Publikasi A. Syafii Maarif

Resonansi
Prespektif Gatra
Jan 13 2007
TAK PUTUS DIRUDUNG MUSIBAH PDF Cetak E-mail
Sunday, 14 January 2007

Inilah sebuah negeri di kawasan khatulistiwa yang permai, tetapi masih saja tidak putus-putusnya dirundung musibah. Bermacam-macam bentuknya. Ada musibah moral-sosial berupa korupsi yang menggurita, ada musibah perselingkuhan yang semakin menjadi-jadi, tidak jarang dituturkan dengan penuh kebanggaan.

Adapun poligini yang dibela mati-matian oleh sementara orang tentu tidak termasuk musibah dalam kategori di atas. Namun itu jelas menyakitkan hati perempuan yang dimadu. Meski, kadang ditampakkan ke permukaan sebagai suatu yang bisa diterima.

Untuk yang terakhir ini, saya mohon disimak dan dibandingkan baik-baik surat Al-Baqarah ayat 3 dan 129. Jangan dengan gampang mengatakan bahwa "siapa yang menentang poligini/poligami sama dengan melawan Allah". Musibah yang menjadi titik perhatian kita kali ini bertalian dengan bermacam bencana yang datang beruntun dalam jarak waktu sangat dekat. Ada banjir dan tanah longsor yang telah merenggut ratusan nyawa anak bangsa.

Di ujung tahun 2006, KM Senopati tenggelam di Laut Jawa karena kelebihan muatan. Tidak sampai di situ. Pada pembukaan tahun baru 2007, pesawat Boeing 737/400 milik maskapai penerbangan Adam Air hilang, sampai 5 Januari belum ditemukan di kawasan Sulawesi Utara. Semua orang berduka. Terlebih bagi keluarga yang ditinggalkan, sungguh tidak dapat kita bayangkan. Dalam sekali.

Semuanya ini memunculkan pertanyaan: ada apa dengan negeri ini? Jika gempa dan tsunami tentu di luar kekuatan manusia untuk mencegahnya. Paling-paling diantisipasi dengan membuat bangunan tahan gempa. Untuk tsunami tentu lebih sukar. Paling tinggi sarannya, jangan berumah di tepi pantai yang diperkirakan rentan tsunami.

Tentu tidak sesederhana itu. Untuk memindahkan kota dan penduduk dari sekitar pantai yang rawan bencana adalah perkara besar yang dimensinya luas sekali. Maka tidak mengherankan ada orang yang mengatakan: "Saya tidak akan mengungsi jika tsunami datang. Saya akan bertahan di rumah ini."

Cara bersikap seperti itu tentu tidaklah bijak. Namun hal itu juga menunjukkan betapa ruwetnya masalah pengungsian ini. Belum lagi kita berbicara tentang besarnya dana yang diperlukan untuk proses sebuah pengungsian. Aceh, misalnya, setelah diamuk gempa dan tsunami dahsyat Desember 2004, sudah lebih dari dua tahun, masalah pegungsian belum juga tuntas. Yogya dan Jawa Tengah, yang juga diguncang gempa tahun lalu, penanggulangan dampaknya masih tersendat-sendat.

Sekarang ditambah lagi banjir besar di Tamiang, menjadi semakin panjang daftar bencana yang merenggut nyawa dan harta manusia. Yang gagal kita pahami adalah bahwa kenyataan di lapangan, tidak jarang sementara orang memanfaatkan musibah itu untuk mengeruk keuntungan materi. Di tengah musibah, ada saja jenis manusia yang telah mati rasa, tumpul nurani.

Untuk musibah banjir dan tanah longsor dapat dikatakan karena kecerobohan dan kerakusan manusia. Demi memburu keuntungan, mereka merusak hutan dan lingkungan. Pembalakan liar yang merampok kekayaan hutan negara dalam bilangan puluhan trilyun rupiah saban tahun adalah bentuk pengkhianatan yang tidak bisa dimaafkan. Ironisnya, tidak jarang aparat terlibat dalam proses pengkhianatan ini, sehingga masalahnya semakin berbelit-belit.

Akibat lingkungan yang semakin parah binasa, alam pun mengamuk karena tak kuat lagi menahan beban hujan yang terus mengguyurnya berhari-hari, bermalam-malam. Tidak jarang muncul pertanyaan begini: apakah bangsa ini telah kehabisan energi untuk mengatasi berbagai masalah, baik yang disebabkan ancaman yang berada di luar kendali manusia maupun bencana yang nyata-nyata akibat kelakuannya yang tidak bermoral? Pada berbagai kesempatan, saya mengatakan bahwa negeri yang elok ini telah dirusak oleh tangan anak-anaknya sendiri yang tuna-nurani.

Sekarang bencana telah merata di darat, di udara, dan di laut. Seakan-akan sudah semakin sempit ruang yang masih aman bagi kita semua. Untuk Senopati dan Adam Air, sambil menanti hasil penyelidikan, rasanya tidak mustahil pula ada unsur kecerobohan manusia juga berperan di dalamnya. Filosofinya: meraih keuntungan sebesar mungkin tanpa mempertimbangkan keselamatan penumpang.

Sebuah filosofi yang lagi menjangkiti sebagian orang di sebuah bangsa yang berdasarkan Pancasila dengan segala nilainya yang agung dan luhur, tetapi yang terus dikhianati dalam perbuatan. Jika musibah demi musibah yang datang beruntun tidak mampu lagi menyadarkan kita untuk mengubah kelakuan, lalu apa lagi yang kita tunggu?

feed0 Comments

Write comment
 
 
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger
 

security image
Write the displayed characters


busy
Pemutakhiran Terakhir ( Tuesday, 22 April 2008 )
 
Berikutnya >

Lynda After Effects CS5 New Features
OX PowerPoint to Pdf Converter
BitRock InstallBuilder
Adobe Dreamweaver CS5.5 MAC
Autodesk Revit Architecture 2011
Microsoft Office Home and Student 2007
Bigasoft Total Video Converter
Microsoft Expression Studio 4 Web Professional
Quicken Home and Business 2010
Adobe Soundbooth CS5
RazorSQL MAC
Red Giant Magic Bullet Frames