Aug
23
2011
|
Surat 29 Tokoh Kepada Presiden |
|
|
|
|
Tuesday, 23 August 2011 |
|
Oleh Ahmad Syafii Maarif
Tanggal 20 Agustus
2011, sejumlah tokoh nasional menulis surat kepada Presiden SBY, seperti
berikut: "Kepada Presiden Republik Indonesia, kami memberikan dukungan
keberanian untuk melakukan langkah-langkah aktif dan nyata, menggunakan
kewenangan tertinggi sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan,
serta sebagai pemegang mandat Rakyat Indonesia, untuk melindungi negara
dan warga bangsa:
-Dari serangan balik para koruptor,
-Dari kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada kebutuhan dasar rakyat banyak,
-Dari pemiskinan terstruktur karena penguasaan sumber daya ekonomi oleh segelintir kelompok,
-Dari ketidakpastian hukum dan penegakan hukum yang tidak adil,
-Dari kebijakan-kebijakan pemerintah yang diambil atas dasar kepentingan politik jangka pendek.
Saya ingin mengulas surat terbuka itu sekadarnya saja seperti di bawah ini.
Dua
puluh sembilan penanda tangan surat terbuka itu berasal dari berbagai
lapisan dan lintas generasi, sipil, mantan militer, dan mantan polisi.
Di antara mereka adalah: Bambang Widodo Umar (purn jenderal polisi),
Anies Baswedan (tokoh muda), Faisal Basri (ekonom), Endiartono Sutarto
(mantan panglina TNI), Imam Prasojo (sosiolog), Todong Mulia Lubis
(pengacara senior), Saldi Isra (pakar hukum), Ikrar Nusabakti (LIPI),
Zumrotin K. Susilo (LSM), Teten Masduki (LSM), Zainal Arifin Muchtar
(UGM), dan sederetan nama terkenal lainnya. |
|
Aug
16
2011
|
Peta Moral yang Makin Runyam |
|
|
|
|
Tuesday, 16 August 2011 |
|
Oleh Ahmad Syafi’i Maarif
Ada sebuah kalimat saya yang hampir
saban bertemu diulang menyebutnya oleh mufassir Prof M Quraish Shihab:
“Sekiranya Alquran mengizinkan orang berputus asa, saya sudah putus
asa.” Karena, Alquran melarangnya, maka kita tidak boleh putus harap,
betapapun kondisi moral bangsa belum membaik, bahkan malah semakin
runyam, sementara pejabat sering berlaga pilon. Kelakuan elite politik
dan birokrat terutama semakin sulit dipahami.
Masih sering
berlagak seperti orang bersih, suka bederma, padahal kelakuan busuknya
hampir tiap hari disorot media. Jika demikian kondisinya, di mana rasa
malu? Budaya malu telah lama masuk ke dalam museum sejarah. “Jika budaya
malu sudah hilang maka perbuatlah sekehendak hatimu,” demikian
kira-kira bunyi sebuah kearifian profetik. |
|
Last Updated ( Tuesday, 16 August 2011 )
|
|
Aug
09
2011
|
Islam dan Demokrasi di Indonesia dan Turki (Sebuah Perbandingan) |
|
|
|
|
Tuesday, 09 August 2011 |
|
Ahmad Syafii Maarif
Guru saya almarhum Fazlur
Rahman pernah mengatakan bahwa kebangkitan Islam yang sejati bukan
berasal dari dunia Arab atau Pakistan, tetapi dari Indonesia dan Turki.
Salah satu alasannya adalah karena kedua bangsa ini, di samping
mayoritas penduduknya Muslim, juga tidak terbebani oleh konflik panjang
teologis di kelampauan sejarahnya. Kedua bangsa ini lebih terbuka untuk
menyerap gagasan-gagasan baru yang lebih segar.
Indonesia dengan
penduduk 240 juta (88 persen Muslim) dan Turki 78 juta (97 persen
Muslim) memang merupakan potensi sumber daya manusia yang dahsyat jika
mendapat bimbingan dari para pemimpin yang mencerahkan. Bedanya, bumi
Turki telah melahirkan seorang Recep Tayyip Erdogan, Deng Xiaoping-nya
Turki, yang visioner dan karismatik, sedangkan Indonesia masih menanti
kedatangan pemimpin tipe itu.
Nama Erdogan sekarang sudah sangat
mendunia, tokoh-tokoh partai Islam di Indonesia umumnya jago kandang,
hampir tanpa kecuali. Mereka sibuk dengan diri dan partainya
masing-masing, tak punya waktu untuk melakukan perenungan mendalam
tentang masalah bangsa dalam kaitannya dengan keislaman. |
|
Aug
05
2011
|
Perkawinan Islam dan Demokrasi di Turki |
|
|
|
|
Friday, 05 August 2011 |
|
Oleh Ahmad Syafi’i Maarif
Adalah Celalettin
Yavuz, deputi direktur Pusat Turki untuk Hubungan Internasional dan
Analisis Strategis, yang menjawab pertanyaan Susanne Gusten dari New
York Times (15 Juni 2011), mengapa Erdogan demikian populer di kalangan
rakyat Arab, tidak lain karena keberhasilannya mengawinkan Islam dengan
demokrasi. Sebelumnya, Erdogan sudah menegaskan bahwa Turki di bawah
komandonya akan terus berjuang bagi tegaknya hak-hak rakyat di kawasan
itu untuk keadilan, pemerintahan berdasar kan hukum, kebebasan, dan
demokrasi.
Kemenangan AKP dalam Pemilu 2011, membuka kesempatan
kepada Turki untuk langsung mendekati rakyat di Asia Barat Daya dan
Afrika Utara untuk tujuan reformasi demokrasi dan ekonomi di wilayah
yang penuh gejolak itu. Melalui pendekatan baru ini, tujuan strategis
Ankara adalah dalam rangka membantu segala upaya agar kawasan itu
menjadi makmur yang sekaligus menawarkan peluang bagi pertumbuhan
ekonomi Turki. |
|
|