|
Padang, Padek—Bangsa
yang abadi dengan prinsip keadilan akan hancur. Pemimpin yang sibuk
mempertahankan kekuasaan akan tumbang. Sejarah telah membuktikan hal
itu. Rezim yang tunamoral akan jatuh dalam bentuk kecelakaan sejarah.
Hal itu terungkap dalam seminar
sehari Pascasarjana IAIN Imam Bonjol Padang bertajuk Konstelasi Politik
Islam Kontemporer Timur Tengah, antara Islam dan Gerakan Demokrasi, di
aula kampus Pascasarjana IAIN Imam Bonjol Padang, Jl Sudirman Padang.
Kamis (8/12). ”Dunia Arab telah menjadi bukti paling mutakhir. Ketika
peran pemimpin bangsa dan negara telah melanggar semua prinsip-prinsip
kemanusiaan,” ungkap Guru Besar Filsafat Sejarah, Prof Dr Syafi’i Maarif
di hadapan ratusan civitas akademika.
Buya Syafi’i menurunkan makalah
Tumbangnya Rezim Diktator di Dunia Arab. Syafi’i yang akrab disapa Buya
itu, menyatakan, peristiwa di kawasan Arab itu mesti menjadi pelajaran
penting bagi umat Islam dan negara Indonesia. ”Gejolak dari Tunisia,
Mesir hingga Libya sudah bisa diprediksi sejak awal. Ketika, pangeran,
sultan, presiden, raja, amir dan atribut lainnya, sepakat dalam satu
hal, pembungkaman hak menyatakan pendapat. Inilah yang disebut otoriter
tersebut,” tegas putra Sumpurkudus, Sijunjung itu.
Buya mengharapkan kebangkitan api
revolusi yang membakar semangat rakyat tidak sampai pada kehancuran
lebih jauh. ”Yang jelas, inilah kecelakaan sejarah ketika kultur
pangeran Arab telah terlalu jauh berkuasa dan menguasai rakyat. Bahkan,
tunamoral di tengah pengangguran dan kemiskinan yang sedang menjadi
biang kerok. Pokok dari segala macam keruwertan,” tegasnya.
”Lalu, di mana Islam? Dunia Arab
memang identik dengan Islam. Tapi kultur Islam sudah ditinggalkan.
Kerakusan para pemimpin telah membuat rakyat sengsara. Sampai rakyat
merasa penting untuk berjuang memulihkan harga diri (tsaurat
al-karamah),” jelas mantan ketua umum PP Muhammadiyah itu. Umat Islam
di Indonesia, bagi Syafi’i, memiliki tugas yang mendesak.
Merumuskan kembali dengan cara yang
berani, cerdas dan bertanggung jawab setiap solusi yang terbaik bagi
pemecahan masalah sosial dengan merujuk Al Quran dan Hadis. ”Ini
dinantikan dunia Islam. Mari berpikir besar, tidak hanya sekadar
mementingkan diri sendiri, jabatan. Apalagi, hanya sekadar ketua
jurusan,” ujar Syafi’i yang disambut tawa civitas akademika.
Melanggar Prinsip
Rektor
IAIN Imam Bonjol Padang, Prof Dr H Makmur Syarif SH MAg dalam
sambutannya, paling tidak ada empat prinsip dasar dalam hukum politik
yang dilanggar pemimpin-pemimpin Arab. ”Kemerdekaan (Huriyah), keadilan
(‘Adalah), musyawarah (Syura) dan kesejahteraan (Musawah). Prinsip
inilah yang telah diabaikan dalam menjalankan roda kepemimpinan,” tegas
Makmur.
Direktur Pascasarjana IAIN Imam
Bonjol Padang, Prof Dr H Awiskarni MAg menuturkan, seminar internasional
ini ditujukan untuk membongkar sisi baru dunia Arab dan hadirnya
pemikiran-pemikiran untuk konteks keumatan di Indonesia. Seminar sehari
kemarin, juga menghadirkan cendikiawan Prof Dr H Abdul Gani Syamsuddin,
mantan Presiden Persatuan Ulama Malaysia dengan makalah Peran Gerakan
Ideologis, Politis, dan Ekonomi dan Runtuhnya Rezim Diktator Otoritarian
di Timur Tengah.
Selain itu, cendikiawan muda,
Direktur Moderate Muslim Society Jakarta, Dr Zuhairi Misrawi dengan
makalah Dampak Positif dan Negatif Runtuhnya Rezim Diktator-Otoriterian
Timur Tengah. Terakhir dosen Fakultas Usuluddin IAIN Imam Bonjol
Padang, Dr Zaim Rais MA dengan makalah Dampak Positif dan Negatif
Runtuhnya Rezim Diktator Otoriterian di Timur Tengah Perpolitikan di
Asia Tenggara. (mg8)
sumber : http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=18633
|