Jan
03
2012
|
Pidato Nobel Tawakkul Karman (III) |
|
|
|
|
Tuesday, 03 January 2012 |
|
Oleh Ahmad Syafii Maarif
Jika di Kairo terkenal
Lapangan Tahrir, di Sanaa ada Lapangan Taghyir (Lapangan Perubahan). Di
sinilah anak-anak muda Yaman berkumpul dan berorasi menuntut perubahan
sistem kekuasaan, dari otokrasi menuju sistem demokrasi. Di sini pulalah
Tawakkul selama berbulan-bulan membunyikan lonceng perubahan itu tanpa
henti.
Lonceng itulah pada akhirnya yang memaksa penguasa negeri
tersebut menyerahkan kekuasaannya, sekalipun tidak mulus. Siapa tahu
negeri-negeri lain semisal Suriah, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab,
bahkan Saudi Arabia bakal menyusul. Kita ikuti lebih jauh pidato Nobel
itu.
"Banyak bangsa telah menderita, termasuk rakyat Arab,
sekalipun mereka tidak berada dalam suasana perang, tetapi juga tidak
dalam suasana damai. Perdamaian di mana mereka hidup adalah sebuah
'perdamaian kuburan' palsu, perdamaian berupa menyerah kepada tirani dan
korupsi yang memelaratkan rakyat dan membunuh harapan mereka untuk
sebuah masa depan lebih baik.
|
|
Dec
27
2011
|
Pidato Nobel Tawakkul Karman (II) |
|
|
|
|
Tuesday, 27 December 2011 |
|
Oleh Ahmad Syafii Maarif
Menjadi semakin menarik
seorang Tawakkul Karman dari Partai Ishlah yang biasa dikategorikan
sebagai partai pendukung syariah telah tampil ke lapangan untuk
meruntuhkan sistem politik yang antirakyat, tanpa membawa slogan
syariah. Dalam pidato Nobelnya, tak satu pun kata syariah itu muncul.
Tetapi, bahwa maq?shid al-syar?'ah (tujuan utama syariah) bagi tegaknya
keadilan, kemerdekaan, dan persamaan sangat dirasakan dalam pidato itu.
Prinsip-prinsip ini telah lama terkubur di bawah debu sejarah dalam
masyarakat Yaman sebagaimana juga berlaku di seluruh dunia Arab.
Kutipan-kutipan selanjutnya akan menjelaskan kepada kita bahwa Tawakkul
memahami benar betapa ketidakadilan sejarah telah berlangsung, tidak
hanya di dunia Arab, tetapi juga di bagian-bagian dunia yang lain.
"Sejak
Anugerah Nobel Perdamaian pertama tahun 1901, berjuta orang telah mati
dalam berbagai peperangan yang semestinya dapat dihindari sekiranya ada
sedikit kearifan dan keberanian. Negeri-negeri Arab turut merasakan
akibat peperangan tragis ini sekalipun bumi mereka adalah bumi kenabian
dan risalah ketuhanan yang menyeru kepada perdamaian. |
|
Dec
22
2011
|
Pidato Nobel Tawakkul Karman (I) |
|
|
|
|
Thursday, 22 December 2011 |
|
Oleh Ahmad Syafii Maarif
Nama lengkap
pemenang hadiah Nobel Perdamaian asal Yaman ini adalah Tawakkul ‘Abd
al-Salam Karman (32), seorang ibu beranak tiga. Bersama dengan dua tokoh
perempuan lain, Presiden Liberia Ellen Johnson Sirleaf (73) dan aktivis
perdamaian Liberia Leymah Gbowee (39), Tawakkul Karman pada 10 Desember
2011 berbagi anugerah Nobel Perdamaian di Oslo dalam sebuah upacara
yang sangat bergengsi.
Berita sebagai pemenang ini diterima
Tawakkul saat berada di tenda perlawanan terhadap Presiden Yaman Ali
Abdullah Saleh, seorang diktator yang telah berkuasa selama 33 tahun.
Tawakkul adalah pemenang hadiah Nobel termuda sejak hadiah ter hormat
itu diberikan pertama kali pada 10 Desember 1901, 50 tahun setelah
Alfred Bernhard Nobel wafat.
Tawakkul Karman juga dikenal sebagai
Ibu Revolusi Yaman sekalipun banyak ulama San’a yang menyalahkan dan
menuduhnya sebagai penghancur moralitas kaum perempuan. Kritik ini tidak
dihiraukannya karena keyakinan bahwa kezaliman dan despotisme harus
diakhiri di negerinya.
|
|
Dec
06
2011
|
Tuesday, 06 December 2011 |
|
Oleh Ahmad Syafii Maarif
Pembaca setia ruang
Resonansiini tentu masih ingat sosok seorang Suparmin, pria cacat fisik
sejak dalam kandungan. Pada 27 September 2007, Reso nansi itu berjudul
“Suparmin Korban Gempa 27 Mei 2006”. Sahabat kita ini harus saya
tampilkan lagi. Bukan karena apa-apa, melainkan karena memang perjalanan
kariernya sebagai tukang asah pisau-asah gunting sarat dengan
pengalaman yang terasa tidak bisa diterima nalar.
Pada 27
November 2011, Parmin mampir ke tempat saya untuk asah pisau. Saya
tunggui dia sambil menyimak pengalaman hidupnya yang dramatis sampai
rampung melaksanakan tugasnya dengan baik. Saya sangat percaya dengan
tutur katanya karena dia jujur dan lugu.
Demikianlah pada suatu
hari di Terminal Bus Kartasura (Surakarta-Jawa Tengah) jauh sebelum
gempa 2006, Parmin didekati oleh seseorang yang langsung memaksanya agar
uang yang ada di dompetnya diserahkan segera. Semula Parmin mengatakan
tidak punya uang. Tetapi, karena terus didesak, dompetnya dibuka dan
dikeluarkan uang sebanyak Rp 60 ribu hasil jerih payahnya berlawalata
pada hari itu dengan tongkatnya yang setia.
|
|
Dec
01
2011
|
Thursday, 01 December 2011 |
|
Sumber
: KOMPAS, 26 November 2011
Judul
yang lengkap sebenarnya adalah ”Asketik Hindu Nabinya the Poorest of the Poor
”. Ini adalah artikel refleksi kesaksian saya atas realitas spiritual seorang
asketik Hindu.
Asketik
berarti sederhana ekstrem. Saya mendapat undangan dari seorang asketik
spiritual untuk mengunjungi kota Bhubaneswar, Negara Bagian Orissa, India,
14-16 November 2011. Saya diajak menyaksikan proyek pendidikan, sosial, dan
kemanusiaan dahsyat yang telah digelutinya sejak 20 tahun lalu.
Sosok
itu bernama Dr Achyuta Samanta, lahir 20 Januari 1965. Ia berasal dari Desa
Kalarabanka, salah satu tempat tinggal suku termiskin di negara bagian itu.
Samanta yatim sejak berumur empat tahun. Ibunya yang kini 83 tahun tetap
tinggal di desa, sementara saudara-saudaranya tak seorang pun mengikutinya.
|
|
Last Updated ( Thursday, 01 December 2011 )
|
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>
|
| Results 10 - 18 of 277 |