Jurnal Maarif

Volume 6 No 2 Nov 2011

Monday, 19 December 2011 | Administrator

article thumbnail View   
Selengkapnya

Jurnal Sebelumnya

Kliping


 

 

Kliping Magsaysay Award


 

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday11
mod_vvisit_counterYesterday221
mod_vvisit_counterThis week232
mod_vvisit_counterThis month4224
mod_vvisit_counterAll159654

Berita Media

Syafii Maarif Minta Diskusi Irshad Manji tidak dilarang

Wednesday, 09 May 2012

article thumbnailJAKARTA--MICOM: Mantan Ketua PP Muhamadiyah Syafii Maarif meminta kampus-kampus tetap bebas dan bersikap pluralis terhadap diskusi mengenai buku Irshad Manji. Menurutnya,...
Selengkapnya

Syafii Maarif: Seharusnya konstitusi membimbing

Wednesday, 09 May 2012

article thumbnailJakarta (ANTARA News) – Konstitusi seharusnya membimbing perilaku bangsa dalam bidang politik dan ekonomi, kata mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Ahmad Syafii...
Selengkapnya

Nov 30 2011
India Surga Bagi Lembu PDF Print E-mail
Wednesday, 30 November 2011

Oleh Ahmad Syafii Maarif

Atas undangan Kedubes India di Jakarta, beberapa tahun yang lalu, saya berkunjung ke New Delhi. Tujuan pokok kunjungan itu untuk bertemu dan berdialog dengan para intelektual Muslim dan intelektual Hindu di Ibu Kota India itu. Kalangan intelektual ini ingin mengenal lebih banyak tentang Islam Indonesia dengan karakternya sendiri. Mereka juga ingin mendapat gambaran yang lebih perinci tentang Muhammadiyah, sebuah gerakan Islam yang sejak puluhan tahun silam telah memberdayakan dan mencerdaskan masyarakat luas, jauh sebelum Indonesia menyatakan kemerdekaannya.

Semua tugas itu dengan segala keterbatasan saya telah ditunaikan dengan baik. Saya tidak ingat apakah laporan tentang kunjungan ini pernah saya tulis di Republika atau harian lain di Jakarta. Tetapi, pada kesempatan itu, tulisan saya sama sekali tidak menyinggung masalah lembu yang sangat dihormati oleh umat Hindu, apalagi di sepanjang jalan di Delhi, ketika itu tidak ditemukan lembu dalam jumlah besar.

Situasinya sangat berbeda dengan kunjungan saya ke ibu kota negara bagian Orissa bernama Bhubaneswar pada 14-16 November 2011 atas undangan pimpinan Universitas KIIT (Kalinga Institute of Industrial Technology). Sepanjang sore pada 14 November 2011, pihak universitas mengajak saya berkeliling Bhubaneswar, termasuk mengunjungi Candi Surya, warisan Kerajaan Kalinga abad ketujuh sampai dengan abad ke-11 Masehi. 

Dalam perjalanan sore inilah, saya dientakkan oleh pemandangan ajaib puluhan lembu di jalan-jalan raya, di pinggir-pinggir pasar. Ada yang berjalan sendirian, ada pula yang berombongan tidur di tengah jalan. Kotorannya jangan ditanya lagi. Sebagai makhluk yang dipandang suci, masyarakat India sama sekali tidak merasa terganggu oleh lembu yang berkeliaran itu. Yang mengalah harus manusia, bukan lembu. Sebagian besar lembu tampak gemuk, hanya sedikit yang kurus. Di pinggir-pinggir pasar, "hewan suci" itu tampak akrab dengan manusia.

Ketika ditanyakan kepada Bung Chitta Ranjan Panda (staf penghubung KIIT) yang ditugaskan mendampingi perjalanan saya keliling Bhubaneswar, tentang siapa pemilik lembu-lembu itu, ia menjawab singkat, para petani. Saya tidak bisa membayangkan jumlah lembu sebanyak itu bisa diketahui pemiliknya. Tambahan lagi, kandangnya adalah di alam lepas.

Memang menurut agama Hindu, lembu (jantan atau betina) boleh dipekerjakan untuk membajak sawah atau yang betina diambil susunya. Yang diharamkan adalah menyembelih atau menganiayanya. Anda bisa perkirakan kesulitan yang dihadapi umat Islam India yang jumlahnya sekitar 150 juta itu pada saat Idul Kurban yang dianjurkan dengan sangat bagi yang mampu untuk menyembelih hewan, termasuk lembu. Saya lupa menanyakan masalah ini kepada Panda.

Dalam kepercayaan Hindu, semua binatang tidak boleh diganggu karena mereka dipandang sebagai bagian dari atman (ruh universal). Kepercayaan ini sudah berusia ribuan tahun dan bertahan sampai hari ini. Alangkah dahsyatnya daya tahan sebuah kepercayaan yang berasal dari agama nenek moyang suatu suku atau bangsa. Bandingkan dengan ideologi-ideologi ciptaan otak modern, seperti Nazisme dan Komunisme, dalam bilangan tahun saja telah sirna atau lumpuh.

Tengok pula Konfusianisme yang pernah dicoba untuk dihancurkan oleh revolusi Mao Ze-dong, sekarang kembali lagi ke permukaan untuk menuntun kehidupan rakyat Cina yang jumlahnya 1,3 miliar itu. India yang kini berpenduduk sekitar 1,1 miliar itu dulu pernah di bawah kekuasaan Muslim selama tujuh abad, tetapi Hinduisme dengan penghormatan terhadap kesucian lembu tetap tak tergoyahkan. Ini adalah fakta sejarah yang harus kita terima apa adanya sekalipun kadang-kadang pada saat Idul Kurban umat Islam India menghadapi masalah demi menjaga toleransi agama.

Selain lembu, di Bhubaneswar, saya juga menyaksikan banyak sekali anjing berkeliaran di mana-mana, ada yang badannya penuh kurap. Juga tidak diganggu manusia. Yang agak mengejutkan adalah ketika mobil kami melintasi semak-semak dalam kawasan kota itu, sesekali melintas pula serigala dengan kecepatan tinggi. Rupanya, di India, serigala ini hidup tidak jauh dari daerah permukiman penduduk. Saya tidak tahu apakah serigala ini dapat dijinakkan yang memungkinkannya hidup berdampingan secara damai dengan manusia.

Akhirnya, India memang surga bagi binatang, terutama lembu. Sepanjang jalan, lembu-lembu itu bergerak dengan santai, bersahabat, dan penuh percaya diri karena pasti tidak akan diganggu. Sungguh kaya dan mengagumkan semua ciptaan Allah, bukan?

 
< Prev   Next >

Autodesk Mudbox 2011
Lynda Encore CS5 New Features
Nuance PaperPort Professional 12
Adobe Creative Suite 4 Production Premium
UltraEdit 16
Microsoft SQL Server 2008 Enterprise Edition
Joboshare BlackBerry Video Converter
Lynda Excel 2010 Advanced Formulas and Functions
Quiz press MAC
Bigasoft iPhone Ringtone Maker
Lynda Excel 2010 Advanced Formulas and Functions
VoxReducer Kit II MAC