Nov
03
2011
|
MUHAMMADIYAH PENOPANG INDONESIA? |
|
|
|
|
Thursday, 03 November 2011 |
|
Oleh: Ahmad Syafii Maarif
Sewaktu masih berada di PP Muhammadiyah, kesadaran kebangsaan saya belum setajam seperti sekarang. Semakin banyak saya mengenal dapur republik ini, semakin terluka rasa kebangsaan saya, sementara elite politik seperti tenang-tenang saja, termasuk mungkin elite Muhammadiyah di lembaga-lembaga negara. Kesimpulan sementara adalah: sangat minoritas orang Indonesia yang bisa diajak berfikir jauh ke depan. Sebagian besar larut dalam kultur pragmatisme tunanurani. Teman-teman lintas agama yang masih berupaya memakai bahasa hati seperti tenggelam begitu saja ditelan gelombang kelompok-kelompok yang tunamoral yang terus menerus menggerogoti APBN/APBD. Akibatnya, jika gelombang destruktif ini tidak dihentikan segera, yang tersisa buat Indonesia masa depan hanyalah pepes kosong. Pertanyaannya adalah siapa yang mampu menghentikan? Apa yang disebut masyarakat sipil, Muhammadiyah termasuk di dalamnya, masih dalam kondisi lemah untuk mengubah segala penyimpangan yang tengah berlaku secara ganas dan sistemik. |
|
Nov
01
2011
|
Tuesday, 01 November 2011 |
|
Ahmad Syafii Maarif
Peresensi Paul J Balles menulis: "The
Wandering WHO?" melayari antara pemikiran yang menggusarkan dalam
pengalaman pribadi dan isu-isu yang bercorak sejarah dan filsafat. Dalam
karya inilah Gilad menggali pengalaman-pengalaman awalnya sebagai
seorang Zionis Israel dan kemudian kebangkitannya sebagai seorang
humanis, lanjut Balles. Gilad menulis: "Zionisme bukanlah sebuah gerakan
kolonial yang punya perhatian atas Palestina, sebagaimana pendapat
beberapa sarjana. Pada hakikatnya, Zionisme adalah suatu gerakan global
yang dibakar oleh solidaritas kesukuan yang unik .…"
Balles lalu
mengutip Gilad: "Perampokan dan kebencian termuat dalam ideologi politik
modern Yahudi, baik sayap kanan maupun sayap kiri. Orang Israel
merampok atas nama 'pulang ke rumah,' Yahudi progresif atas nama 'Marx',
dan pembunuh intervensionis moral atas nama 'demokrasi'. Dalam
realitas, orang Israel sebenarnya dikejutkan oleh tindakan kekerasan
yang dilakukannya sendiri." |
|
Oct
25
2011
|
Tuesday, 25 October 2011 |
|
Oleh Ahmad Syafii Maarif
Inilah karya terbaru
Gilad Atzmon yang menggegerkan Zionisme global. Judul lengkapnya, The
Wandering Who? A Study of Jewish Politics Identity (Siapa Tersesat?
Sebuah Kajian tentang Identitas Politik Yahudi). To wander dalam bahasa
Inggris dapat berarti “bergerak/mengembara tanpa arah”; dapat pula
diartikan “mengeluyur” atau “pergi tersesat.” Saya pilih yang terakhir
ini. Karena pengalaman getir selama terpasung dalam lingkaran Zionisme
rasis, Gilad merasa sebagai manusia tersesat sampai ia muncul sebagai
seorang humanis yang terbangunkan kemudian.
Karya ini
direncanakan terbit akhir September 2011 oleh penerbit Zero Books,
tetapi karena ancaman demikian hebat agar jangan muncul dalam format
cetak, maka sampai saat ini (15 Oktober) saya tidak tahu pasti apakah
sudah beredar atau belum. Tetapi, apa isi pokok buku itu sudah beredar
di dunia maya sejak Agustus tahun ini. Saya juga sudah baca beberapa
resensinya, termasuk dari intelektual Yahudi kelas hiu, seperti Richard A
Falk dari Universitas Princeton, Prof Mearsheimer dari Universitas
Chicago. Yang terakhir adalah penulis buku The Israel Lobby and US
Foreign Policy (2007) bersama Prof Stephen M Walt dari Universitas
Harvard. Ketiganya memberi dukungan kepada The Wandering agar segera
diterbitkan.
|
|
Oct
18
2011
|
Ledakan Penduduk Indonesia (II) |
|
|
|
|
Tuesday, 18 October 2011 |
|
Ahmad Syafii Maarif
Laju pertumbuhan penduduk
(LPP) Indonesia berdasarkan sensus penduduk antara tahun 1971-2010
adalah berikut ini: 1971 (119,2 juta), 1980 (147,5 juta), 1990 (179,4
juta), 2000 (205,1 juta), 2010 (237,6 juta). Akhir 2011, seperti
dijelaskan di atas sudah mencapai 241 juta dengan penyebaran yang sangat
pincang. Sebesar 58,8 persen penduduk Indonesia tinggal di Jawa dan
Madura, 21 persen di Sumatra atau sekitar 79,8 persen penduduk Indonesia
diborong oleh Jawa, Madura, dan Sumatera yang luasnya hanyalah 30
persen dari total luas Indonesia.
Di antara kota-kota besar, DKI
menempati peringkat kepadatan penduduk tertinggi, yaitu 13.344 jiwa per
kilometer (km) persegi, diikuti oleh Jawa Barat 1.126 jiwa, dan
Yogyakarta 1.049 jiwa. Jika penyebaran penduduk yang hampir 60 persen
tinggal di Jawa, sebuah pulau yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan
pulau Sumatra, apalagi dengan Kalimantan, maka kita tidak bisa
membayangkan betapa sesak dan ngerinya pulau ini pada 2050. Atau, Jawa
akan berubah menjadi padang pasir yang tandus? |
|
Oct
11
2011
|
Ledakan Penduduk Indonesia (I) |
|
|
|
|
Tuesday, 11 October 2011 |
|
Oleh Ahmad Syafii Maarif
Saya sering mengalami
kesulitan ketika perhatian menyebar ke pelbagai arah: sejarah, politik,
agama, kebudayaan, filsafat, dan demografi. Tetapi, kadang-kadang tidak
bisa mengelak jika di ranah-ranah itu terbaca fenomena penting yang
memang harus diamati.
Lewat radio, saya pernah mendengar bahwa
jika tidak hati-hati In donesia akan menghadapi ledakan penduduk yang
mengancam kelangsungan keberadaan bangsa dan negara ini. Teori Thomas
Robert Malthus pada 1798 telah memprediksi ancaman atas dunia karena
pertumbuhan penduduk yang melaju menurut deret ukur tidak bisa diimbangi
oleh penyediaan pangan yang memadai yang bergerak menurut deret hitung.
Teori
ini juga berlaku untuk Indonesia, ne geri ribuan pulau. Untuk melihat
peta perkembangan jumlah umat manusia jauh sebelum tahun Masehi, ada
baiknya kita turunkan angka-angka di bawah ini yang ber laku untuk
seluruh dunia: |
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>
|
| Results 19 - 27 of 277 |