Jurnal Maarif

Volume 6 No 2 Nov 2011

Monday, 19 December 2011 | Administrator

article thumbnail View   
Selengkapnya

Jurnal Sebelumnya

Kliping


 

 

Kliping Magsaysay Award


 

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday180
mod_vvisit_counterYesterday181
mod_vvisit_counterThis week1017
mod_vvisit_counterThis month3576
mod_vvisit_counterAll159007

Berita Media

Syafii Maarif Minta Diskusi Irshad Manji tidak dilarang

Wednesday, 09 May 2012

article thumbnailJAKARTA--MICOM: Mantan Ketua PP Muhamadiyah Syafii Maarif meminta kampus-kampus tetap bebas dan bersikap pluralis terhadap diskusi mengenai buku Irshad Manji. Menurutnya,...
Selengkapnya

Syafii Maarif: Seharusnya konstitusi membimbing

Wednesday, 09 May 2012

article thumbnailJakarta (ANTARA News) – Konstitusi seharusnya membimbing perilaku bangsa dalam bidang politik dan ekonomi, kata mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Ahmad Syafii...
Selengkapnya

Home
Jan 17 2011
Rohaniwan Diminta Tunda Dulu Temui SBY PDF Print E-mail
Monday, 17 January 2011

VIVAnews -  Para tokoh lintas agama yang diundang untuk berdialog dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) diminta untuk jangan dulu memenuhi undangan itu. Mereka harus fokus dalam gerakan pencanangan tahun 2011 sebagai tahun perlawanan terhadap Kebohongan.

Demikian menurut lembaga MAARIF Institute. "Saya pikir para tokoh agama ini masih butuh waktu untuk menyerap aspirasi publik terkait data-data kebohongan pemerintah," ujar Fajar Riza Ul Haq, Direktur Eksekutif MAARIF Institute, dalam pernyataan kepada VIVAnews, Minggu 16 Januari 2011.
 
"Ada saat yang lebih tepat bagi para tokoh agama untuk menyampaikan langsung kepada pemerintah jika dirasa data-data dari publik sudah terinventarisasi", lanjut Fajar.

Presiden mengundang sejumlah tokoh agama ke Istana Negara, Senin 17 Januari 2010. Di antara tokoh yang diundang adalah mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Syafii Maarif dan Ketua Perhimpunan Gereja Indonesia, Andreas Yewangoe.

"Tetapi saya tidak bisa datang karena ada acara lain," kata Maarif saat dikonfirmasi VIVAnews perihal undangan SBY itu, Minggu 16 Januari 2010.

Menurut Fajar, sikap untuk menunda pertemuan tokoh lintas agama dengan SBY bukan berarti mengabaikan dialog. Dialog membutuhkan keseriusan dari kedua belah pihak, bukan semata menyelamatkan citra.
 

 
Jan 15 2011
Tarmudi, Wong Cilik yang Masih Berdoa PDF Print E-mail
Saturday, 15 January 2011

Ahmad Syafii Maarif

Kompas, Sabtu, 15 Januari 2011 

Sabtu pagi, pada hari Natal, 25 Desember 2010, di perumahan Nogotirto Elok 2, Yogyakarta.

Ketika saya lagi istirahat dari olahraga sepeda di sebuah pos ronda, dari jarak yang tidak jauh terdengar suara penjaja barang dagangan bernama Tarmudi (54): ”Keset, sapu, sulak.”

Saat mendekati pos ronda, Tarmudi saya tanya, ”Apakah ada keset yang bagus?”

Dijawab, ada dua jenis, harga Rp 5.000 dan Rp 8.000 yang terbaik. Saya membeli keset dan membayar Rp 10.000, kelebihannya yang Rp 2.000 tidak perlu dikembalikan. Rute perjalanan Tarmudi adalah ini: berangkat pagi dengan bus dari Muntilan ke Terminal Jombor (Sleman). Pulang sore dari Terminal Giwangan (Yogyakarta) ke Muntilan.

Saya tak bertanya sudah berapa lama kerja keras serupa ini dijalaninya. Boleh jadi sudah tahunan. Dalam dialog singkat itu juga tak sempat saya ketahui apakah rumahnya diguyur lahar Merapi, panas atau dingin, yang sempat membuat Muntilan kota mati. Beban berat harus dibawanya. ”Demi mencari makan,” ujarnya, sambil meraba perut.

 

 
Jan 12 2011
Gilad Atzmon tentang Milton Friedman (I) PDF Print E-mail
Wednesday, 12 January 2011

Ahmad Syafii Maarif

Siapa yang tak kenal pada Milton Friedman (31 Juli 1912-16 Nov 2006), ekonom Amerika tersohor, kelahiran New York City, tokoh the Chicago School of Economics, pemenang Hadiah Nobel dalam bidang ekonomi tahun 1976. Friedman adalah pembela utama doktrin pasar bebas sebagai bagian menyatu dengan kapitalisme keras, di mana campur tangan pemerintah tidak dikehendaki. Kemerdekaan individu yang hampir tanpa batas merupakan prinsip yang selalu dibela oleh penganut sistem pasar bebas ini. Jika krisis ekonomi di Amerika baru-baru ini tidak terjadi, mungkin kritik terhadap sistem pasar bebas yang mati-matian diteorikan Friedman belum tentu akan begitu mengheboh seperti sekarang ini.

Sebagai ekonom, Friedman dengan karya-karyanya telah lama menjadi rujukan dunia. Tetapi, sebagai pendukung Zionisme yang bersemangat dan sangat bangga sebagai seorang Yahudi, tidak banyak di antara kita, khususnya saya, yang mengenalnya lebih dalam. Di sinilah pentingnya artikel yang dikirim via e-mail oleh Gilad Atzmon, tertanggal 3 Januari 2011 yang masuk ke komputer saya empat hari yang lalu. Artikel itu berjudul: “Milton Friedman's 'Capitalism and Jews' Revisited.” Resonansi ini sebagian bersumber dari artikel itu, sedangkan sebagian yang lain diolah dari berbagai sumber via internet.

Sebagaimana telah berulang saya tulis di kolom ini, Gilad Atzmon, sejak beberapa tahun yang lalu telah tampil sebagai pejuang anti-Zionisme, sebenarnya adalah cucu pemimpin teror Zionis yang pada 1948 telah turut membinasakan rakyat Palestina. Setelah siuman dan hijrah ke London, Gilad melalui musik jazz dan puluhan artikel yang disebarkannya ke berbagai alamat di seluruh dunia, kini berjuang tanpa takut dan tanpa lelah untuk menjelaskan tentang kebiadaban Zionisme sebagai musuh kemanusiaan. 
 

Last Updated ( Tuesday, 31 May 2011 )
 
Jan 11 2011
2011 sebagai Tahun Anti Pengkhianatan PDF Print E-mail
Tuesday, 11 January 2011

Agama adalah sumber ajaran moral yang berkewajiban mendorong perbaikan sebuah bangsa. Kira-kira semangat ini yang melatarbelakangi pertemuan tokoh lintas agama dalam kondisi Indonesia yang semakin terpuruk ini. Senin (10/1) di Gedung Dakwah PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, para tokoh lintas agama bersama sederet tokoh-tokoh muda, seperti Effendy Ghazali, Fajar Riza Ul Haq, Yudhi Latif, Romo Benny Susetyo, Ray Rangkuti mencanangkan tahun 2011 sebagai tahun perlawanan terhadap kebohongan. Dalam acara siang itu turut hadir pula para aktivis LSM, akademisi dan jurnalis, baik media cetak atau elektronik. Menurut Effendy Ghazali, selaku moderator, agenda ini bertujuan untuk menyampaikan tuntutan agar pemerintah tidak membohongi publik dengan berbagai janji yang sering tidak dipenuhi. Tuntutan tersebut tertuang dalam pernyataan publik yang disampaikan oleh Romo Benny Susetyo, dengan tajuk “Tahun 2011, Tahun Pencanangan Perlawanan Terhadap Kebohongan; Pengkhianatan Harus Segera Dihentikan”. Dalam kesempatan itu, segenap tokoh yang hadir menyampaikan sembilan fakta kebohongan lama dan Sembilan fakta kebohongan baru rejim SBY.

Tokoh lintas agama, yang terdiri dari Ahmad Syafii Maarif, Pdt. Andreas A Yewangoe, Din Syamsuddin, Djohan Effendi, Mgr. D Situmorang, Bikkhu Pannyavaro, Shalahuddin Wahid, I Nyoman Udayana Sangging, Franz Magnis Suzeno, dengan cukup tegas menyampaikan kritik pada pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dalam penilaian tokoh-tokoh agama tersebut, rezim SBY banyak melakukan kebohongan dengan mengumbar janji-janji perbaikan, padahal faktanya janji-janji tersebut tidak pernah dipenuhi. 

 
Jan 11 2011
Pernyataan Terbuka Tokoh-tokoh Lintas Agama PDF Print E-mail
Tuesday, 11 January 2011

Sebagai negara kepulauan terbesar di muka bumi dengan anak suku bangsa dan tradisi yang beragam dan sangat kompleks, sudah sepantasnya kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Adil karena masih bisa bertahan dalam sebuah keutuhan entitas negara-bangsa. 66 tahun sudah bangsa ini menyatakan kemerdekaanya sejak dikumandangkan pada 17 Agustus 1945. Dalam Mukaddimah UUD 1945, cita-cita kemerdekaan bangsa ini telah sangat jelas tersurat; merdeka yang sebenar-benarnya dengan mewujudkan keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia.
Namun hingga detik ini, kantong-kantong kemiskinan masih dengan sangat mudah ditemukan di setiap jengkal tanah air. Maraknya pengrusakan lingkungan dan pelanggaran HAM menyebabkan kemiskinan kian akut. Sistem ekonomi neo-liberalisme yang dengan percaya diri dijalankan oleh pemerintah ini ternyata telah gagal meskipun pertumbuhan ekonomi kita mencapai 5,8 persen. Rakyat kecil tidak pernah merasakan keadilan dari pertumbuhan ekonomi yang semu tersebut. Ini sangat jelas berlawanan dengan tuntutan  Pasal 33 UUD 1945 (asli).
Karena itu, kami setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa ekonomi Indonesia tidak lagi berada pada jalur UUD. Kecenderungan pasar bebas tanpa kendali dalam sistem ekonomi kita adalah sebuah pengkhianatan terhadap Mukadimah UUD 1945. Hal ini diperburuk oleh sikap pemerintah yang masih mengedepankan pencitraan dan terindikasi berpura-pura (tidak satu antara kata dan perbuatan) dalam menegakkan hukum dan HAM, memberantas korupsi, menjaga lingkungan hidup beserta kekayaan negeri ini.

 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Results 64 - 72 of 277

Personal Finances MAC
Altova Authentic 2011
AD Sound Recorder
SpamSieve MAC
Ace Utilities 64 Bit
Adobe InCopy CS5 Student and Teacher Edition MAC
Lynda Dreamweaver CS5 Essential Training
Microsoft Office Home and Student 2010 32 Bit
Microsoft Office OneNote 2007
Joboshare DVD to PSP Converter