Publikasi A. Syafii Maarif

Resonansi
Prespektif Gatra
Dec 22 2011
Pidato Nobel Tawakkul Karman (I) PDF Print E-mail
Thursday, 22 December 2011

Oleh Ahmad Syafii Maarif


Nama lengkap pemenang hadiah Nobel Perdamaian asal Yaman ini adalah Tawakkul ‘Abd al-Salam Karman (32), seorang ibu beranak tiga. Bersama dengan dua tokoh perempuan lain, Presiden Liberia Ellen Johnson Sirleaf (73) dan aktivis perdamaian Liberia Leymah Gbowee (39), Tawakkul Karman pada 10 Desember 2011 berbagi anugerah Nobel Perdamaian di Oslo dalam sebuah upacara yang sangat bergengsi.

Berita sebagai pemenang ini diterima Tawakkul saat berada di tenda perlawanan terhadap Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh, seorang diktator yang telah berkuasa selama 33 tahun. Tawakkul adalah pemenang hadiah Nobel termuda sejak hadiah ter hormat itu diberikan pertama kali pada 10 Desember 1901, 50 tahun setelah Alfred Bernhard Nobel wafat.

Tawakkul Karman juga dikenal sebagai Ibu Revolusi Yaman sekalipun banyak ulama San’a yang menyalahkan dan menuduhnya sebagai penghancur moralitas kaum perempuan. Kritik ini tidak dihiraukannya karena keyakinan bahwa kezaliman dan despotisme harus diakhiri di negerinya.
 

Laki-laki dan perempuan sama-sama punya kewajiban untuk meniadakan rezim despo tik. Tawakkul dengan dukungan penuh dari suaminya adalah salah seorang tokoh puncak para demonstran muda yang selama berbulan-bulan telah memimpin perlawanan damai terhadap rezim yang sedang berkuasa. Selama perlawanan itu, Tawakkul pernah terluka dan ditahan, tetapi semangat juangnya tidak pernah kendur. Dia adalah salah seorang anggota terkemuka dari Partai Ishlah, sebuah partai oposisi utama di Yaman. Dengan mengikuti pidato Nobel itu, semakin sadarlah kita tentang betapa dalamnya keresahan kaum perempuan di dunia Arab yang berada di bawah kultur patriarki dan mendominasi selama ratusan tahun. Sekarang, dominasi itu harus dihalau sehingga posisi laki-laki dan perempuan ditempatkan pada kesetaraan dan keadilan.

Berikut ini adalah bagian-bagian penting dari pidato Nobel Tawakkul yang dapat diakses dalam tiga bahasa, Arab, Inggris, dan Swedia, yang saya beri komentar. Pidato tersebut dalam versi bahasa Inggris yang terdiri atas 3.453 perkataan dan 17.156 karakter tanpa spasi. Tawakkul mengatakan bahwa anugerah Nobel itu bukan hanya untuknya, melainkan juga untuk semua anak muda yang telah berjuang menegakkan keadilan, demokrasi, dan hak-hak asasi manusia yang terabaikan selama puluhan, bahkan ratusan tahun di negerinya.

“Mimpi Alfred Nobel tentang sebuah dunia di mana perdamaian menang dan peperangan menghilang, memang belum tercapai, tetapi harapan untuk membuatnya menjadi kenyataan telah semakin membesar dan upaya untuk meraihnya telah menjadi berlipat. Anugerah Nobel Perdamaian masih menawarkan harapan itu sebagai momentum spiritual dan kehati-hatian. Selama lebih dari 100 tahun, anugerah itu telah berdiri kokoh sebagai bukti tentang nilai-nilai perjuangan damai untuk hak-hak, keadilan, dan kebebasan, serta juga sebagai bukti tentang bagaimana palsunya kekerasan dan peperangan dengan segala akibat yang merusak dan menghancurkan.”

“Saya selalu percaya bahwa perlawanan terhadap penindasan dan kekerasan hanyalah mungkin ditandangi tanpa bertumpu pada penindasan dan kekerasan serupa. Saya selalu percaya bahwa peradaban umat manusia adalah buah dari upaya bersama perempuan dan laki-laki. Jadi, manakala perempuan diperlakukan secara tidak adil dan tersingkir dari hak alaminya dalam proses ini, maka segala kekurangan sosial dan penyakit-penyakit kultural akan terhampar, serta pada ujungnya seluruh komunitas, lakilaki dan perempuan, akan sama menderita.

Solusi bagi isu-isu perempuan hanyalah dapat dicapai dalam sebuah masyarakat bebas dan demokratis. Di dalamnya, energi manusia dimerdekakan, baik energi perempuan maupun laki-laki, secara bersama-sama. Peradaban kita dinamakan peradaban ma nusia dan tidak disangkutkan hanya kepada jenis laki-laki atau perempuan.” Isu gender amat terasa dalam pidato Tawakkul dan itu sangat wajar dalam sebuah masyarakat yang pincang.

Adalah sebuah kejutan sejarah seorang perempuan Arab memimpin demonstrasi perlawanan terhadap rezim otoriter karena selama ini, mereka telah terbiasa hidup dalam ketertindasan dalam bilangan abad. Bahkan, di Arab Saudi yang mengaku sebagai pengawal dua kota suci, ketertindasan perempuan Arab dengan pembenaran syariat telah lama jadi rahasia umum. Coba Anda bayangkan punya SIM saja sudah haram. Agama macam apa ini?

 
< Prev   Next >

Red Giant PlaneSpace MAC
Joboshare DVD to PSP Converter
Strat-o-matic Football MAC
Autodesk AutoCAD MEP 2011
Recover PDF Password MAC
Corel Designer Technical Suite X4
Joboshare BlackBerry Video Converter
Microsoft Visual Studio 2010 Premium
Adobe InCopy CS5 Student and Teacher Edition MAC
QuarkXPress 7 Passport Multilanguage
Microsoft OneNote 2010
Corel Painter X