|
Oleh Ahmad Syafii Maarif
Atas undangan Kedubes
India di Jakarta, beberapa tahun yang lalu, saya berkunjung ke New
Delhi. Tujuan pokok kunjungan itu untuk bertemu dan berdialog dengan
para intelektual Muslim dan intelektual Hindu di Ibu Kota India itu.
Kalangan intelektual ini ingin mengenal lebih banyak tentang Islam
Indonesia dengan karakternya sendiri. Mereka juga ingin mendapat
gambaran yang lebih perinci tentang Muhammadiyah, sebuah gerakan Islam
yang sejak puluhan tahun silam telah memberdayakan dan mencerdaskan
masyarakat luas, jauh sebelum Indonesia menyatakan kemerdekaannya.
Semua
tugas itu dengan segala keterbatasan saya telah ditunaikan dengan baik.
Saya tidak ingat apakah laporan tentang kunjungan ini pernah saya tulis
di Republika atau harian lain di Jakarta. Tetapi, pada kesempatan itu,
tulisan saya sama sekali tidak menyinggung masalah lembu yang sangat
dihormati oleh umat Hindu, apalagi di sepanjang jalan di Delhi, ketika
itu tidak ditemukan lembu dalam jumlah besar.
Situasinya sangat
berbeda dengan kunjungan saya ke ibu kota negara bagian Orissa bernama
Bhubaneswar pada 14-16 November 2011 atas undangan pimpinan Universitas
KIIT (Kalinga Institute of Industrial Technology). Sepanjang sore pada
14 November 2011, pihak universitas mengajak saya berkeliling
Bhubaneswar, termasuk mengunjungi Candi Surya, warisan Kerajaan Kalinga
abad ketujuh sampai dengan abad ke-11 Masehi.
Dalam perjalanan sore inilah, saya dientakkan oleh pemandangan ajaib
puluhan lembu di jalan-jalan raya, di pinggir-pinggir pasar. Ada yang
berjalan sendirian, ada pula yang berombongan tidur di tengah jalan.
Kotorannya jangan ditanya lagi. Sebagai makhluk yang dipandang suci,
masyarakat India sama sekali tidak merasa terganggu oleh lembu yang
berkeliaran itu. Yang mengalah harus manusia, bukan lembu. Sebagian
besar lembu tampak gemuk, hanya sedikit yang kurus. Di pinggir-pinggir
pasar, "hewan suci" itu tampak akrab dengan manusia.
Ketika
ditanyakan kepada Bung Chitta Ranjan Panda (staf penghubung KIIT) yang
ditugaskan mendampingi perjalanan saya keliling Bhubaneswar, tentang
siapa pemilik lembu-lembu itu, ia menjawab singkat, para petani. Saya
tidak bisa membayangkan jumlah lembu sebanyak itu bisa diketahui
pemiliknya. Tambahan lagi, kandangnya adalah di alam lepas.
Memang
menurut agama Hindu, lembu (jantan atau betina) boleh dipekerjakan
untuk membajak sawah atau yang betina diambil susunya. Yang diharamkan
adalah menyembelih atau menganiayanya. Anda bisa perkirakan kesulitan
yang dihadapi umat Islam India yang jumlahnya sekitar 150 juta itu pada
saat Idul Kurban yang dianjurkan dengan sangat bagi yang mampu untuk
menyembelih hewan, termasuk lembu. Saya lupa menanyakan masalah ini
kepada Panda.
Dalam kepercayaan Hindu, semua binatang tidak boleh
diganggu karena mereka dipandang sebagai bagian dari atman (ruh
universal). Kepercayaan ini sudah berusia ribuan tahun dan bertahan
sampai hari ini. Alangkah dahsyatnya daya tahan sebuah kepercayaan yang
berasal dari agama nenek moyang suatu suku atau bangsa. Bandingkan
dengan ideologi-ideologi ciptaan otak modern, seperti Nazisme dan
Komunisme, dalam bilangan tahun saja telah sirna atau lumpuh.
Tengok
pula Konfusianisme yang pernah dicoba untuk dihancurkan oleh revolusi
Mao Ze-dong, sekarang kembali lagi ke permukaan untuk menuntun kehidupan
rakyat Cina yang jumlahnya 1,3 miliar itu. India yang kini berpenduduk
sekitar 1,1 miliar itu dulu pernah di bawah kekuasaan Muslim selama
tujuh abad, tetapi Hinduisme dengan penghormatan terhadap kesucian lembu
tetap tak tergoyahkan. Ini adalah fakta sejarah yang harus kita terima
apa adanya sekalipun kadang-kadang pada saat Idul Kurban umat Islam
India menghadapi masalah demi menjaga toleransi agama.
Selain
lembu, di Bhubaneswar, saya juga menyaksikan banyak sekali anjing
berkeliaran di mana-mana, ada yang badannya penuh kurap. Juga tidak
diganggu manusia. Yang agak mengejutkan adalah ketika mobil kami
melintasi semak-semak dalam kawasan kota itu, sesekali melintas pula
serigala dengan kecepatan tinggi. Rupanya, di India, serigala ini hidup
tidak jauh dari daerah permukiman penduduk. Saya tidak tahu apakah
serigala ini dapat dijinakkan yang memungkinkannya hidup berdampingan
secara damai dengan manusia.
Akhirnya, India memang surga bagi
binatang, terutama lembu. Sepanjang jalan, lembu-lembu itu bergerak
dengan santai, bersahabat, dan penuh percaya diri karena pasti tidak
akan diganggu. Sungguh kaya dan mengagumkan semua ciptaan Allah, bukan? |