Nov
02
2010
|
SIKAP TEOLOGIS DALAM MENGHADAPI BENCANA |
|
|
|
|
Tuesday, 02 November 2010 |
|
Ahmad Syafii Maarif
Menurut Karen Armstrong, sejak meledaknya PD (Perang Dunia) II banyak rakyat Inggris yang tidak mau lagi percaya kepada Tuhan. Mengapa perang dibiarkan berkecamuk yang menimbulkan bencana yang demikian dahsyat, jika Tuhan memang maha kuasa? Karena pertanyaan ini tidak bisa dijawab dengan memuaskan, maka sebagian rakyat Inggris meninggalkan Tuhan dan tidak mau hirau lagi dengan agama. Mereka tidak berfikir bahwa peperangan adalah akibat ulah manusia, bukan kehendak Tuhan. Tetapi karena penderitaan begitu berat yang dirasakan, lalu orang mencari jalan termudah: menyalahkan Tuhan.
Secara garis besar, bencana itu ada dua macam: bencana alam dan bencana akibat kelakuan manusia. Bencana Lapindo dan Wasior adalah bencana karena ulah manusia, lalu alam mengamuk. Korban bergelimpangan, tetapi pengusaha berdalih bahwa kedua bencana itu adalah bencana alam, sebuah sikap yang tunamoral dan tidak bertanggung jawab. Berkali-kali tragedi semacam ini berlaku di tanah air kita, penyebab utamanya tetap saja karena adanya perselingkuhan antara penguasa dan pengusaha.
Di mana aparat penegak hukum? Mereka adalah bagian dari peselingkuhan itu. Di mana Pancasila? Nilai-nilai mulia ini telah lama tidak berlaku lagi dalam cara kita bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, kecuali untuk retorika politik. Rakyat miskin mungkin juga terlibat dalam proses pengrusakan lingkungan ini, tetapi peran mereka sangat kecil, setanding dengan kecilnya kemampuan tangan mereka yang sudah terlalu lama didera penderitaan. Berbeda dengan penguasaha (penguasa-pengusaha) dengan menggunakan peralatan serba berat dan modern untuk mengeruk keuntungan dari alam, rakyat kecil hanyalah sekadar untuk menyambung pernafasan mereka akibat dililit kesulitan hidup. |
|
Oct
26
2010
|
SEMANGAT BERKURBAN RAKYAT KECIL DAN KUNJUNGAN KE YUNANI |
|
|
|
|
Tuesday, 26 October 2010 |
|
Ahmad Syafii Maarif
Saat publik Indonesia merasa jijik membaca berita tentang kunjungan anggota Dewan Kehormatan DPR untuk belajar etika ke Yunani, sebuah negara yang hampir gagal dengan tingkat korupsi dan praktik upeti yang marak, cerita di bawah ini barangkali dapat sedikit menyentuh nurani kita tentang bagaimana tingginya semangat berkurban rakyat kecil. Cerita ini saya peroleh dari seorang sopir taksi Primkopad (Primer Koperasi Angkatan Darat) bernama Daliman (46) yang mengantarkan saya ke bandara Adisutjipto, Jogjakarta, pada 23 Oktober 2010. Ini untuk kedua kalinya saya bersamanya. Sekitar 30 menit dalam perjalanan, Bung Daliman terus saja bercerita, sesekali saya sela dengan pertanyaan. Bagi saya info yang disampaikan dengan cara yang sangat lugu itu sungguh mengharukan, teramat dalam pesan moral yang disimpannya.
Adalah Desa Pentung, Seloharjo, kecamatan Pundong, kabupaten Bantul, Jogjakarta, desa asal Daliman. Sebagian besar penduduknya terdiri buruh tani dengan tingkat pendapatan yang serba minim. Isteri Bung Daliman adalah salah seorang dari penduduk dalam kategori itu, sosok pekerja keras, sedangkan Daliman sendiri, mantan penarik becak selama delapan tahun, sekarang naik pangkat sebagai sopir taksi. Penghasilannya berkisar antara Rp. 1.000.000 s/d Rp. 1.500.000 per bulan yang diterimanya dengan penuh kepasrahan. Itu jika ia selalu sehat sepanjang bulan. Coba bayangkan, seorang Daliman harus menyopir selama 10 tahun untuk menandingi besarnya uang saku anggota DPR yang sedang perlisir ke Yunani, hanya dalam beberapa hari. |
|
Oct
19
2010
|
Tuesday, 19 October 2010 |
|
Ahmad Syafii Maarif|
Beberapa minggu yang lalu,
saya dikunjungi Presdir (Presiden Direktur) PT IGN (Industri Gula
Nusantara), Ir Lie Kamadjaja MBA beserta rombongannya. Saya menerima
pada siang hari di Masjid Nogotirto, Yogyakarta. PT IGN yang didirikan
pada 27 Oktober 2004 itu merupakan perusahaan patungan antara PTP
Nusantara IX (Persero) Semarang dan PT Multi Manis Mandiri Jakarta
dengan penyertaan saham 36 persen dan 64 persen. Sekarang, PT IGN baru
punya satu pabrik gula di Cepiring, Kendal, Jawa Tengah, yang mulai
beroperasi sejak dua tahun yang lalu. Untuk membalas kunjungan manajemen
IGN, saya dan teman-teman pada 9 Oktober 2010 berkunjung pula ke
Cepiring dengan dua tujuan melihat lokasi masjid yang akan direnovasi
dan meninjau PGC (Pabrik Gula Cepiring).
PGC itu sudah berusia
hampir dua abad sejak didirikan tahun 1835. Saat itu, Indonesia masih di
bawah penjajahan Belanda dengan nama Kendalsche Suiker Onderneming.
Mulai beroperasi tahun 1837, pabrik ini dalam perjalanan waktu
berkali-kali terpaksa berhenti beroperasi karena berbagai sebab: perang,
krisis ekonomi dunia, kekurangan bahan baku, dan lain-lain.
Tahun
1942, pabrik ini dikuasai Jepang dan dijadikan markas pertahanan.
Akibatnya, terjadi penghancuran atas tempat dan alat-alat pabrik. Antara
tahun 1945 sampai 1953, pabrik tersebut dikuasai kembali oleh Belanda,
tetapi tidak dapat berjalan. Tahun 1954, dioperasikan kembali, sayangnya
dengan jalan menganibal beberapa pabrik gula yang ada di Jawa Tengah.
Pada Desember 1957, diambil alih oleh pemerintah dan dikelola berbagai
badan milik negara. Sejak tahun 1998, selama 10 tahun, PGC terhenti lagi
karena kekurangan bahan baku tebu plus manajemen yang tidak sehat. |
|
Oct
08
2010
|
Tarakan, Sampit, dan Komunikasi Pasca Konflik |
|
|
|
|
Friday, 08 October 2010 |
|
Rudi Sukandar
Ketidakpuasan warga asli atas berbagai ketimpangan, bisa meledak menjadi konflik etnis.
VIVAnews - Ketika konflik komunal di Tarakan,
Kalimantan Timur terjadi, ingatan kolektif kita langsung merujuk pada
kekerasan antar kelompok di Kalimantan Tengah, yang terjadi di Sampit
hampir sepuluh tahun lalu. Mengingat potensi bahayanya, Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono pun buru-buru mengingatkan ”para petugas keamanan
untuk tidak menyikapi konflik di Tarakan sebagai kasus biasa” (VIVAnews, 29 September 2010).
Belajar
dari pengalaman di Kalimantan Tengah, Pemerintah memang harus bertindak
tegas, dan cepat agar kekerasan antar kelompok ini tak menyebar ke
daerah lain. Salah satu hal yang mungkin menjadi perhatian pemerintah
adalah besarnya dana yang dikeluarkan mengirim para petugas keamanan di
daerah konflik tersebut.
Namun demikian besarnya dana itu akan
menjadi tak signifikan dibandingkan jika konflik itu meluas. Dalam
riset soal Sampit yang pernah saya lakukan beberapa waktu lalu, salah
seorang Bupati di salah satu kabupaten di Kalimantan Tengah mengatakan
dia tidak peduli dana yang harus dikeluarkannya sepanjang konflik tidak
meluas .
Dia juga mengatakan kerusakan besar-besaran di kota Sampit akibat
konflik membuat dana yang dia keluarkan menjadi tak berarti. Langkah
sang Bupati itu membuahkan hasil dengan dapat dihentikannya kekerasan di
daerahnya. |
|
Last Updated ( Friday, 08 October 2010 )
|
|
Oct
05
2010
|
Tuesday, 05 October 2010 |
|
Ahmad Syafii Maarif
Pemerintah dan segenap
aparatnya adalah eksekutor negara. Pada alinea ke-4 Pembukaan UUD 1945,
dengan sangat gamblang dijelaskan dalam kalimat berikut. "Kemudian
daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang
melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia
dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa,
dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi, dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan
kebangsaan Indonesia itu dalam suatu undang-undang dasar negara
Indonesia…."
Ada empat kewajiban dan tugas utama Pemerintah
Indonesia berdasarkan Pembukaan UUD ini, yaitu melindungi, memajukan,
mencerdaskan, dan turut melaksanakan ketertiban dunia. Berdasarkan
pengalaman sejarah selama lebih 65 tahun sejak proklamasi, tugas-tugas
utama itu sudah dijalankan pemerintah, tetapi tidak pernah maksimal.
Berbagai kendala menjadi alasan pokok mengapa Pemerintah Indonesia
merdeka sering benar keteteran dalam melaksanakan perintah UUD itu, baik
era DL (Demokrasi Liberal), DT (Demokrasi Terpimpin), DP (Demokrasi
Pancasila), atau era demokrasi tanpa nama sejak 12 tahun yang lalu.
DP
menuding DT telah melanggar UUD atau tidak dilaksanakan secara murni
dan konsekuen. Selama lebih tiga dasawarsa, DP ini telah melahirkan
bapak pembangunan karena dinilai telah berjasa melawan inflasi yang
sangat parah pada era DT. Demi pemurnian pelaksanaan Pancasila dan UUD,
DP menyelenggarakan penataran P4 selama bertahun-tahun dengan biaya
miliaran rupiah. Terkenallah para manggala sebagai penatar P4 itu.
Dengan mulut berbusa-busa, para manggala itu begitu berusaha meyakinkan
peserta bahwa dengan P4, Indonesia akan mencapai tujuan dan cita-cita
kemerdekaan berupa tegaknya keadilan secara merata untuk seluruh rakyat.
|
|
|