Jurnal Maarif

Volume 6 No 2 Nov 2011

Monday, 19 December 2011 | Administrator

article thumbnail View   
Selengkapnya

Jurnal Sebelumnya

Kliping


 

 

Kliping Magsaysay Award


 

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday179
mod_vvisit_counterYesterday181
mod_vvisit_counterThis week1016
mod_vvisit_counterThis month3575
mod_vvisit_counterAll159006

Berita Media

Syafii Maarif Minta Diskusi Irshad Manji tidak dilarang

Wednesday, 09 May 2012

article thumbnailJAKARTA--MICOM: Mantan Ketua PP Muhamadiyah Syafii Maarif meminta kampus-kampus tetap bebas dan bersikap pluralis terhadap diskusi mengenai buku Irshad Manji. Menurutnya,...
Selengkapnya

Syafii Maarif: Seharusnya konstitusi membimbing

Wednesday, 09 May 2012

article thumbnailJakarta (ANTARA News) – Konstitusi seharusnya membimbing perilaku bangsa dalam bidang politik dan ekonomi, kata mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Ahmad Syafii...
Selengkapnya

Home
May 03 2011
PAK NUH DAN PAK SURYADHARMA PERLU CEPAT TURUN TANGAN PDF Print E-mail
Tuesday, 03 May 2011

Oleh : Ahmad Syafii Maarif

   Kalau orang mengatakan bahwa hidup di Indonesia semakin hari semakin tidak aman dan tidak nyaman, terutama bagi rakyat jelata dapat dibenarkan, karena faktanya memang berbicara demikian. Ada bom bunuh diri yang telah berlaku berkali-kali di berbagai tempat. Jika bom hanya untuk membunuh diri sendiri, mungkin dampak buruknya tidak akan bersifat eskalatif. Tetapi yang mengerikan adalah perbuatan bom bunuh diri sambil membunuh orang lain, tidak jarang dalam jumlah besar, seperti bom Bali.
      Minggu-minggu terakhir ini masyarakat dikejutkan lagi oleh gerakan NII (Negara Islam Indonesia) yang beroperasi di kampus-kampus PT (Perguruan Tinggi) negeri dan swasta. Korbannya sudah banyak. Tidak saja dilakukan melalui proses cuci otak, juga hartanya diperas. Orang tua tidak berdaya memantau anomali prilaku anaknya dari kejauhan. Polisi pun jelas akan kelabakan menanggulangi gerakan kuasi-ideologis ini.

Last Updated ( Tuesday, 31 May 2011 )
 
Apr 26 2011
100 Tahun Sjafruddin Prawiranegara (28 Februari 1911-15 Februari 1989) PDF Print E-mail
Tuesday, 26 April 2011

Oleh Ahmad Syafii Maarif

Awal tahun 2011, telah dibentuk Panitia 100 Tahun SP (Sjafruddin Prawiranegara), diketuai oleh Dr AM Fatwa. Berbagai kegiatan telah diadakan untuk menggali dan menilai peran sentral tokoh ini untuk Indonesia. Dalam tubuhnya, mengalir darah campuran Banten dan Minangkabau. Di antara banyak tokoh Masyumi yang pernah berguru agama kepada HA Salim melalui JIB (Jong Islamieten Bond/Ikatan Pemuda Islam), SP termasuk perkecualian.

Sebutlah misalnya Natsir, Roem, Prawoto, Kasman, Joesoef Wibisono, dan banyak yang lain adalah kader intelektual dan spiritual Salim. SP tampaknya belajar agama secara mandiri, terutama melalui literatur asing, tetapi kekuatan iman dan wawasan keislamannya tidak kalah bila dibandingkan dengan para alumni JIB. Otaknya yang cerdas, pergaulannya yang luas, dan pengalaman birokrasi di bidang keuangan telah mengantarkan tokoh ini ke posisi-posisi penting dan strategis pascaproklamasi.

Ia pernah menduduki berbagai jabatan, seperti  menteri keuangan, menteri kemakmuran, gubernur BI, ketua PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia), dan pimpinan PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) yang berpusat di Sumatra Tengah. PRRI sama sekali bukan gerakan separatis sebagaimana yang dituduhkan oleh sementara pihak, melainkan gerakan korektif atas penyimpangan terhadap UUDS 1950 yang dilakukan oleh Presiden Soekarno. Sebagai gerakan korektif, perannya tentu positif, tetapi pertanyaannya adalah: apakah perlu membentuk pemerintah tandingan yang telah membawa banyak korban nyawa dan harta, khususnya di Sumatra Tengah (ketika itu meliputi Sumatra Barat, Riau, dan Jambi).

Last Updated ( Tuesday, 31 May 2011 )
 
Apr 12 2011
Rosihan Anwar Pascaoperasi Jantung PDF Print E-mail
Tuesday, 12 April 2011

Oleh Ahmad Syafii Maarif

Sudah berjalan delapan tahun saya bergaul dekat dengan wartawan senior H Rosihan Anwar, kelahiran Kubang Nan Duo, Sumbar, pada 10 Mei 1922. Istrinya, Siti Zuraidah Sanawi, telah wafat pada 6 September 2010. Kematian ini cukup mengguncangkan jiwa suaminya untuk beberapa lama, tetapi tidak sampai berbulan-bulan, sebagaimana yang dialami BJ Habibie. Anakanaknya dan para sahabat selalu mengingatkannya agar tidak berlama-lama larut dalam duka. Kematian adalah sebuah misteri yang pasti datang, lambat atau cepat.

Dengan tokoh pers piawai ini saya kenal sudah cukup lama, tetapi kedekatan hati baru setelah sama-sama duduk sebagai anggota AJ (Akademi Jakarta) sejak 2003. Hampir saban bulan kami rapat, baik di bawah ketuanya almarhum Pak Koesnadi Hardjasoemantri maupun di bawah Bung Taufik Abdullah. Saat rapat kami sering duduk berdekatan.

Jika suasana rapat dinilainya agak bertele-tele, tutur yang keluar dari mulutnya adalah kanciang (bahasa Minang) yang tak perlu saya terjemahkan. Atau jika seorang teman berubah perangai setelah diberi posisi penting oleh negara, komentar Pak Rosihan sangat tajam, tetapi menggelikan: “Skrup ubun-ubunnya sudah longgar”. Kultur Minang yang terkenal dengan ceme’eh itu, tampaknya sangat menyatu dengan tokoh kita ini.

Sebagai tamatan AMS (SMA era penjajahan), Pak Rosihan dibekali kemampuan menguasai beberapa bahasa asing yang sampai di usia lanjutnya masih setia dengan dirinya. Ingatannya sungguh kuat seperti terbaca dalam sejibun karya tulisnya. Bahasanya mengalir, enak dibaca, dan sangat informatif.

Last Updated ( Tuesday, 31 May 2011 )
 
Apr 06 2011
BJ Habibie dan Kemandirian Bangsa PDF Print E-mail
Wednesday, 06 April 2011

Oleh Ahmad Syafii Maarif

Cita-cita untuk menjadi bangsa mandiri-sebagai lawan dari bangsa yang bergantung pada bangsa lain-sudah tertanam jauh sebelum Indonesia merdeka. Hampir semua pendiri bangsa ini menginginkan agar cita-cita itu tidak hanya menjadi pepesan kosong. Tetapi, setelah hampir 66 tahun pascaproklamasi, rasanya perjalanan bangsa ini malah semakin jauh saja melenceng dari cita-cita mulia itu.

Indonesia semakin bergantung pada "belas kasihan" bangsa lain. Bung Karno, Bung Hatta, dan 1001 Bung yang lain yang ingin melihat bangsa ini berdaulat penuh, termasuk dalam politik dan ekonomi, telah pergi untuk tidak kembali. Tentu roh mereka menangis menyaksikan kondisi Indonesia yang nyaris tergadai, tetapi sebagian elite kita malah bersorak sorai karena mereka diuntungkan oleh kenyataan demikian itu.

Laporan wartawan Republika, M Ikhsan Shiddieqy, pada 1 Februari 2011 (lihat hlm. 11) tentang pidato Habibie di depan Rapat Dengar Pendapat di Komisi I DPR patut direnungkan kembali. Kalimat pembuka laporan itu sungguh mengilhami banyak orang agar tak menyerah untuk berbuat sesuatu yang bermakna di usia tua. 

Last Updated ( Tuesday, 31 May 2011 )
 
Mar 29 2011
Petualangan Imperialisme Barat Masih Berlanjut PDF Print E-mail
Tuesday, 29 March 2011

Oleh Ahmad Syafii Maarif

Sebenarnya, rakyat di dunia Islam ingin sekali agar penguasa-penguasa korup dan ganas di negaranya masing-masing pada tumbang. Rakyatnya diberi kebebasan sebagai manusia penuh, bukan setengah budak, sebagaimana masih terlihat di beberapa negara Arab. Dipicu oleh drama Tunisia, menjalar ke Mesir, Libya, Yaman, Bahrain, Suriah, Yordan, dan lain-lain, adalah pertanda peringatan keras kepada penguasa mereka: stop kekuasaan korupmu!

Perjuangan untuk merebut kebebasan ini harus dibayar mahal oleh rakyat di kawasan itu. Kita tidak tahu persis berapa ribu yang telah menjadi mayat, demi kebebasan dan keadilan. Sementara itu, sebagian besar penguasanya masih saja merasa benar di jalan yang sesat itu. Di Tunisia dan Mesir, perjuangan pro-demokrasi itu relatif berhasil, penguasa otoritariannya telah tersingkir.

Namun, di negara-negara selain yang dua itu, perlawanan rakyat masih membara, sedangkan penguasanya berdegil, tetap saja ingin bertahan, sekalipun dengan membunuh rakyatnya sendiri. Libya adalah yang paling dramatis. Negara yang kaya minyak itu sudah terbelah. Perang saudara telah meledak.

Tripoli tidak mau kompromi dengan kelompok perlawanan. Peluang ini dimanfaatkan Barat untuk melanjutkan petualangan imperialisme yang tidak pernah puas dan tidak pernah jera. Berlindung di balik Keputusan Dewan Keamanan PBB beberapa hari yang lalu yang menetapkan no fly zone (larangan terbang) bagi pesawat rezim Qadafi, Barat malah menggempur Libya.
 

Last Updated ( Tuesday, 31 May 2011 )
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Results 46 - 54 of 277

RazorSQL MAC
Microsoft Office Home and Business 2010 32 Bit
Adobe Creative Suite 3 Design Premium for Mac
FileMaker Server 9 Advanced for Mac
AVG Internet Security Network Edition 8
MAGIX Music Maker 16 Premium
OverSite MAC
Autodesk AutoCAD Raster Design 2012
Microsoft Expression Studio 4 Ultimate
Audio Editor Gold 8.11
PSP MasterQ MAC
Red Giant Magic Bullet Colorista II