tahun. Sekarang,
dominasi itu harus dihalau sehingga posisi laki-laki dan perempuan
ditempatkan pada kesetaraan dan keadilan.
Berikut ini adalah
bagian-bagian penting dari pidato Nobel Tawakkul yang dapat diakses
dalam tiga bahasa, Arab, Inggris, dan Swedia, yang saya beri komentar.
Pidato tersebut dalam versi bahasa Inggris yang terdiri atas 3.453
perkataan dan 17.156 karakter tanpa spasi. Tawakkul mengatakan bahwa
anugerah Nobel itu bukan hanya untuknya, melainkan juga untuk semua anak
muda yang telah berjuang menegakkan keadilan, demokrasi, dan hak-hak
asasi manusia yang terabaikan selama puluhan, bahkan ratusan tahun di
negerinya.
“Mimpi Alfred Nobel tentang sebuah dunia di mana
perdamaian menang dan peperangan menghilang, memang belum tercapai,
tetapi harapan untuk membuatnya menjadi kenyataan telah semakin membesar
dan upaya untuk meraihnya telah menjadi berlipat. Anugerah Nobel
Perdamaian masih menawarkan harapan itu sebagai momentum spiritual dan
kehati-hatian. Selama lebih dari 100 tahun, anugerah itu telah berdiri
kokoh sebagai bukti tentang nilai-nilai perjuangan damai untuk hak-hak,
keadilan, dan kebebasan, serta juga sebagai bukti tentang bagaimana
palsunya kekerasan dan peperangan dengan segala akibat yang merusak dan
menghancurkan.”
“Saya selalu percaya bahwa perlawanan terhadap
penindasan dan kekerasan hanyalah mungkin ditandangi tanpa bertumpu pada
penindasan dan kekerasan serupa. Saya selalu percaya bahwa peradaban
umat manusia adalah buah dari upaya bersama perempuan dan laki-laki.
Jadi, manakala perempuan diperlakukan secara tidak adil dan tersingkir
dari hak alaminya dalam proses ini, maka segala kekurangan sosial dan
penyakit-penyakit kultural akan terhampar, serta pada ujungnya seluruh
komunitas, lakilaki dan perempuan, akan sama menderita.
Solusi
bagi isu-isu perempuan hanyalah dapat dicapai dalam sebuah masyarakat
bebas dan demokratis. Di dalamnya, energi manusia dimerdekakan, baik
energi perempuan maupun laki-laki, secara bersama-sama. Peradaban kita
dinamakan peradaban ma nusia dan tidak disangkutkan hanya kepada jenis
laki-laki atau perempuan.” Isu gender amat terasa dalam pidato Tawakkul
dan itu sangat wajar dalam sebuah masyarakat yang pincang.
Adalah
sebuah kejutan sejarah seorang perempuan Arab memimpin demonstrasi
perlawanan terhadap rezim otoriter karena selama ini, mereka telah
terbiasa hidup dalam ketertindasan dalam bilangan abad. Bahkan, di Arab
Saudi yang mengaku sebagai pengawal dua kota suci, ketertindasan
perempuan Arab dengan pembenaran syariat telah lama jadi rahasia umum.
Coba Anda bayangkan punya SIM saja sudah haram. Agama macam apa ini? |