Jurnal Maarif

Volume 6 No 2 Nov 2011

Monday, 19 December 2011 | Administrator

article thumbnail View   
Selengkapnya

Jurnal Sebelumnya

Kliping


 

 

Kliping Magsaysay Award


 

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday180
mod_vvisit_counterYesterday181
mod_vvisit_counterThis week1017
mod_vvisit_counterThis month3576
mod_vvisit_counterAll159007

Berita Media

Syafii Maarif Minta Diskusi Irshad Manji tidak dilarang

Wednesday, 09 May 2012

article thumbnailJAKARTA--MICOM: Mantan Ketua PP Muhamadiyah Syafii Maarif meminta kampus-kampus tetap bebas dan bersikap pluralis terhadap diskusi mengenai buku Irshad Manji. Menurutnya,...
Selengkapnya

Syafii Maarif: Seharusnya konstitusi membimbing

Wednesday, 09 May 2012

article thumbnailJakarta (ANTARA News) – Konstitusi seharusnya membimbing perilaku bangsa dalam bidang politik dan ekonomi, kata mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Ahmad Syafii...
Selengkapnya

Home
Dec 21 2010
Selamat Bekerja Ketua KPK yang Baru PDF Print E-mail
Tuesday, 21 December 2010

Oleh Ahmad Syafii Maarif

Dr Muhammad Busyro Muqoddas SH pada Senin siang, 20 Desember 2010, akhirnya dilantik juga sebagai ketua KPK yang baru, menggantikan Antasari Azhar yang telah meninggalkan posnya sejak setahun yang lalu. Jika Kapolri Jenderal Timoer Pradopo hanya dalam beberapa hari sudah langsung dilantik, dipilih, dan ditetapkan sebagai pengganti kapolri sebelumnya. Pangkatnya pun meroket dalam tempo singkat. Dari bintang dua ke bintang tiga, dan terus ke bintang empat. Amat jarang berlaku, kenaikan pangkat yang berlangsung seperti kilat itu. Tentu presiden punya pertimbangan sendiri tentang masalah ini, kita tidak tahu.

Berbeda dengan kapolri, Busyro harus menanti beberapa minggu dulu baru bisa dilantik. Padahal, harapan publik agar pimpinan KPK melakukan terobosan dalam upaya memerangi korupsi demikian besar. Tetapi, mengapa pelantikan ketuanya yang baru tidak segera dilakukan? Jawaban sederhana boleh jadi karena presiden mempunyai kesibukan lain yang lebih penting. Adapun jawaban yang sedikit spekulatif akan mengatakan bahwa pemerintah memang tidak sungguh-sungguh ingin menghalau korupsi, karena berbagai beban masa lalu yang tersembunyi. Bukankah sudah menjadi rahasia umum bahwa upaya kriminalisasi KPK selama ini adalah fakta telanjang tentang betapa rapuhnya posisi negara, dalam memerangi wabah korupsi yang diakui sebagai tindakan kejahatan yang luar biasa itu? Negara di sini diwakili oleh pemerintah, dan di puncaknya ada presiden yang pada tahun 2004 pernah berucap akan memimpin sendiri pemberantasan korupsi itu. Sekarang setelah enam tahun berjalan, upaya memerangi korupsi masih berjalan di tempat.
 

 
Dec 17 2010
Peluncuran JURNAL MAARIF Volume 5 No. 2 Tahun 2010 PDF Print E-mail
Friday, 17 December 2010

Dalam rangka meneguhkan komitmen kebangsaan dan kemanusiaan dalam konteks diseminasi wacana pemikiran Islam dan Sosial, MAARIF Institute for Culture and Humanity pada Rabu siang (15/12) meluncurkan Jurnal MAARIF Volume 5 No.2 tahun 2010. Acara peluncuran dilakukan di Auditorium Gedung Pimpinan Pusat Muhammadiyah Jl. Menteng Raya No. 62 Jakarta Pusat. Dalam acara itu juga dilangsungkan diskusi mengenai tema besar yang sama, yang diangkat dalam jurnal MAARIF edisi kali ini yaitu tentang ‘Kekerasan dan Rapuhnya Politik Multikultural Negara’. Dalam diskusi yang dipandu oleh Muhd, Abdullah Darraz ini, hadir sebagai narasumber yakni Dr. Asvi Warman Adam (Sejarawan dan Peneliti LIPI), Radhar Panca Dahana (Budayawan) dan Usman Hamid (Ketua Badan Pengurus KontraS).


Acara peluncuran jurnal ini dihadiri oleh beberapa tokoh nasional, diantaranya Romo Franz Magnis Suseno, Jacob Tobing, dan juga mantan Menteri Kesehatan RI Ibu Siti Fadilah Supari. Pada sesi pengantar, pendiri MAARIF Institute for Culture and Humanity, Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif atau biasa disapa Buya Syafii menyampaikan kritiknya pada pemerintah republik ini yang dirasa kurang fokus pada persoalan yang membelit rakyat Indonesia. Sehingga dikhawatirkan, bangsa ini akan terus terseok-seok dalam kubangan persoalan kebangsaan yang sangat mungkin akan menganggu proses demokratisasi yang tengah berjalan. Buya Syafii juga menyampaikan keprihatinan yang mendalam terhadap semakin maraknya peristiwa kekerasan yang terjadi belakangan ini. 

Last Updated ( Friday, 17 December 2010 )
 
Dec 15 2010
Refleksi Akhir Tahun 2010 PDF Print E-mail
Wednesday, 15 December 2010

MAARIF Institute, 15 Desember 2010. Grafik aksi kekerasan yang berlatar belakang agama di Indonesia menunjukkan kenaikan yang cukup signifikan di tahun 2010. Aksi-aksi kekerasan nyaris tanpa jeda mengoyak jalinan harmonisasi kerukunan umat beragama. Gejala pembiaran negara bahkan keterlibatan kelompok-kelompok masyarakat sipil dalam tindakan-tindakan intoleran tersebut merupakan sebuah anomali dalam proses demokratisasi. Padahal demokrasi kita membutuhkan pembelajaran dengan mengukuhkan semangat keterbukaan, bukan sikap pembiaran yang menonjolkan eksklusivisme golongan. Jika tidak ada ketegasan aparat negara (kepolisian) dan langkah pro-aktif kelompok-kelompok sipil berbasis keagamaan guna meredam kekerasan maka masa depan demokrasi kita yang masih belia ini berada di tubir jurang ketidakpastian.

Melonjaknya angka kekerasan berbasis sentimen keagamaan pada 2010 ini menjadi fakta yang tak terbantahkan. Berdasarkan temuan Aliansi Kebangsaan untuk Kerukunan Beragama (AKUR), Jawa Barat menjadi salah satu lumbung terjadinya kekerasan berbasis agama dengan 117 kasus hingga pertengahan September 2010 yang lalu (termasuk kasus kekerasan di HKBP Ciketing, pembakaran masjid Ahmadiyah di Ciampea Bogor). Fakta ini menunjukkan peningkatan yang signifikan bila dibandingkan dengan angka kekerasan di Jawa Barat tahun 2009 yang berjumlah 114 kasus.
 

 
Dec 08 2010
Syafiie Maarif Bantah Terima Apartemen dari Bakrie PDF Print E-mail
Wednesday, 08 December 2010

ImageTEMPO Interaktif, Jakarta - Pendiri Maarif Institute, Ahmad Syafiie Maarif membantah bahwa dirinya telah menerima sebuah apartemen mewah dari Aburizal Bakrie. "Berita itu fitnah, dan tidak jelas asal-usul sumbernya," ujar pengacara Syafiie, Todung Mulya Lubis, di kantornya, Rabu (8/12).

Kabar itu sendiri dihembuskan oleh Majalah Suara Islam dalam tulisan berjudul Multi Accident Award. Dalam berita itu disebutkan Syafii menerima apartemen mewah seharga Rp 2 miliar.

Pemberian ini, menurut Suara Islam, untuk membungkam Syafiie yang sering bersuara kritis soal insiden Lumpur Lapindo. Tulisan yang dibuat oleh Jaka Setiawan ini sendiri diterbitkan dalam edisi 19 November-3 Desember 2010.

Menurut Todung, berita itu tidak pernah dikonfirmasikan kepada Buya Syafiie, panggilan Syafii Maarif. Menurutnya, pemberitaan ini sebagai bentuk pencemaran nama baik bagi Syafiie. "Pembunuhan karakter terhadap Buya sebagai guru bangsa dan pejuang kemajemukan bangsa," ujarnya.

Todung menambahkan, pihaknya tidak serta merta akan mengambil langkah hukum. "Tapi kami akan mengadukan ke Dewan Pers karena kami pikir forum ini yang paling tepat untuk menyelesaikan masalah ini," ujarnya.

http://www.tempointeraktif.com

 

 
Dec 01 2010
Thilo Sarrazin dan Islamofobia (II) PDF Print E-mail
Wednesday, 01 December 2010

Ahmad Syafii Maarif

Agar fair, sebelum kita lanjutkan, pertanyaan ini perlu diajukan: mengapa masih saja banyak Muslim harus menyabung nyawa di negeri orang? Salah satu jawabannya ternyata sangat getir: banyak penguasa dan elite Muslim di berbagai negara memang tidak peduli dengan nasib rakyatnya. Di samping itu, korupsi dibiarkan merajalela. Indonesia termasuk dalam kawasan gelap itu. TKI kita banyak yang menjadi budak di negeri orang, sementara lapangan kerja di sini memang tidak tersedia buat mereka. Selain itu, banyak di negeri Muslim apa yang yang disebut sebagai prinsip kebebasan mengeluarkan pendapat tidak dijamin, terlebih di Arab Saudi. Indonesia, dalam hal ini, termasuk negara yang maju sekalipun tujuan demokrasinya berupa kesejahteraan untuk semua malah semakin menjauh.

Islamofobia Sarrazin juga punya banyak pendukung di Jerman. Ketika Sarrazin diminta mundur dari Deutsche Bundesbank (tempat ia bekerja) sebagai ekor dari karya tulisnya yang kontroversial itu, protes pembelaan pun berdatangan. Sarrazin memang mendapatkan tekanan masif, termasuk dari kalangan perbankan karena gagasannya yang rasis dapat merugikan dunia perbankan. Para pejabat bank itu bernapas lega setelah salah seorang stafnya, yaitu Sarrazin, dibebastugaskan, sesuatu yang tidak berlaku selama 50 tahun dalam sejarah bank itu.

Dalam Spiegel online (9 Oktober 2010) terbaca bahwa Sarrazin sejak Mei 2009 memulai kariernya di Bundesbank dan semestinya baru akan berakhir tahun 2014. Sebelumnya, ia pernah bekerja di bidang keuangan di Kota Berlin. Di sini pun ia memicu kontroversi karena dinilai menghina orang miskin yang biasa menerima jaminan sosial Jerman. SPD (Social Democratic Party) tampaknya juga akan mencabut keanggotaan Sarrazin karena dianggap terlalu ekstrem dalam berpendapat sekalipun survei mengatakan banyak rakyat biasa Jerman mendukung gagasan-gagasan provokatifnya. 

 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Results 73 - 81 of 277

Bigasoft AVI Converter
Bigasoft DVD to Zune Converter
Autodesk AutoCAD Electrical 2012
JGsoft PowerGREP 4.1
Adobe Photoshop Elements 9 MAC
Lynda Creating a First Web Site with Dreamweaver CS5
Joboshare iPhone Video Converter
CopyPaste Pro MAC
Microsoft Office Publisher 2007
Bigasoft MKV Converter
Adobe Creative Suite 5.5 Web Premium Student & Teacher Edition MAC
Lynda 3ds Max 2011 New Features
Lynda ColdFusion 9 AJAX Controls and Techniques