|
Inilah sebuah negeri di kawasan khatulistiwa
yang permai, tetapi masih saja tidak putus-putusnya dirundung musibah.
Bermacam-macam bentuknya. Ada musibah moral-sosial berupa korupsi yang
menggurita, ada musibah perselingkuhan yang semakin menjadi-jadi, tidak jarang
dituturkan dengan penuh kebanggaan.
Adapun poligini yang dibela mati-matian oleh
sementara orang tentu tidak termasuk musibah dalam kategori di atas. Namun itu
jelas menyakitkan hati perempuan yang dimadu. Meski, kadang ditampakkan ke
permukaan sebagai suatu yang bisa diterima.
Untuk yang terakhir ini, saya mohon disimak dan dibandingkan baik-baik surat Al-Baqarah
ayat 3 dan 129. Jangan dengan gampang mengatakan bahwa "siapa yang
menentang poligini/poligami sama dengan melawan Allah". Musibah yang
menjadi titik perhatian kita kali ini bertalian dengan bermacam bencana yang
datang beruntun dalam jarak waktu sangat dekat. Ada banjir dan tanah longsor
yang telah merenggut ratusan nyawa anak bangsa.
Di ujung tahun 2006, KM Senopati tenggelam di Laut Jawa karena kelebihan
muatan. Tidak sampai di situ. Pada pembukaan tahun baru 2007, pesawat Boeing
737/400 milik maskapai penerbangan Adam Air hilang, sampai 5 Januari belum
ditemukan di kawasan Sulawesi Utara. Semua orang berduka. Terlebih bagi
keluarga yang ditinggalkan, sungguh tidak dapat kita bayangkan. Dalam sekali.
Semuanya ini memunculkan pertanyaan: ada apa dengan negeri ini? Jika gempa dan
tsunami tentu di luar kekuatan manusia untuk mencegahnya. Paling-paling
diantisipasi dengan membuat bangunan tahan gempa. Untuk tsunami tentu lebih
sukar. Paling tinggi sarannya, jangan berumah di tepi pantai yang diperkirakan
rentan tsunami.
Tentu tidak sesederhana itu. Untuk memindahkan kota dan penduduk dari sekitar
pantai yang rawan bencana adalah perkara besar yang dimensinya luas sekali.
Maka tidak mengherankan ada orang yang mengatakan: "Saya tidak akan
mengungsi jika tsunami datang. Saya akan bertahan di rumah ini."
Cara bersikap seperti itu tentu tidaklah bijak. Namun hal itu juga menunjukkan
betapa ruwetnya masalah pengungsian ini. Belum lagi kita berbicara tentang
besarnya dana yang diperlukan untuk proses sebuah pengungsian. Aceh, misalnya,
setelah diamuk gempa dan tsunami dahsyat Desember 2004, sudah lebih dari dua
tahun, masalah pegungsian belum juga tuntas. Yogya dan Jawa Tengah, yang juga
diguncang gempa tahun lalu, penanggulangan dampaknya masih tersendat-sendat.
Sekarang ditambah lagi banjir besar di Tamiang, menjadi semakin panjang daftar
bencana yang merenggut nyawa dan harta manusia. Yang gagal kita pahami adalah
bahwa kenyataan di lapangan, tidak jarang sementara orang memanfaatkan musibah
itu untuk mengeruk keuntungan materi. Di tengah musibah, ada saja jenis manusia
yang telah mati rasa, tumpul nurani.
Untuk musibah banjir dan tanah longsor dapat dikatakan karena kecerobohan dan
kerakusan manusia. Demi memburu keuntungan, mereka merusak hutan dan
lingkungan. Pembalakan liar yang merampok kekayaan hutan negara dalam bilangan
puluhan trilyun rupiah saban tahun adalah bentuk pengkhianatan yang tidak bisa
dimaafkan. Ironisnya, tidak jarang aparat terlibat dalam proses pengkhianatan
ini, sehingga masalahnya semakin berbelit-belit.
Akibat lingkungan yang semakin parah binasa, alam pun mengamuk karena tak kuat
lagi menahan beban hujan yang terus mengguyurnya berhari-hari, bermalam-malam.
Tidak jarang muncul pertanyaan begini: apakah bangsa ini telah kehabisan energi
untuk mengatasi berbagai masalah, baik yang disebabkan ancaman yang berada di
luar kendali manusia maupun bencana yang nyata-nyata akibat kelakuannya yang
tidak bermoral? Pada berbagai kesempatan, saya mengatakan bahwa negeri yang
elok ini telah dirusak oleh tangan anak-anaknya sendiri yang tuna-nurani.
Sekarang bencana telah merata di darat, di udara, dan di laut. Seakan-akan
sudah semakin sempit ruang yang masih aman bagi kita semua. Untuk Senopati dan
Adam Air, sambil menanti hasil penyelidikan, rasanya tidak mustahil pula ada
unsur kecerobohan manusia juga berperan di dalamnya. Filosofinya: meraih
keuntungan sebesar mungkin tanpa mempertimbangkan keselamatan penumpang.
Sebuah filosofi yang lagi menjangkiti sebagian orang di sebuah bangsa yang
berdasarkan Pancasila dengan segala nilainya yang agung dan luhur, tetapi yang
terus dikhianati dalam perbuatan. Jika musibah demi musibah yang datang
beruntun tidak mampu lagi menyadarkan kita untuk mengubah kelakuan, lalu apa
lagi yang kita tunggu?
|