Jun
28
2011
|
Warisan Abul Kalam Azad (2),(11 November 1888-24 Februari 1958) |
|
|
|
|
Tuesday, 28 June 2011 |
|
Oleh Ahmad Syafii Maarif
Saat terjadi perang
saudara yang berdarah-darah antara wilayah barat dan timur Pakistan pada
1971, AKA sudah tidak ada lagi. Sekiranya masih hidup, tentu akan
menangis, sekalipun dalam hati dia merasa benar, agar tidak berpisah
dengan India. Inggris sebagai bekas penjajah India telah meninggalkan
bom waktu dalam bentuk wilayah sengketa Kashmir dengan penduduk
mayoritas Muslim. Sudah berlangsung 64 tahun, sengketa India-Pakistan
tentang Kashmir ini belum juga menemukan titik terang.
Dulu,
saya menumpahkan kesalahan hanya kepada India. Tetapi dengan kondisi
Pakistan sekarang ini, jangan-jangan rakyat Kashmir akan memilih
kemerdekaan jika referendum diadakan. Idola saya Pakistan tempo dulu
kini tinggal kenangan, tetapi saya masih berharap agar negara ini tidak
sampai tersungkur menjadi negara yang benar-benar gagal. Jangan sampai!
Sebagai
negara Islam yang pernah mengilhami kaum Muslim sedunia untuk mengikuti
jejaknya, Pakistan kini sudah tidak bisa dipedomani lagi. Semuanya
berantakan, seperti tak bisa dikendalikan lagi. Jinnah sendiri hanya
sebentar sempat memimpin Pakistan sebagai gubernur jenderal. Karena
serangan tuberkulosis (TB) dalam usia 72 tahun, dia wafat pada 25
Desember 1948. Oleh rakyat Pakistan, Jinnah, kelahiran 11 September
1876, diberi gelar Quaid I'Azam (Pemimpin Besar). Baik AKA maupun Jinnah
adalah tokoh-tokoh puncak Muslim India sebelum perpisahan. |
|
Jun
21
2011
|
Tuesday, 21 June 2011 |
|
Oleh Ahmad Syafii Maarif
11 November 1888-24 Februari 1958 (Bagian 1)
Nama
lengkapnya adalah Maulana Abul Kalam Muhiyuddin Ahmad Azad. Azad adalah
tambahan belakangan sebagai nama penanya yang berarti bebas ( free).
AKA (Abul Kalam Azad) kelahiran Makkah pada 1888, ibunya seorang Arab,
ayahnya punya darah Afghanistan. Dalam usia 13 tahun AKA sudah
dikawinkan dengan seorang gadis bernama Zuleikha Begum.
AKA
adalah seorang pejuang kemerdekaan India bersama Mahatma Gandhi, Nehru,
Patel, dan sederetan nama besar lainnya. Sebagai seorang yang punya otak
brilian, AKA menguasai banyak bahasa: Pasthu, Hindi, Bengali, Arab,
Inggris, Urdu, dan Persi. Abul Kalam berarti Bapak Dialog atau dalam
bahasa Inggris biasa diterje mahkan sebagai Lord of Dialogue. AKA ada
lah juga serorang pakar serbatahu, pe nyair, dan jago debat yang ulung.
Dalam usia 12 tahun AKA ingin menulis tentang al-Ghazali. Artinya dalam
usia kelas 1 SMP itu bacaannya sudah jauh melampaui pengetahuan orang
dewasa terpelajar.
Untuk publik Muslim Indonesia AKA tidak banyak
dikenal, jauh di bawah popularitas Mohammad Ali Jinnah, Muhammad Iqbal,
dan Abul A’la al-Maududi. Padahal, dari sisi ilmu dan wawasan
keislaman, mungkin tandingannya untuk Indonesia adalah H Agus Salim.
Sebelum belajar ke Chicago, saya sendiri adalah pengagum Ali Jinnah,
Iqbal, dan al-Maududi, di samping tokoh-tokoh pemikir Indonesia. AKA
jarang terlintas dalam otak saya. Apalagi di era 1950-an/1960-an, demam
negara Islam untuk Indonesia masih sangat hangat dan menggebu. |
|
Jun
15
2011
|
Sukarnya Membangun Optimisme |
|
|
|
|
Wednesday, 15 June 2011 |
|
Oleh Ahmad Syafii Maarif
Jika ada bangsa dan
negara di muka bumi yang gagal membereskan pekerjaan rumah tangganya,
tidak diragukan lagi salah satunya adalah Indonesia. Jangankan mampu
menangani masalah hukum yang berketiak ular, seorang jenderal membenahi
PSSI saja sudah keteteran. Kongres pertama gagal, kongres kedua ditunda
lagi untuk bulan Juli. Bagaimana jika gagal lagi?
Saya rasa
seekor ayam pun akan menyoraki bangsa yang tak pernah mencapai tingkat
kedewasaan ini, sekalipun sudah merdeka sejak 1945. Saya tidak tahu lagi
ungkapan macam apa lagi yang bisa menyadarkan elite bangsa ini untuk
menyembuhkan kultur muka tebal yang sedang merajalela. Sebuah bangsa
yang sarat dengan retorika pepesan kosong akan sangat susah untuk
dihargai bangsa lain, sebab kita tidak becus membereskan urusan rumah
tangga yang kucar-kacir.
Maka, tidaklah terlalu mencengangkan
jika seorang sastrawan sekaliber Taufiq Ismail dalam bahasa puisinya
pada 2009 bertutur, “Malu (aku) Jadi Orang Indonesia.”
Pada 14 baris pertama bagian ketiga puisi Bung Taufiq itu membeberkan tentang betapa boroknya peta moral di bumi Pancasila ini: |
|
Jun
08
2011
|
Wednesday, 08 June 2011 |
|
Oleh Ahmad Syafii Maarif
Paria bisa berarti
kasta terendah di India, sampah, atau seseorang yang terkucil dari
masyarakat. Kemungkinan Israel menjadi negara paria ajaibnya dilontarkan
oleh Zeev Sternhell (lahir 1935), guru besar sejarah dan politik pada
Universitas Hebrew di Yerusalem. Zeev kelahiran Polandia, hijrah ke
Israel pada usia 16 tahun dengan virus Zionisme yang teramat pekat. Zeev
pernah mengatakan, "I am not only a Zionist, I am a super Zionist." (Saya tidak hanya seorang Zionis, saya seorang super-Zionis).
Sebutan
sebagai negara paria bisa dibaca dalam artikelnya dengan judul
"Netanyahu's Israel is on Course to Become a Pariah State" dalam koran Haaretz, online,
5 Juni 2011. Artikel ini merupakan kritik keras kepada tingkah
Netanyahu karena tetap saja mempertahankan kepala batunya untuk tidak
mau mundur dari wilayah Palestina yang dikuasai usai Perang Juni 1967
antara Arab-Israel. Wilayah itu meliputi Tepi Barat, Jalur Gaza,
Yerusalem Timur.
Pada awal abad ke-21 ini, watak kepala batu
Israel ini sudah sangat menyesakkan napas opini dunia yang tertipu
sekian dasawarsa oleh taktik licik Israel sebagai negara perampok. Jika
seorang super-Zionis sudah melontarkan istilah paria bagi masa depan
Israel, kondisi riilnya memang sudah sangat kritikal.
Dalam
Sidang Umum PBB September 2011, masalah terciptanya negara Palestina
merdeka ini akan diperdebatkan. Diperkirakan sekitar 2/3 anggota PBB
akan mendukung resolusi ini, termasuk beberapa negara Eropa, seperti
Jerman, Inggris, dan Prancis. Dalam Sidang Umum, Amerika tidak punya hak
veto.
|
|
May
31
2011
|
Keruntuhan Moral Elite Politik |
|
|
|
|
Tuesday, 31 May 2011 |
|
Ahmad Syafii Maarif
Pada 26 Mei 2011 pagi, Pak
JEH (Junus Effendi Habibie) telepon saya dan menyampaikan kegusarannya
yang sangat dalam tentang semakin memburuk dan merosotnya moral elite
politik Indonesia. Artinya, masalah penilaian tentang baik dan buruk,
pantas dan tidak pantas, telah semakin longgar dan kabur. Dikatakannya,
jika moral sudah tidak ada, apa lagi yang masih tersisa pada diri
seseorang.
Saya jawab, sudah tidak ada lagi yang tersisa,
kecuali kebobrokan. Contoh yang diberikannya adalah kasus yang menimpa
mantan bendahara umum PD (Partai Demokrat) yang disikapi berbeda oleh
petinggi partai itu. Ada yang masih membela, ada pula yang setuju diberi
sanksi. Sanksi memang sudah dijatuhkan, tetapi masih dihibur dengan
perkataan: dia masih tetap sebagai kader partai.
Kata JEH,
masalah hukum biarlah berjalan sebagaimana mestinya, tetapi masalah
moral dan etika tidak boleh dibiarkan terus meluncur, jika saja elite
partai politik masih punya kepekaan moral. Bila kepekaan itu sudah
menghilang, runtuhlah seluruh bangunan integritas seseorang.
Kepura-puraan dan bermanis bibir sengaja ditampakkan demi menutupi
keborokan moral yang telah menggerogoti konstruksi batinnya.
Sebenarnya,
sekiranya saya tidak menerima telepon di atas, tulisan ini tidak akan
pernah muncul. Tetapi, JEH begitu prihatin tentang masalah moral ini.
Rasanya tidaklah elok saya mendiamkannya untuk kepentingan publik,
sekalipun sebenarnya sudah hampir tak berselera lagi mengomentari
perilaku para elite negeri ini. Retorika sebagai teknik menutup
kenyataan yang busuk dengan berbagai cara seolah-olah telah menjadi
norma keseharian bangsa ini. |
|
Last Updated ( Tuesday, 31 May 2011 )
|
|
|