Jurnal Maarif

Volume 6 No 2 Nov 2011

Monday, 19 December 2011 | Administrator

article thumbnail View   
Selengkapnya

Jurnal Sebelumnya

Kliping


 

 

Kliping Magsaysay Award


 

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday180
mod_vvisit_counterYesterday181
mod_vvisit_counterThis week1017
mod_vvisit_counterThis month3576
mod_vvisit_counterAll159007

Berita Media

Syafii Maarif Minta Diskusi Irshad Manji tidak dilarang

Wednesday, 09 May 2012

article thumbnailJAKARTA--MICOM: Mantan Ketua PP Muhamadiyah Syafii Maarif meminta kampus-kampus tetap bebas dan bersikap pluralis terhadap diskusi mengenai buku Irshad Manji. Menurutnya,...
Selengkapnya

Syafii Maarif: Seharusnya konstitusi membimbing

Wednesday, 09 May 2012

article thumbnailJakarta (ANTARA News) – Konstitusi seharusnya membimbing perilaku bangsa dalam bidang politik dan ekonomi, kata mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Ahmad Syafii...
Selengkapnya

Home
Mar 08 2011
Kekuasaan Itu Bak Meneguk Air Laut PDF Print E-mail
Tuesday, 08 March 2011

Oleh   Ahmad Syafii Maarif

Selengkapnya judul di atas berbunyi: "Kekuasaan itu bak meneguk air laut, semakin diteguk semakin dahaga." Bertrand Russell pada bagian akhir bukunya tentang Power/Kekuasaan (New York: WW Norton&Company, 1969, hlm 273) di bawah topik "The Taming of Power" mempunyai ilustrasi yang menarik tentang penguasa yang menindas.

Alkisah, tersebutlah filsuf Cina Kongfuzi/Konfusius (551-479 SM) saat melintasi sisi Gunung Thai menemui seorang perempuan, yang sedang menangis dengan pahit di dekat sebuah kuburan. Guru ini maju bergegas mendekatinya. Lalu, dikirimlah Tze Lu untuk menyapa perempuan itu.

"Ratapanmu", tanya Tze Lu, "Apakah karena seseorang  yang ditimpa kesusahan demi kesusahan." Jawab perempuan itu, "Ya demikianlah. Dulu ayah suami saya dibunuh di sini oleh seekor harimau. Suami saya pun juga terbunuh, dan sekarang anak laki-laki saya mati dengan cara serupa."

Sang Guru bertutur, "Mengapa engkau tidak meninggalkan tempat ini?" Jawaban yang ke luar adalah, "Di sini tidak ada pemerintah penindas." Sang Guru kemudian berwasiat, "Ingat ini, anak-anakku: pemerintah penindas lebih mengerikan dari harimau."

Last Updated ( Tuesday, 31 May 2011 )
 
Mar 01 2011
Al-Qadzdzafi, Mengapa Begini? PDF Print E-mail
Tuesday, 01 March 2011

Oleh Ahmad Syafii Maarif

Mungkin Anda mengira saya senang menulis tentang tokoh ini? Tidak sama sekali. Perasaan saya sangat getir dan luka bercampur marah, mengapa Qadafi (Mu'ammar al-Qadzdzafi) kehilangan akal sehat dengan membunuh ratusan rakyatnya sendiri, padahal dia sudah berkuasa sejak 1 September 1969 melalui sebuah kudeta militer terhadap Raja Idris. Sejak itu, kekuasaannya berlangsung tanpa ada yang berhasil melawannya, sampai meledaknya Revolusi Rakyat pada 17 Februari 2011, atau disebut juga sebagai Revolusi 17 Februari.

Tak seorang pengamat pun yang berpendapat bahwa Qadafi akan bisa bertahan. Kekuasaan otoritariannya yang berlangsung demikian lama pasti tumbang. Anaknya Saif al-Islam yang ingin berkompromi dengan rakyat yang sedang melawan ayahnya boleh jadi akan berujung dengan sebuah kesia-siaan. Sudah sangat terlambat. Saya pernah pula bertemu dengan Saif al-Islam ini di sebuah hotel di Jakarta beberapa tahun yang lalu.

Mengapa kegetiran dan kemarahan menguasai batin saya setelah mengikuti drama maut yang menimpa rakyat Libya? Cerita di bawah ini akan sedikit menjelaskan. Setidak-tidaknya tiga kali saya menemui Qadafi untuk berbagai kepentingan selama 13 tahun terakhir. Pertama, mendampingi Ketua PP Muhammadiyah Dr M Amien Rais di akhir 1998. Kami diterima di tendanya dengan digelar karpet merah sebagai tamu terhormat. 

Last Updated ( Tuesday, 31 May 2011 )
 
Feb 22 2011
Revolusi Tahrir dan Demokrasi PDF Print E-mail
Tuesday, 22 February 2011

Oleh Ahmad Syafii Maarif
   
Salah satu tuntutan utama Revolusi Tahrir di Mesir ialah ditegakkannya prinsip-prinsip demokrasi. Salah satunya adalah hak kebebasan mengeluarkan pendapat yang dijamin negara. Ini adalah sesuatu yang hilang selama puluhan tahun. Kelompok Ikhwan yang dilarang selama ini, tetapi tetap hidup dan bergerak secara diam-diam dengan organisasi yang rapi, juga menginginkan tegaknya demokrasi di Mesir.

Dengan demikian, sistem demokrasi sudah menjadi kehendak sebagian besar rakyat Mesir, kecuali faksi minoritas HI (Hizbut Tahrir), yang menganggapnya sebagai sistem kafir yang harus ditentang karena berlawanan dengan sistem khilafah yang mereka anut dan perjuangkan.

Orang boleh saja berdebat tentang demokrasi dalam kaitannya dengan Islam, tetapi dengan segala kelemahan sistem ini, seorang warga negara tidak mungkin terjamin hak-haknya secara penuh, kecuali dalam kultur demokrasi.

Siapa mengira sebelumnya bahwa pada awal dasawarsa kedua abad ke-21, bumi Afrika Utara digoncang oleh demonstrasi lautan manusia dengan tujuan tunggal: mengakhiri sistem otoritarian yang membelenggu kebebasan warga. Dimulai dari Tunisia, melebar ke Mesir, kemudian entah ke mana lagi. Sistem demokrasi sedang menjadi tuntutan publik untuk dilaksanakan.

 

Last Updated ( Tuesday, 31 May 2011 )
 
Feb 09 2011
Agar Revolusi Tahrir itu Tidak Menjalar ke Indonesia PDF Print E-mail
Wednesday, 09 February 2011

Ahmad Syafii Maarif

Presiden Tunisia yang korup telah terguling pertengahan bulan yang lalu. Kini diikuti oleh rakyat negara-negara Arab lainnya berunjuk rasa, dan yang terhebat adalah Mesir. Negeri pramida berperadaban tua ini tampaknya sudah berada pada titik point of no return untuk melakukan transformasi politik secara radikal. Lihatlah lautan manusia di alun-alun Tahrir berdesak-desakan dengan tuntutan tunggal: pembebasan dari cengkeraman Presiden Husni Mubarak. Sudah ratusan yang mati, tetapi sang presiden masih berupaya untuk menyelamatkan rezimnya dengan berbagai cara. Sekutu Amerika, Inggris, dan Israel itu kini dihadapkan pada realitas keras dan pahit: rakyat menuntutnya agar meninggalkan istana yang telah ditempatinya hampir tiga dasawarsa.

Selama berkuasa, Mubarak menggunakan tangan besi terhadap lawan-lawan politiknya, entah berapa yang ditangkap, entah berapa pula yang terbunuh, kita tidak punya data kuantitatif. Sekiranya tangan besi digunakan untuk kemakmuran rakyatnya, sekalipun kebebasan ditindas, mungkin Mubarak tidak perlu dihina rakyatnya sendiri. Sebab, ada sesuatu yang fundamental yang dapat dibanggakannya: rakyat tidak lapar. Sayang Mubarak tidak belajar pada Presiden Soeharto yang pernah diberi gelar Bapak Pembangunan, karena memang punya prestasi untuk memakmurkan rakyatnya, sekalipun kemudian berantakan kembali.

Soeharto dan Mubarak sama-sama menjadi sekutu Amerika. Di bawah Soeharto perusahaan-perusahaan Amerika di Indonesia telah mengeruk keuntungan yang luar biasa, terutama di sektor pertambangan dan jasa. Kemudian, 13 tahun sepeninggal Soeharto, bangsa ini masih belum bisa melepaskan diri dari cengkeraman kekuatan neo-imperialisme itu. Bukankah prahara BLBI berlaku karena mengikuti perintah Washington via IMF? Memang, posisi sebuah negara tergantung akan sangat sulit mengangkat muka di depan "induk semangnya." Di dalam negeri, seolah-olah berdaulat, tetapi dalam masalah-masalah yang menyangkut luar negeri, sebagian kedaulatan itu telah lama terlepas.

Last Updated ( Tuesday, 31 May 2011 )
 
Feb 08 2011
Main Api Terbakar PDF Print E-mail
Tuesday, 08 February 2011

Ahmad Syafii Maarif

Kultur buram menyandera kita. Peribahasa Melayu itu selengkapnya berbunyi: ”Main api terbakar, main air basah”. Artinya, setiap perbuatan yang menyerempet bahaya atau perbuatan kotor, si pelaku harus berani menanggung risikonya, jangan dipikulkan ke atas pundak orang lain.

Peribahasa ini akan saya pakai sebagai pisau pembedah tentang karut-marutnya kultur Indonesia mutakhir di ranah politik kekuasaan, ekonomi, hukum, dan moral. Keempat ranah ini sudah bertali berkelindan sehingga amat sulit memisahkannya. Satu sama lain saling menempel dan mungkin sudah saling berselingkuh. Politik punya tujuan ekonomi, sebaliknya ekonomi perlu payung politik. Di antara keduanya posisi hukum diperlemah dan diperdagangkan. Pertimbangan moral sudah lama menguap, entah ke mana.

Harus ada jalan ke luar

Karena kondisi moral bangsa sudah demikian rapuh dan pengap, kelakuan mereka yang mengaku beragama atau yang tak hirau dengan agama sudah tidak bisa dibedakan lagi. Itulah kultur buram Indonesia sekarang yang dapat kita amati dengan gampang siang dan malam melalui berbagai media cetak, elektronik, dan dalam pembicaraan di mana-mana, di kota dan di kampung.

 

 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Results 55 - 63 of 277

Adobe Illustrator CS5
Ice Pattern MAC
Bigasoft iPhone Ringtone Maker
Lynda Soundbooth CS5 Essential Training
Lynda Excel 2010 New Features
Lynda Photoshop CS5 for Photographers
Autodesk AutoCAD Civil 3D 2011
Lynda Illustrator CS5 New Features
Lynda Photoshop CS4 for Photographers Creative Color
Bigasoft DVD to iPod Converter
Adobe Contribute CS4
Sony DVD Architect Studio 5
Adobe InCopy CS4 for Mac
Microsoft Office Small Business 2007