Jan
17
2011
|
Rohaniwan Diminta Tunda Dulu Temui SBY |
|
|
|
|
Monday, 17 January 2011 |
|
VIVAnews - Para tokoh lintas agama yang diundang untuk
berdialog dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) diminta untuk
jangan dulu memenuhi undangan itu. Mereka harus fokus dalam gerakan
pencanangan tahun 2011 sebagai tahun perlawanan terhadap Kebohongan.
Demikian
menurut lembaga MAARIF Institute. "Saya pikir para tokoh agama ini
masih butuh waktu untuk menyerap aspirasi publik terkait data-data
kebohongan pemerintah," ujar Fajar Riza Ul Haq, Direktur Eksekutif
MAARIF Institute, dalam pernyataan kepada VIVAnews, Minggu 16 Januari 2011.
"Ada
saat yang lebih tepat bagi para tokoh agama untuk menyampaikan langsung
kepada pemerintah jika dirasa data-data dari publik sudah
terinventarisasi", lanjut Fajar.
Presiden mengundang sejumlah
tokoh agama ke Istana Negara, Senin 17 Januari 2010. Di antara tokoh
yang diundang adalah mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Syafii Maarif
dan Ketua Perhimpunan Gereja Indonesia, Andreas Yewangoe.
"Tetapi
saya tidak bisa datang karena ada acara lain," kata Maarif saat
dikonfirmasi VIVAnews perihal undangan SBY itu, Minggu 16 Januari 2010.
Menurut
Fajar, sikap untuk menunda pertemuan tokoh lintas agama dengan SBY
bukan berarti mengabaikan dialog. Dialog membutuhkan keseriusan dari
kedua belah pihak, bukan semata menyelamatkan citra.
|
|
Jan
15
2011
|
Tarmudi, Wong Cilik yang Masih Berdoa |
|
|
|
|
Saturday, 15 January 2011 |
|
Ahmad Syafii Maarif
Kompas, Sabtu, 15 Januari 2011
Sabtu pagi, pada hari Natal, 25 Desember 2010, di perumahan Nogotirto Elok 2, Yogyakarta.
Ketika
saya lagi istirahat dari olahraga sepeda di sebuah pos ronda, dari
jarak yang tidak jauh terdengar suara penjaja barang dagangan bernama
Tarmudi (54): ”Keset, sapu, sulak.”
Saat mendekati pos ronda, Tarmudi saya tanya, ”Apakah ada keset yang bagus?”
Dijawab,
ada dua jenis, harga Rp 5.000 dan Rp 8.000 yang terbaik. Saya membeli
keset dan membayar Rp 10.000, kelebihannya yang Rp 2.000 tidak perlu
dikembalikan. Rute perjalanan Tarmudi adalah ini: berangkat pagi dengan
bus dari Muntilan ke Terminal Jombor (Sleman). Pulang sore dari Terminal
Giwangan (Yogyakarta) ke Muntilan.
Saya tak bertanya sudah
berapa lama kerja keras serupa ini dijalaninya. Boleh jadi sudah
tahunan. Dalam dialog singkat itu juga tak sempat saya ketahui apakah
rumahnya diguyur lahar Merapi, panas atau dingin, yang sempat membuat
Muntilan kota mati. Beban berat harus dibawanya. ”Demi mencari makan,”
ujarnya, sambil meraba perut.
|
|
Jan
12
2011
|
Gilad Atzmon tentang Milton Friedman (I) |
|
|
|
|
Wednesday, 12 January 2011 |
|
Ahmad Syafii Maarif
Siapa yang tak kenal pada
Milton Friedman (31 Juli 1912-16 Nov 2006), ekonom Amerika tersohor,
kelahiran New York City, tokoh the Chicago School of Economics, pemenang
Hadiah Nobel dalam bidang ekonomi tahun 1976. Friedman adalah pembela
utama doktrin pasar bebas sebagai bagian menyatu dengan kapitalisme
keras, di mana campur tangan pemerintah tidak dikehendaki. Kemerdekaan
individu yang hampir tanpa batas merupakan prinsip yang selalu dibela
oleh penganut sistem pasar bebas ini. Jika krisis ekonomi di Amerika
baru-baru ini tidak terjadi, mungkin kritik terhadap sistem pasar bebas
yang mati-matian diteorikan Friedman belum tentu akan begitu mengheboh
seperti sekarang ini.
Sebagai ekonom, Friedman dengan
karya-karyanya telah lama menjadi rujukan dunia. Tetapi, sebagai
pendukung Zionisme yang bersemangat dan sangat bangga sebagai seorang
Yahudi, tidak banyak di antara kita, khususnya saya, yang mengenalnya
lebih dalam. Di sinilah pentingnya artikel yang dikirim via e-mail oleh
Gilad Atzmon, tertanggal 3 Januari 2011 yang masuk ke komputer saya
empat hari yang lalu. Artikel itu berjudul: “Milton Friedman's
'Capitalism and Jews' Revisited.” Resonansi ini sebagian bersumber dari
artikel itu, sedangkan sebagian yang lain diolah dari berbagai sumber
via internet.
Sebagaimana telah berulang saya tulis di kolom
ini, Gilad Atzmon, sejak beberapa tahun yang lalu telah tampil sebagai
pejuang anti-Zionisme, sebenarnya adalah cucu pemimpin teror Zionis yang
pada 1948 telah turut membinasakan rakyat Palestina. Setelah siuman dan
hijrah ke London, Gilad melalui musik jazz dan puluhan artikel yang
disebarkannya ke berbagai alamat di seluruh dunia, kini berjuang tanpa
takut dan tanpa lelah untuk menjelaskan tentang kebiadaban Zionisme
sebagai musuh kemanusiaan.
|
|
Last Updated ( Tuesday, 31 May 2011 )
|
|
Jan
11
2011
|
2011 sebagai Tahun Anti Pengkhianatan |
|
|
|
|
Tuesday, 11 January 2011 |
|
Agama adalah sumber ajaran moral yang berkewajiban mendorong perbaikan sebuah bangsa. Kira-kira semangat ini yang melatarbelakangi pertemuan tokoh lintas agama dalam kondisi Indonesia yang semakin terpuruk ini. Senin (10/1) di Gedung Dakwah PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, para tokoh lintas agama bersama sederet tokoh-tokoh muda, seperti Effendy Ghazali, Fajar Riza Ul Haq, Yudhi Latif, Romo Benny Susetyo, Ray Rangkuti mencanangkan tahun 2011 sebagai tahun perlawanan terhadap kebohongan. Dalam acara siang itu turut hadir pula para aktivis LSM, akademisi dan jurnalis, baik media cetak atau elektronik. Menurut Effendy Ghazali, selaku moderator, agenda ini bertujuan untuk menyampaikan tuntutan agar pemerintah tidak membohongi publik dengan berbagai janji yang sering tidak dipenuhi. Tuntutan tersebut tertuang dalam pernyataan publik yang disampaikan oleh Romo Benny Susetyo, dengan tajuk “Tahun 2011, Tahun Pencanangan Perlawanan Terhadap Kebohongan; Pengkhianatan Harus Segera Dihentikan”. Dalam kesempatan itu, segenap tokoh yang hadir menyampaikan sembilan fakta kebohongan lama dan Sembilan fakta kebohongan baru rejim SBY.
Tokoh lintas agama, yang terdiri dari Ahmad Syafii Maarif, Pdt. Andreas A Yewangoe, Din Syamsuddin, Djohan Effendi, Mgr. D Situmorang, Bikkhu Pannyavaro, Shalahuddin Wahid, I Nyoman Udayana Sangging, Franz Magnis Suzeno, dengan cukup tegas menyampaikan kritik pada pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dalam penilaian tokoh-tokoh agama tersebut, rezim SBY banyak melakukan kebohongan dengan mengumbar janji-janji perbaikan, padahal faktanya janji-janji tersebut tidak pernah dipenuhi. |
|
Jan
11
2011
|
Pernyataan Terbuka Tokoh-tokoh Lintas Agama |
|
|
|
|
Tuesday, 11 January 2011 |
|
Sebagai negara kepulauan terbesar di muka bumi dengan anak suku bangsa dan tradisi yang beragam dan sangat kompleks, sudah sepantasnya kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Adil karena masih bisa bertahan dalam sebuah keutuhan entitas negara-bangsa. 66 tahun sudah bangsa ini menyatakan kemerdekaanya sejak dikumandangkan pada 17 Agustus 1945. Dalam Mukaddimah UUD 1945, cita-cita kemerdekaan bangsa ini telah sangat jelas tersurat; merdeka yang sebenar-benarnya dengan mewujudkan keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia.
Namun hingga detik ini, kantong-kantong kemiskinan masih dengan sangat mudah ditemukan di setiap jengkal tanah air. Maraknya pengrusakan lingkungan dan pelanggaran HAM menyebabkan kemiskinan kian akut. Sistem ekonomi neo-liberalisme yang dengan percaya diri dijalankan oleh pemerintah ini ternyata telah gagal meskipun pertumbuhan ekonomi kita mencapai 5,8 persen. Rakyat kecil tidak pernah merasakan keadilan dari pertumbuhan ekonomi yang semu tersebut. Ini sangat jelas berlawanan dengan tuntutan Pasal 33 UUD 1945 (asli).
Karena itu, kami setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa ekonomi Indonesia tidak lagi berada pada jalur UUD. Kecenderungan pasar bebas tanpa kendali dalam sistem ekonomi kita adalah sebuah pengkhianatan terhadap Mukadimah UUD 1945. Hal ini diperburuk oleh sikap pemerintah yang masih mengedepankan pencitraan dan terindikasi berpura-pura (tidak satu antara kata dan perbuatan) dalam menegakkan hukum dan HAM, memberantas korupsi, menjaga lingkungan hidup beserta kekayaan negeri ini. |
|
|